Langsung ke konten utama

MORAL FUNDAMENTAL: Membina Hati Nurani dari Peristiwa Aktual saat ini "NIKITA VS sang HABIB"

 

Membina Nurani Dari Peristiwa “Nikita VS  sang Habib”

Oleh Sirilus Towa

Abstrak

Kemajuan dunia yang sangat pesat saat ini tentu menghadirkan berbagai macam kemudahan dan masalahnya sendiri. Keterikatan manusia dengan barang materi juga menjadi suatu perhatian khusus dimana terjadi jurang pemisah yang besar antara sesama. Sikap ragu-ragu dalam mengambil keputusan, takut, egois, ambisi, tamak dan haus akan kekuasaan turut hadir untuk membentuk watak dan pribadi manusia bahkan sejak usia dini. Kepekaan, rasa saling memiliki seakan memudar dari peredaraanya di kehidupan bersama. Peran hati nurani kini sudah mulai memudar. Hati nurani adalah seruan dari inti terdalam diri kita untuk mendengar dan melakukan hal yang baik, karena disanala Allah berbicara kepada kita. Untuk itu kita dipanggil untuk mengasah dan mendidik hati nurani kita di tengah dunia saat ini sebab hati nurani yang baik akan membentuk kita menjadi manusia yang baik pula.

 

            Kata kunci: Hati nurani, pribadi, pendidikan.

 

Pengantar

 

Hati nurani berasal dari bahasa Latin “conscentia” dengan akar kata con-scientia. Con berarti “dengan” dan scientia berarti “ilmu pengetahuan”. Menurut KBBI hati nurani adalah hati yang telah mendapat cahaya Tuhan dan perasaan hati yang sedalam-dalamnya. Dalam psikoanalisis, hati nurani adalah Superego, atau komponen etika kepribadian, yang bertindak sebagai hakim dan kritikus seseorang  dalam tindakan dan sikap. Hati nurani juga berarti komponen batin dari kepribadian yang bertindak sebagai menilai dan mengkritik tindakan sendiri dan orang lain sesuai dengan nilai-nilai seseorang[1] dan juga penilaian individu tentang apa yang benar secara moral atau salah, biasanya, tetapi tidak selalu mencerminkan beberapa standar grup untuk yang mana individu merasa terikat.

Dalam dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes hati nurani dirumuskan sebagai inti manusia yang paling rahasia, sangat suci manusia, di situ dia seorang diri bersama Allah yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya. Melalui hati nurani, kita menemukan hukum yang harus kita taati karena disana ada suara hati yang menuntun kita kepada pola laku kita. Menurut Katekismus Gereja Katolik, hati nurani adalah keputusan Akal budi, di mana manuisa mengerti apakan suatu perbuatan yang dia rencanakan, sedang dia laksanakan atau sudah dilaksanakan. Singkatnya, hati nurani dapat didefinisikan sebagai penilaian tentang aspek moral suatu perilaku konkret yang kita lakukan, yang memerintahkan agar melakukan yang baik dan mengelakkan yang jahat tanpa menhilangkan karya Allah yang bersuara dalam hati kita.

Fungsi hati nurani

 

Setiap manusia mempunyai hati nurani, itulah yang membedakan kita dengan ciptaan lain. Namun nurani setiap orang tentu tidaklah sama hal ini dapat kita lihat dari perilaku dan hidupnya; bagaimana ia mengambil keputusan, berelasi, bertindak, dll. Namun yang pasti bahwa hati nurani mempunyai dua peran besar dalam hidup manusia:

 

a.      Hati nurani sebagai norma interior (baik-benar)

 

Norma adalah sesuatu sistem nilai yang hidup ditengah masyarakat yang digunakan sebagai pegangan, aturan dan pengukur kehidupan (penata) yang mengikat dan mengarahkan orang kepada sesuatu. Hati nurani adalah norma moral yang dengannya manusia mempertimbangkan tindakan manusiawi. Hati nurani adalah norma terdekat (norma proxima) yang menentukan kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan. Dapat dikatakan bahwa hati nurani adalah bagian pertama yang berguna untuk menilai sesuatu[2].

            Karena hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia dari seorang pribadi dan tempat dimana terdapat suara Allah, maka kita harus menggunakan hati nurani dengan baik dan benar. Hati nurani yang bersih dan benar adalah cerminan dari pribadi yang selalu menjaga diri dan relasinya dengan Allah.

b.      Mengambil keputusan

 

Fungsi lain dari hati nurani adalah untuk mengambil keputusan. Pada bagian ini, nati nurani digolongkan ke dalam dua bagian yakni ‘hati nurani yang mendahului (concentia antecedens) dan hati nurani yang menyusul kemudian (concentia consequens). concentia antecedens biasanya berperan sebelum seseorang melakukan sebuah tindakan. Hati nurani berperan untuk menjauhkan diri dari dosa dan juga mendorong diri untuk melakukan kebaikan. concentia consequens biasanya mengadili perbuatan dengan memuji perbuatan baik dan mencela perbuatan buruk.[3] Keputusan yang baik dan benar adalah keputusan yang lahir dari hati nurani dan selalu berdampak baik bagi kita dan banyak orang.

 

Pendidikan hati nurani dari “Nikita vs Habib Rizieq”

Beberapa minggu terakhir masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan perselisihan antara artis Nikita Mirzani dengan pemimpin Ormas FPI Habib Rizieq Shihab. Permasalahan ini terjadi karena kritikan kepada Habib Rizieq yang dianggap sebagai penjual obat, dan perkataan sang Habib yang dinilai kurang sopan kepada Nikita. lantas menyebar hingga seantero negeri. Yang ingin saya jelaskan adalah tentang bagaimana kita sebagai pribadi yang beragama dan ber-Pancasila menyikapi hal yang sensitif seperti ini berkaitan dengan hati nurani.

            Yang menjadi ulasan saya disini adalah bagaimana tanggapan seorang Habib terhadap kritikan Nikita. Seperti yang diberitakan oleh media bahwa kepulangan sang Habib ke tanah air mengundang banyak masa yang menimbulkan kemacetan, kerusakan fasilitas umum dan ketakutan akan penyebaran virus Corona. Situasi ini kemudian menjadi kritikan Nikita. Tak terima dengan Kritikan dari Nikita, sang habib dengan terang-terangan mengatainya dengan sebutan yang kurang sopan “lo**e” pada peringatan Maulid Nabi di Petamburan, Jakarta, 14 November 2020. Menurut saya hal itu kuranglah sopan sebagai seorang pemuka agama yang digelari Habib; karena jabatan itu haruslah sesuai dengan harapan banyak orang, untuk itu mereka harus mampu mengontrol emosi dan mampu mengambil keputusan yang baik disaat kita sedang dikritik.

            Pemimpin yang baik harus mampu mempertimbangan sesuatu secara baik dan benar agar apa yang akan dilakukan tidak menjadi sebuah bom waktu untuk dirinya sendiri dan orang lain. Menurut saya apa yang dilakukan oleh Habib Rizieq bukan didasari oleh pertimbangan hati nurani yang benar melainkan keliru karena didesak oleh pihak/ kelompok tertentu. Sebab jika ia mempunyai hati nurani yang benar dan baik, tentu ia mampu mengambil kebutusan yang selalu didasari pada kebenaran dan kebaikan bukan pada hal-hal yang menjurus pada perpecahan, penghinaan, dan intoleran.

Disamping itu, saya juga merasa bangga dengan apa yang dilakukan Nikita Mirzani. Walaupun dikenal sebagai artis pembuat onar, blak-blakkan dan sering dijerat berbagai kasus namun pada peristiwa ini ia justru hadir sebagai sosok yang mampu mewakili suara banyak orang yang merasa risih dengan tingkah sang habib dan kelompoknya. Nurani Nikita adalah nurani yang benar karena menyeruhkan sebuah realitas kebenaran dan lahir dari keprihatinan sosial. Penting untuk kita sadari bahwa sosok seperti inilah yang kita butuhkan dan harus kita contohi dalam mengambil keputusan. Belajar dari sosok sang nyai ini, kita juga diajak untuk berani menjadi martir kecil bagi sesama. Penolakan dan perlawan tentu selalu ada namun yang menjadi kekuatan kita adalah kebenaran. Kebenaran dan kebaikan haruslah menjadi dasar dari setiap tindakan karena itu adalah kewajiban dan perintah Allah.

 

Penutup: Kewajiban Untuk Membina Hati Nurani

Hati nurani adalah norma subjektif tingkah laku moral. Hal itu tidak dapat disangsikan dan disangkal. Namun tidak dapat disangkal juga bahwa kita mesti berjuang agar hati nurani selaras dengan tuntunan bidang objektif kebenaran. Meskipun setiap individu mempunyai hak untuk dihormati dalam perjalannya mencari kebenaran, namun terdapat suatu kewajiban moral yang sudah ada lebih dahulu, dan merupakan suatu kewajiban yang berat yakni  untuk mencari kebenaran dan untuk berpegang kepadanya sekali hal itu diketahuinya. Maka dari itu, patut kita sadari bahwa karena hati nurani membutuhkan penjelasan dan pedoman maka manusia bertanggung jawab atas pembinaan hati nurani. Mendasarkan diri pada penilaian hati nurani, tanpa terinformasi secara memadai adalah penyalahgunaan. Keengganan untuk membina hati nurani, “untuk menggunakan sumber-sumber terbaik dalam memahami kebenaran dari situasi moral yang dihadapi manusia sudah merupakan penolakan untuk menjawab Allah  yang satu dan sejati.

Sumber informasi adalah Sabda Allah di dalam Injil, persekutuan manusia dengan Kristus, iman dan hidup gereja, norma-norma tradisi dan hasil penemuan ilmu etis. Lebih dari itu, keterbukaan untuk menerima koreksi, kesediaan untuk berdialog dan berbuat baik, adalah unsur-unsur penting di dalam pembentukan hati nurani.[4] Sebab sikap ini menjadi dasar pembentukan karakter kita. karakter yang baik akan mempengaruhi semua aspek hidup kita dalam bertindak dan berkata-kata. Setiap pribadi manusia dipanggil untuk hidup bersama orang lain secara baik dan benar. Untuk bisa selaras dan sejalan dengan orang lain dalam kehidupan bersama ialah adanya sebuah proses belajar atau pendidikan moral yang benar dan memadai. Pendidikan hati nurani membuat kita sadar akan sesuatu dan sifatnya dan hal ini dapat kita mulai tidak hanya melalui lingkungan luas tetapi juga melalui pengalaman pribadi kita dalam keluarga dan kehidupan kita sehari-hari. Semoga melalui tulisan singkat ini, kita semakin menyadari akan penting dan bergunanya mengasah dan mendidik nurani kita masing-masing.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Breslavs, Gershon M., Moral emotions, conscience and cognitive dissonance: Psychology in Rusia: state of the art volume 6, issue 4, 2013, Rusian psychological society and Lomonosov Moscow state University, 2013.

 

Nadeak, Largus, Topik-topik Teologi Moral Fundamental, Memahami Tindakan Manusia dengan Rasio dan Iman, Medan, Bina Media Perintis, 2015.

 

Peschke, Karl Heinz., Etika Kristiani Jilid I: Pendasaran Teologi Moral, Maumere, Penerbit Ledalero, 2003.



[1] Gershon M. Breslavs, Moral emotions, conscience and cognitive dissonance: Psychology in Rusia: state of the art volume 6, issue 4, 2013 ( Rusian psychological society and Lomonosov Moscow state University, 2013) 

[2] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental, Memahami Tindakan Manusia dengan Rasio dan Iman (Medan: Bina Media Perintis, 2015) hlm. 100. 

[3] Largus Nadeak, Topik-topik..., hlm. 100. 

[4] Karl Heinz Peschke, Etika Kristiani Jilid I: Pendasaran Teologi Moral (Maumere: Penerbit Ledalero, 2003) hlm. 236. 

Komentar

Fransikus Sardi mengatakan…
Sebuah keberanian dan kematangan intelektual... Gasss

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

  MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR   Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan) [1] Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung. Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangs...

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...