Langsung ke konten utama

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

 

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

 

Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan)[1]

Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung.

Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangsa itu bahasanya dan daerah kediamannya. Analog dengan terjemahan istilah atoni meto menjadi orang meto atau suku bangsa meto, maka suku bangsa itu, yang dinamakan uab meto atau molok meto itu, diterjemahkan menjadi bahasa meto (Ataupah 1992, 1−3). Nama atoni meto sering diidentik dengan pegunungan dan pedalaman. Atoni meto diasosiasikan dengan orang gunung, orang yang tinggal di pedalaman, yang sering berlawanan dengan orang kota, orang pesisir atau pantai yang pandai berlayar dan mengarungi laut. Keadaan aktual memang menunjukkan bahwa atoni meto lebih terdesak dan tingal di pedalaman atau di pegunungan, sedangkan  pesisir dan kota ditempati pendatang dari Rote, Sabu, Flores, Sumba, Jawa, Bugis, Tianghoa dan dari pulau lain.

Penamaan diri sebagai atoni meto dilatarbelakangi oleh berbagai alasan: sejumlah tokoh masyarakat atoni meto yang  diwawancarai memberi argumentasi yang berbeda-beda. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa mereka menamakan diri sebagai atoni meto karena merekalah penghuni Pulau Timor yang sebenarnya sebelum kelompok etnik lain berdatangan ke pulau ini. Sementara itu, ada juga yang mengatakan bahwa atoni meto adalah etnik mereka yang mendiami sebagian besar Pulau Timor. Tampaknya keterikatan geografis menjadi alasan mengapa mereka menamakan diri  atoni meto. Masyarakat atoni meto merupakan etnik yang mendiami wilayah bagian barat Pulau Timor. Mereka menyebar di semua kabupaten/kota yang berada di Timor Barat, yakni Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.

 Meskipun jumlah anggota etnik itu tidak diketahui pasti, tetapi dari data kependudukan yang ada diduga jumlah atoni meto mencapai 500.000 jiwa. Para pedagang dan kaum pendatang dari luar menyebut atoni meto. Istilah itu sebenarnya kurang disukai atoni meto karena didasarkan pada kebiasaan memanggil orang lain dengan ucapan hoi atoin yang berarti hai teman. Sekalipun demikian, penyebutan suku atoni meto diterima pula oleh sebagian penduduknya. Dikatakan bahwa atoni meto menyebut diri mereka orang atoni meto, artinya orang yang berdiam di daratan atau di tempat kering. Ada pula yang menyebut mereka adalah orang gunung

 

Karakteristik Suku Atoni[2]

 

1.    RumahTradisional

     Salah satu kekhasan dari mereka adalah Rumah tradisional, yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat ritual tertentu. Rumah ini bisa juga dikatakan sebagai rumah adat. Di balik bentuknya yang menarik, rumah tradisional ini sarat akan makna. Rumah tradisional Suku Atoni yang keasliannya masih terpelihara dapat ditemukan di Desa Maslete, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Rumah tradisional Suku Atoni di pemukiman adat ini yang menjadi objek ada tiga jenis yakni Sonaf Nis None, Ume Kbubu dan Lopo.

Rumah tradisional Suku Atoni, mulai dari arsitektur bangunan maupun interior bangunan yakni organisasi ruang, elemen pembentuk ruang interior, elemen pengisi ruang interior, hingga aksesoris interio, selalu memiliki makna yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan rumah tradisional Suku Atoni merupakan manifestasi dari pandangan dan filosofi hidup mereka akan harmoni/keselarasan dengan menciptakan rumah dan lingkungan sekitar sebagai sebuah bentuk kecil (mikrokosmos) sesuai dengan tata aturan alam semesta, dunia yang lebih luas dan besar (makrokosmos), dengan menerapkan pola ganda (pasangan-pasangan) pada arsitektur dan interior rumah mereka. Keseluruhan pasangan-pasangan ini diwakilkan oleh sifat maskulin dan feminin dari pasangan feto-mone (wanita-pria), yang walaupun memiliki dua sifat yang saling bertolak belakang namun saling melengkapi dan menghidupkan.

 

 

2.      Budaya ritual sebagai sarana komunikasi

Ritual merupakan salah satu cara dalam berkomunikasi. Semua bentuk ritual adalah komunikatif. Ritual selalu merupakan perilaku simbolik dalam situasi-situasi sosial. Karena itu ritual selalu merupakan suatu cara untuk menyampaikan sesuatu. Menyadari bahwa ritual sebagai salah satu cara dalam berkomunikasi, maka kemudian muncul istilah komunikasi ritual. perwujudan atau manifestasi komunikasi dalam pandangan ini bukanlah pada transmisi/pengiriman informasiinformasi intelijen namun diarahkan untuk konstruksi dan memelihara ketertiban, dunia budaya yang penuh makna dimana dapat berperan sebagai alat kontrol dalam tindakan/pergaulan antar sesama manusia. Komunikasi ritual diwujudkan dalam bentuk materi seperti tarian, permainan, arsitektur, kisah, dan penuturan.

 

a)   Fungsi komunikasi ritual pada pertanian atoni pah meto

Ritual yang dilakukan oleh komunitas Atoin Pah Meto selalu dilaksanakan dengan penuh kesungguhan doa dan persembahan berupa korban persembahan seperti ternak terpilih berupa sapi, babi, ayam, dan kambing serta beras, sirih-pinang, minuman keras (sopi) dan lilin. Ritual ini dilakukan pada tempat-tempat persembahan yang dipimpin oleh Tobe (orang yang mempunyai otoritas tinggi dalam urusan tanah), Maveva (tokoh karismatik informal yang mengetahui seluk-beluk kehidupan adat). Ritualritual tersebut ditujukan kepada Uis Neno  (Tuhan Maha Tinggi Sang Pencipta)) dan Uis Pah (dewa bumi) yaitu raja lokal sebagai tuan dan arwah leluhur para petani yang disebut Be’ina’i.

Masyarakat tani Atoin Pah Meto meyakini bahwa ritual memiliki fungsi untuk keberkahan dan peningkatan ekonomi yang akan mereka peroleh dari Yang Maha Kuasa setelah mereka melakukan ritual. Komunikasi masyarakat dengan kekuatan yang memberi selamat merupakan sebuah bentuk interaksi yang sarat dengan doa kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang mereka percaya memiliki pengaruh terhadap keberadaan mereka secara pribadi maupun terhadap lingkungan di sekitar tempat mereka hidup. Ritual yang dilakukan Atoni Pah Meto tidak terlepas dari kepercayaan yang mereka anut (agama asli/agama suku). Sebagai manusia, komunitas Atoni Pah Meto bukan mahluk horisontal melainkan mahluk yang berakar pada budaya tanah tempat hidupnya.

Agama asli mencakup seluruh fenomena tatanan hubungan manusia dengan alam gaib dalam hal mana manusia menyampaikan seruan hati pada kekuasaan mutlak tertinggi yang mengayominya dalam segala ketidaktentuan hidup yang bersifat rohani. Kerohanian agama asli dihayati dalam sikap batin terhadap zat tertinggi dengan nama dan sebutan yang berbedabeda. Sifat hakekatnya mengatasi manusia dan diungkapkan dalam kepercayaan, kesusilaan, adat, nilai, upacara serta perayaan-perayaan yang beraneka ragam. Masyarakat Atoni Pah Meto di Timor merupakan masyarakat agraris bidang pertanian lahan kering dengan sistem bercocok tanam berpindah-pindah dan tebas bakar. Kegiatan petani merupakan suatu perjalanan yang sarat dengan makna dan romantika budaya, hal ini terkait erat dengan agama budaya yang masih melekat erat dalam jiwa mereka. Petani Atoni Pah Meto ini merupakan gambaran dan totalitas kemanusiaanya, hidup dan kehidupannya.

Siklus pertanian Atoni Pah Meto, selalu diawali dengan ritus yang masingmasing memiliki makna tersendiri. Siklus ritus-ritus tersebut merupakan masa-masa kritis yang menentukan periode kehidupan Atoni Pah Meto dalam mengambil keputusan dan atau pilihan keputusan. Memahami, mengajak dan membangun komunitas Atoni Pah Meto harus dipahami dalam sikap dan tingkah laku yang akrab dengan alam lingkungannya. Alam lingkungan Atoni Pah Meto yang bergunung-gunung dengan topografi berlereng­lereng membentuk ketergantungan pada alam.

 

b)   Fungsi Natoni Media Tradisional dalam Praktik Komunikasi Ritual

Natoni sebagai salah satu seni pertunjukan tradisional dimanfaatkan sebagai media komunikasi tradisional. Dalam pelaksanaannya, natoni mempertunjukkan praktik komunikasi ritual. Sebagai salah satu bentuk dari media tradisional, natoni menjalankan beberapa fungsi. Sebagaimana disebutkan Rachmadi (1988, 112), media tradisional memiliki fungsi ritual, artinya salah satu dari rangkaian upacara kepercayaan rakyat yang bernilai magis-religius.

     Selain fungsi ritual, media tradisional pun digunakan untuk mendidik dan menguatkan atau mengubah nilai-nilai dan adat kebiasaan yang ada. Natoni sebagai salah satu bentuk media tradisional memperlihatkan fungsi membawakan pesan atau informasi. Eapen menyebutkan bahwa media tradisional dapat berfungsi sebagai pembawa pesan yang cukup efektif. Dengan demikian, salah satu fungsi media tradisional adalah membawa pesan.

     Dalam kehidupan masyarakat Atoni/Dawan, seperti juga halnya masyarakat lainnya di kawasan timur Indonesia seperti di Flores timur dan masyarakat Roti (Fox, 1998: 208-216) setiap pelaksanaan ritual selalu ditandai dengan penggunaan bahasa ritual yang merupakn salah satu bentuk puisi lisan. Bahasa ritual adalah titik tertinggi yang diakui dalam proses belajar, pemahaman dan sistematisasi kebudayaan yang biasanya merupakan milik istimewa kaum tua. Dari segi sosiologis, penggunaan bahasa ritual senantiasa  berkaitan dengan saat-saat interaksi yang formal yang memiliki konvensi yang jelas. Bahasa ritual yang diciptakan para penyair lisan (lasi tonis) itu memang memberi effek estetis, namun fungsi utamanya adalah mengamankan sisitem nilai dalam masyarakat itu turun-temurun. 

c)    Pentingnya Natoni dalam Ritus Adatdan Upacara Keagamaan

     Natoni adalah suatu adat atau kebiasaan yang dipatuhi oleh masyarakat dawan Timor Tengah Selatan. Natoni biasanya dilakukan dalam barbagai acara resmi, baik yang berhubungan dengan adat maupun keagamaan dan acara resmi lain yang dianggap sangat penting dalam masyarakat. Natoni yang dilakukan dalam berbagai acara juga menggunakan syair berbeda. Setiap syair yang digunakan selalu dihubungkan dengan peristiwa yang sedang berlangsung. Misalnya dalam acara adat perkawinan (peminangan), penerimaan atau penyambutan dan pelepasan kembali tamu (kunjungan pejabat pemerintah), kegiatan kerohanian di gereja (hari-hari besar gerejawi), dan berbagai peristiwa penting lain. Untuk setiap acara, ada syair khusus. Banamtuan (1990, 1) menyatakan bahwa salah satu adat istiadat daerah Timor Tengah Selatan yang perlu ditata dan dikembangkan kembali adalah tuturan penerimaan dan pelepasan atau dikenal secara umum sebagai natoni atau tuturan adat.

     Tuturan penerimaan adat adalah kata-kata sambutan atau natoni yang dilakukan oleh sekelompok orang yang pertama berfungsi sebagai penerima dan kelompok yag lain sebagai yang diterima. Tujuan tuturan penerimaan dimaksudkan untuk menghormati tamu yang berkunjung dalam suatu kelompok masyarakat untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Penerimaan adat itu dapat dibuktikan kepada tamu dengan bingkisan atau tanda mata yang isinya barang atau hasil kerajinan tangan penduduk setempat yang disiapkan sebelum tamu tiba di tempat. Hasil kerajinan itu berupa selimut, sarung, selendang, ikat pinggang kain tenun, dan sebagainya. Selanjutnya, Banamtuan (1990, 2) menyatakan bahwa kebiasaan penerimaan adat tersebut terdiri atas dua bagian, yaitu penerimaan kap ma fleu dan penerimaan adat. Kap  artinya pari atau alas kuda yang dibuat dari kain atau bantal, disebut juga jok kuda atau pelana kuda.

     Sementara itu, fleu artinya kekang kuda. Maka, penerimaan kap ma fleu adalah suatu cara menjemput para tamu di muka pintu pagar masuk daerah yang dikunjungi; pada zaman dahulu para tamu itu menunggang kuda sebagai alat transportasi. Praktik budaya bersifat tradisional yang secara kontekstual berlawanan dengan model yang menjadi trend modern. Dampaknya, budaya yang bersifat tradisional mulai ditinggalkan masyarakat. Hal lain yang ikut memengaruhi minat generasi penerus pada natoni antara lain kurangnya pendidikan tentang kebudayaan yang dilakukan oleh tokoh pelaku natoni. Demikian pula pelestarian natoni, khususnya aspek penerimaan tamu secara kap ma fleu tidak diturunkan ke generasi penerus.

3.      Tarian[3]

Tarian Tari Atoni Meto merupakan tari tradisional dari Nusa Tenggara Timur oleh suku Atoni atau dikenal dengan suku Dawan yang merupakan suku tertua dan juga suku terbesar di Pulau Timor. Tanah dawan terkenal akan pohon silawan atau pohon lontarnya, dimana tanaman ini banyak tumbuh karena curah hujan sangat rendah di daerah tersebut. Tarian ini dilakukan oleh 4-6 pasangan penari pria dan juga wanita, dimana penari akan menggunakan kostum sesuai dengan pakaian khas daerahnya dengan menambahkan daun lontar sebagai penunjang kostum penari dan juga properti yang digunakan terbuat dari daun lontar seperti contohnya properti wadah air. Tari ini memiliki gerakan yang kaki yang dinamis dan sesuai dengan ritme musik pengiring yang digunakan. Ketika pementasan tari ini, diawali dengan para penari pemuda dengan rambut panjang yang pandai berburu, dimana rambut panjang memiliki filosofi kekuatan yang digunakan dalam berburu. Selantunya, penari wanita melakukan gerakan seolah sedang berbahagia atas hasil buruan yang didapatkan oleh penari pria, dan mereka larut akan rasa syukur atas hasil buruan yang melimpah, dimana wujud persyukuran tersebut untuk Uis Neno, yaitu raja langit dan juga penguasa matahari.

 Tari Atoni Meto, Kesenian Baru yang Mempertahankan Tradisi Lama. Sejak dulu, daun lontar memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan tradisi dan kebudayaan nusantara. Daun yang dihasilkan dari pohon silawan atau yang bernama latin Borassus flabellifer ini memang banyak tumbuh di beberapa daerah di nusantara, seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Tak heran jika daun lontar sering dipakai dalam berbagai ritual adat, bahkan dijadikan sebagai media penulisan naskah-naskah kuno pada zaman kedinastian di nusantara.

Di tengah pementasan, muncul beberapa wanita penari yang seolah bergembira dengan hasil buruan yang didapat oleh pemuda Suku Dawan. Mereka berbaur dalam kegembiraan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil buruan yang melimpah. Wujud rasa syukur tersebut dipersembahkan kepada Uis Neno, yang diyakini sebagai raja langit dan penguasa matahari. Kegembiraan tersebut menggambarkan sifat komunal yang terdapat di kebudayaan Suku Dawan.

Secara umum, tari kreasi atoni meto merupakan tari muda-mudi yang dipentaskan oleh 4-6 pasang pria dan wanita. Para penari mengenakan pakaian adat Nusa Tenggara Timur yang sudah dimodifikasi di beberapa bagiannya. Daun lontar menjadi properti utama yang bisa diubah fungsi menjadi pelengkap pakaian yang digunakan penari. Hal tersebut terlihat ketika properti wadah air yang terbuat dari daun lontar berubah fungsi menjadi hiasan kepala wanita penari.

Gerak tari atoni meto bertumpu pada gerakan kaki yang dinamis dan ritmis disesuaikan dengan irama musik pengiringnya yang cenderung menghentak dan bersemangat. Tari kreasi ini secara umum menggambarkan keceriaan, semangat pemuda, dan keeksotisan Suku Dawan yang lekat hubungannya dengan kebudayaan lontar. Tari kreasi atoni meto merupakan bentuk kesenian baru yang mempertahankan tradisi lama, sebagai upaya untuk terus melestarikan daun lontar sebagai sesuatu yang memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat nusantara.

4.    Upacara musiman[4]

      Ritual Fua Pah, ini dalah sebuah ritual dalam pertanian. Ritual ini merupakan sebuah rangkaian kegitan di mana masyarakat Atoni/Dawan perlu lebih lanjut dalam siklus ritual pertanian. Dalam setiap pelaksanaan ritual Fuah Pah, didaraskan puisi ritual tertentu.

      Siklus ini ritual pertanian ini merupaka sebuah tradisi yang khas dalam alam kebudayaan pertanian tradisional. Ritus pemberian korban sebagai persembhan kepada Uis Pah atau Paf Tuaf itu senantiasa dilaksanakan pada enam tahapan kegiatan pertanian, mulai dari membuka kebun baru sampai dengan tahap menui, memetik hasil kebun dan mengucap syukur kepada Uis Neno atas panen melimpah. Keenam tahap itu adalah:

a)      Tahap menebas hutan (lef neono/ tafek hau ana)

b)      Tahap membakar hutan (polo nopo/sifonopo)

c)      Tahap menanam (lef boen no’o),

d)     tahap pertumbuhan tanaman (eka ho’e)

e)      Tahap panenan perdana (tasan mate)

f)       Tahap panenan berakhir (tnibun bola’ if ma aentauf)

 

Unsur-unsur Kebudayaan[5]

1.    Bahasa

Masyarakat ini menggunakan bahasa dawan yang terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Kupang, Amrasi, Manufui, Manuban dan Molo. Orang atau kebudayaan Atoni adalah salah satu kebudayaan yang berada dalam rumpun Dawan. Tetapi menurut unsur-unsur dan hukum atau ataran-aturan tertentu, maka kelompok ini telah diklasifikasi sebagai kebudayaan tersendiri. Mereka menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa orang-orang Dawan umumnya yaitu bahasa dan dialek dawan. Di dalam kebudayaan Dawan terkhusus pada sistem bahasa, budaya Dawan memiliki pengolongan dialek, yaitu dialek Kupang, Amrasi, Manufui, Manuban dan Molo. Orang-orang Atoni tentu menggunakan dialek-dialek tersebut. Tetapi berdasarkan bahasa mereka menggunakan bahasa dawan “L”. ada juga bahasa dawan “R”, untun rumpun-rumpun dialek yang lain.

 

2.    Sistem pengetahuan

Masyarakat tani Atoin Pah Meto meyakini bahwa ritual memiliki fungsi untuk keberkahan dan peningkatan ekonomi yang akan mereka peroleh dari Yang Maha Kuasa setelah mereka melakukan ritual. Komunikasi masyarakat dengan kekuatan yang memberi selamat merupakan sebuah bentuk interaksi yang sarat dengan doa kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang mereka percaya memiliki pengaruh terhadap keberadaan mereka secara pribadi maupun terhadap lingkungan di sekitar tempat mereka hidup. Ritual yang dilakukan Atoni Pah Meto tidak terlepas dari kepercayaan yang mereka anut (agama asli/agama suku). Sebagai manusia, komunitas Atoni Pah Meto bukan mahluk horisontal melainkan mahluk yang berakar pada budaya tanah tempat hidupnya. Agama asli mencakup seluruh fenomena tatanan hubungan manusia dengan alam gaib dalam hal mana manusia menyampaikan seruan hati pada kekuasaan mutlak tertinggi yang mengayominya dalam segala ketidaktentuan hidup yang bersifat rohani. Kerohanian agama asli dihayati dalam sikap batin terhadap zat tertinggi dengan nama dan sebutan yang berbedabeda. Sifat hakekatnya mengatasi manusia dan diungkapkan dalam kepercayaan, kesusilaan, adat, nilai, upacara serta perayaan-perayaan yang beraneka ragam.

Masyarakat Atoni Pah Meto di Timor merupakan masyarakat agraris bidang pertanian lahan kering dengan sistem bercocok tanam berpindah-pindah dan tebas bakar. Kegiatan petani merupakan suatu perjalanan yang sarat dengan makna dan romantika budaya, hal ini terkait erat dengan agama budaya yang masih melekat erat dalam jiwa mereka. Petani Atoni Pah Meto ini merupakan gambaran dan totalitas kemanusiaanya, hidup dan kehidupannya. Siklus pertanian Atoni Pah Meto, selalu diawali dengan ritus yang masing- masing memiliki makna tersendiri. Siklus ritus-ritus tersebut merupakan masa-masa kritis yang menentukan periode kehidupan Atoni Pah Meto dalam mengambil keputusan dan atau pilihan keputusan. Memahami, mengajak dan membangun komunitas Atoni Pah Meto harus dipahami dalam sikap dan tingkah laku yang akrab dengan alam lingkungannya. Alam lingkungan Atoni Pah Meto yang bergunung-gunung dengan topografi berlereng­lereng membentuk ketergantungan pada alam.

 

3.    Organisasi sosial

Struktur kepemimpinan dalam masyarakat atoni:     

Secara ideal rumah tangga orang Atoni terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak mereka yang beum kawin. Rumah tangga yang tidak mempunyai anak biasanya mengambil anak saudara mereka untuk diangkat sebagai anak sendiri. Sungguh pun bentuk kekeraban mereka cenderung untuk patrilineal, akan tetapi pasangan muda Atoni yang baru kawin akan tinggal di lingkungan kerabat istri (uksorilokal) selama beberapa tahun, kemudian baru pindah menetap di lingkungan pihak keluarga asal suami. Pihak memberi wanita atau disebut an atoni dari pihak laki-laki di sebut an bifel. bentuk perkawinan yang baik menurut masyarakat ini adalah perkawinan antar dua klen yang memang sudah sering terikat hubungan perkawinan. Makin jauh hubungan perkawinan antar klen makin besar mas kawin yang harus dikeluakan untuk memperbarui ikatan tersebut.

Tiap-tiap orang Atoni adalah anggota dari sebuah klen patrilineal yang jumlahnya amat banyak. Ken-ken itu biasanya disebut menurut namabenda suci (nono) yang menjadi barang pusaka mereka. Seorang istri diakaui menjadi warga klen suaminya. Akan tetapi kedudukan dalam klen bisa diperoleh lewat adopsi dan bisa pula dengan mengambil klen ibunya sebagai ikatannya. Klen ayah mereka sebut nono mnuki (nono muda) dan klen ibu dissebut nono mnasi (nono tua).

Penduduk sebuah desa biasanya digolong-holongkan kedalam tiga kelompok klen. Pertama kuatuaf, yaitu klen-klen yang dianggap sebagai pemilik desa atau yang menguasai tanah dan pertama sekali membuka desa tersebut. Kedua atoin asaot, yaitu penduduk yang datang kemudian baik karena kawin maupun dating dan menetap sendiri. Yang ketiga adalah atoin anaot, yaitu orang-orang yang dating minta perlindungan hidup di suatu desa, entah karena sebagai pengembara atau pelarian dari desa lain.

Sementara itu klen-klen yang ada juga terbagi-bagi lagi ke dalam beberapa lapisan social, yaitu: usif (golongan bangsawan), tog (ggolongan orang biasa) dan ate (golongan budak atau hina). Pada masa sekarang golongan ate tidak ada lagi karena dihapus olh Belanda pada pertengahan abad ke-19. Golongan usif yang ada masa sekarang umumnya keturunan dari raja atau fettor, yaitu penguasa setempat pada masa dulu.

Golongan bangsawan dalam masyarakat atoni usif;   yang terbagi atas usif naek (bangsawan tinggi), fetor (bangsawan biasa) dan kato (para kepala adat). Di lapisan paling bawah adalah golongan to atau tob (rakyat biasa), dan ate yang adalah budak nan hina namun golongan ate ini telah hilang dan dihapus pada waktu kekuasaan belanda.          

Keluarga inti yang mereka sebut ume umumnya tergabung dalam sebuah rumah tangga batih. Satu rumah dihuni oleh beberapa keluarga inti dalam garis kekerabatan patrilineal disebut puknes. Keluarga-keluarga patrilinal yang merasa sama-sama berasal dari satu kakek moyang tergabung dalam sebuah klen yang disebut kanaf dan dipimpin oleh seorang senior yang mereka gelari amaf. Dalam setiap kampung klen-klennya terdapat sebuah dewan adat yang dipimpin oleh seorang tumukung (ketua adat)

 

4.    Sistem peralatan hidup dan teknologi

Komunitas masyarakat Atoni adalah bagian dari etnik Timor di era globalisasi yang pada saat ini masih bertahan dengan kegiatan ritual pada kegiatan pertanian mereka. Petani Atoni, berada dalam suatu masyarakat yang memiliki standar-standar dan regulasi atau aturan umum yang dianut untuk mengatur bagaimana orang-orang atau anggotanya saling berhubungan satu sama lain termasuk kontak dan hubungan dengan kekuatan yang lebih tinggi dan alam lingkungannya. Masyarakat Atoni Pah Meto sebagai masyarakat agraris sebelum menggunakan benas (parang), fani (kapak), dan kenkanu (linggis) untuk membuka ladang, mereka terikat oleh norma- norma suku yang berlaku dalam praktek pengolahan lahan pertanian.

 

5.    Sistem mata pencaharian

Mata pencarian orang atoni adalah bercocok tanam di ladang berpindah-pindah, dengan tanaman seperti padi, jagung ubi dan lain-lain. Mata pencarian lain yang cukup penting dalam masyarakat ini adalah peternakan sapi, kuda dan ayam. Mata pencarian keluarga yang laun adlah menganyam barang-barang dari pandan dan bamboo, menenun kain tradisional, membuat alata-alat dari bamboo, kayu, tanah liat dan lain-lain. Pengaruh pendidikan formal di sekolah-sekolah relatif baru bagi kebudayaan orang Atoni, sehingga sedikit sekali di antara merekayang bekerja di kalangan kepegawaian, perguruan, kependetaan, keplisian atau ketentaraan. Kepadatan penduduk di desa-desa menyebabkan banyak pula banyak mereka yang pergi ke Kota Kupang dan bekerja sebagai tenaga kasar di sana.

Setiap kali hendak berladang orang Atoni harus membuka sebidang tanah di hutan, memagarinyaa, mengerjakannya untuk beberapa tahun panen, lalu ditinggalkan untuk mencari lahan baru. Keadaan tanah yang kering sering dibantu menyuburkan dengan menanam pohon lamatoro. Dalam mengerjakan ladang (po) orang Atoni lebih suka bekerja sendiri-sendiri dari pada kolektif dengan orang lain. Tanaman pokok mereka adalah jagung dan padi yang ditanam bergiliran di tanah yang sering kekurangan air hujan. Selain itu mereka juga suka menanam bawang, kedelai, tomat, pisang, caba dan sebagainya. Tanaman keras yang mereka pelihara addalah pinang, kelapa, lontar dan beberapa jenis pohon buah-buahan. Sedangkan binatang ternak gembalaan mereka adalah babi, kambing, domba, kerbau sapi dan kuda.

 

6.    Sistem religi

Agama asli orang toni berdasarkan pada kepercayaan kepada satu dewa langit yang mereka sebut Usi Neno. Selain itu mereka juga percaya adanya dewa dewi tanah yang disebut Uis Afu, yaitu istri dewa langit sendiri. Mereka juga percaya adanya makhluk-makhluk halus (in tuan) yang mendiamai tempat tertentu, dalam tubuh binatang dan tumbuh-tumbuhan tertentu. Kemudian mereka yakin adanya roh-roh nenek moyang yang disebut nitu. Upacara-upacara keagamaan ditujukan kepada pemujaan Uis Neno, Uis Afu, dan nitu. Jjika terjadi gangguan dari in tuan maka mereka minta seorang syaman yang disebut mnane atau meo untuk mengusir makhluk halus yang jahat itu.

Salah satu ritus dalam kepercayaan lama ini adalah mematuhi pemali atau pantangan tertentu yang disebut nuni. Pantangan-pantangan yang dijauhi oleh seseorang tergantung pada pesan yang diterimanya lewat mimpi, karena petunjuk meo atau karean sudah menjadi pantangan turun-temurun dari klennya. Setelah agama Kristen Protestan dan katolik masuk ke Pulau Timor sstem-sistem keyakinan lama ini ganti sedikit demi sedikit, misalnya pembakaran benda-benda nono oleh setiap keluarga yang masuk agama Kristen, penggabungan upacara-upacara adat dengan upacara-upacara Kristen, kemudian sebutan Uis Neno dipakai untuk menerjemahkan kata Tuhan dalam injil.

Orang atoni saat ini umumnya menganut agama Kristen Protestan. Agama lama mereka menyembah dewa-dewa, seperti Ilis Neno (dewa pemilihara), Ilis Ae (dewa air), Ilis Meto (dewa pengetahuan),Sautaf (dewa kematian) dan lain-lain. Di sekitar kehidupan manusia ada pula makhluk halus yang mereka sebut paf tuaf, serta kekuatan-kekuatan gaib (manna) yang terdapat dalam berbagai benda pusaka nenek moyang mereka.

 

7.    Kesenian

Di luar waktu berladang dan mengembalakan ternak wanita Atoni mengerjakan pertenunan dan anyaman. Sedangkan kaum lelakinya lebih suka membuat barang-barang dari kayu yang diukir secara sederhana. Nampaknya seni mematung tidak berkembang terutama dalam membuat pakian (tais) sehari-hari maupun pesta adat. Barang anyaman seperti tikar dan bakul-bakul mereka buat dari lontar atau sejenis pandan. Kaum wanita maupun lelakinya senang memakai perhiasan yang terbuat dari logam, perak, emas serta manic-manik dari permata akik.

 

PERUBAHAN KEBUDAYAAN[6] 

           

1.    Difusi

Difusi adalah penyebaran adat atau kebiasaan dari kebudayaan yang satu ke kebudayaan yang lain:

Dalam tradisi suku atoni, pada umumnya mereka adalah orang yang fleksibel; dimana mereka akan menerima perubahan dari luar baik dari lingkungan ataupun budaya lain selagi perubahan itu menguntungkan mereka dan mereka akan sangat menentang perubahan itu juga jika dianggap merugikan atau melecehkan kebudayaan mereka. Mereka akan sangat menolak dan menentang sebuah budaya atau perubahan apabila itu adalah sebuah mandat dari petinggi masyarakat, seperti yang telah kita bahas bersama bahwa masyarakat ini sangat mematuhi pemimpin mereka. Saat ini, sudah begitu banyak masyarakat suku atoni yang hidup berbaur dengan masyarakat yang berasal dari tempat lain misalnya; flores, sabu, lembata, timor leste kupang, dll. Dan ini sangat memungkinkan adanya perubahan atau pergantian  kebudayaan yang lama menuju kebudayaan yang baru. Ada proses defusi yang telah terjadi dan berlangsung dalam kehidupan suku atoni ini: Masyarakat tani Atoin Pah Meto meyakini bahwa ritual memiliki fungsi untuk keberkahan dan peningkatan ekonomi yang akan mereka peroleh dari Yang Maha Kuasa setelah mereka melakukan ritual. Yang dulunya mereka mempersembahkan kurban atau sesajen kepada dewa-dewa kesuburan, tetapi sekarang mereka mereka telah menggunakan sarana teknologi modern dan berakhir pada syukuran panen dalam gaya Gereja.[7] Adapun perubahan lain yakni:

Ø  Dalam berpakaian: orang yang menikahi orang atoni dan menetap di daerah suku tersebut ataupun yang dinikahi oleh orang atoni akan menyesuaikan cara berpakaian mereka dengan cara berpakaian orang atoni yang lebih sering menggunakan tenunan, benda-benda perak, dan memakan sirih.

Ø  Penggunaan bahasa daerah yang dominan memungkinkan orang yang telah menetap di sana akan mahir berbahasa dawan dll.

Ø  Sistem pendidikan: dulunya seorang anak diajar untuk menjadi seperti ayahnya (pemburu, petani) dan melalui praktek langsung. Namun sekarang ada kebebasan anak untuk memilih masa depannya sendiri.

Ø  Dalam praktik keagamaan: dulunya mereka ini adalah penyembah dewa-dewi namun lambat laut menjadi orang kristen

Ø  Seni bangunan: dalam membangun rumah, mereka biasanya menggunakan kayu khusus yang sangat kuat namun saat ini pembangunan rumah dengan kayu sebagai tiang utama semakin jarang karena saat ini lebih banyak orang menggunakan campuran semen.

 

 

2.    Akulturasi

Perubahan-perubahan besar dalam kebudayaan yang terjadi sebagai akibat dari kontak antar kebudayaan yang berlangsung lama:

Kebanyakan masyarakat atoni umumnya adalah masyarakat yangsuka berpindah-pindah namun ketika perang atau kekacauan, mereka yang merasa diri terganggu akan pergi dan mencari tempat tinggal yang baru dan aman . disana mereka memulai hidup yang baru. Adapun penentuan tempat tinggal atau wilayah suku awalnya diberikan oleh raja. Ini juga berlaku kepada penduduk baru baik dari pulau timor sendiri atau pun yang besasal dari pulau lain seperti sabu, flores dll.

Pada zaman dahulu setiap suku selalu hidup dengan budaya mereka masing- masing namun ketika ada percampuran baik dari kampung tetangga, kawin mawin, kekerabatan, perjanjian dll. Ini memungkinkan munculnya sebuah budaya ataupun kebiasaan baru sebagai penuntun aturan hidup yang berasal dari gabungan antara beberapa budaya, tidak didominasi oleh budaya tertentu melainkan adanya percampuran antar budaya di tempat itu. Hal ini dapat kita temukan di beberapa tempat misalnya di Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, insane dan Beboki, dimana saat ini kebudayaan mereka bercampur dengan budaya luar misalnya dari sabu, flores, suku bunak, dan bahkan dipengaruhi oleh penduduk tomor leste yang pada tahun 1998 mengungsi ke Indonesia karena kerusuhan. Berikut perubahan-perubahan yang terjadi dan menurut kami penting untuk kita ketahui bersama:

Ø  Gotong royong; pada awalnya orang atoni melakukan pekerjaan mereka sendiri sendiri menurut klen dan keluarga saja dan tertutup untuk orang lain walaupun hidup bersama.

Ø  Tarian suku atoni berangkat dari kisah historis masyarakat pada umumnya yang adalah pemburu; pulau timor dulunya banyak terdapat rusa liar. Dan beberapa tarian bebbentuk melingkar sebagai lambang persaudaraan (tebe).

Ø  Menaruh hormat kepada benda yang sakral walaupun sudah beragama.

Ø  Melaksanakan ritual-ritual adat untuk berkomunikasi  dengan orang tua ketika hari hari besar gereja: hari arwah, Natal, Tahun Baru dll.

 

 

3.    Substitusi

Pergantian unsur atau kompleks yang ada oleh yang lain yang mengambil alih fungsinya dengan perubahan struktural yang minimal:

Seorang laki-laki atoni pah meto  dianggap layak berumah tangga apabila sudah memiliki sebilah parang dan kapak, serta sudah mampu mengasahnya sampai tajam dan sudah mampu menggunakan perlengkapan itu untuk mengerjakan kebun.Sebagiamana laki-laki, seorang perempuan dewasa dalam atoni pah meto  dianggap dan dikatakan pantas menikah/berumah tangga apabila sudah mampu memintal benang dan menenun selembar kain (tais dan bête ). Aturan itu dipegang teguh baik oleh laki-laki maupun perempuan. Apabila sudah memasuki masa akil balik, setiap individu akan berusaha menunjukan eksistensinya dengan bekerja baik laki-laki di kebun maupun  perempuan yang menenun.

Dalam kenyataan, rata-rata perempuan di Kabupaten TTU termasuk suku Atoni, yang berusia di bawah 40 tahun sudah tidak tahu atau memiliki kemampuan menenun. Keadaan itu tentu berdampak pada keberadaan bête (kain untuk laki-laki), tais  (kain untuk perempuan) yang juga menjadi salah satu ciri khas atoni pah metoBête dan  tais  sudah digantikan posisinya oleh celana jeans, legging, dan berbagai busana modern lain. Semua itu tentu berasal dari satu pola pewarisan dan transfer pengetahuan yang tidak berjalan dengan baik. Maka diharapkan peran lembaga pendidikan, baik pendidikan dasar maupun menengah, untuk menghidupkan kembali tradisi itu lewat muatan lokal.

 

4.    Sinkretisme

Percampuran unsur-unsur lama untuk membentuk sistem baru:

Sinkretisme dalam budaya atoni lebih erat kaitannya dengan keberadaan iman dari masyatakat suku ini dimana mereka menggunakan nama dewa/dewi kepercayaan kuno mereka menjadi nama dari Tuhan Yesus. Lebih jelasnya pada penggunaan nama Uis Neno. Sebelum bangsa Portugis masuk Di daerah Atoni, masyarakat setempat memiliki dewa uis neno yang adalah dewa langit. Yang mana mereka sering menyembah dan mempersembahkan kurban persembahan. Dewa ini adalah dewa tertinggi menurut mereka. Akan tetapi dengan kedatangan bangsa Portugis dan memperkenalkan Tuhan kepada mereka dengan penyembahan yang lebih sederhana, maka berlahan-lahan mereka mengandaikan bahwa uis neno itu adalah Tuhan. Oleh karena itu, meskipun mereka telah mengenal dan percaya Tuhan dalam agama Kristen, mereka tetap menggunakan Uis Neno sebagai ssebutan untuk Tuhan.

 

5.    Adisi

Merupakan tambahan unsur atau kompleks-kompleks baru:

Perkembangan zaman dan kemajauan teknologi dewasa ini sangat mempengaruhi pola pikiran suku Atoni modern. Seperti halnya mental instan membuat mereka dengan begitu mudah membuka lahan dengan cara pembakaran atau obat-obatan. Hal ini terjadi karena perlahan-lahan faham serba instan juga mulai merasuki generasi muda. Tanpa kerja keras mau memperoleh hasil besar.Tmeup Tabua Nekaf Mese Ansaof  Mese Tmeup tabua nekaf  mese ansaof mese”, secara harafiah berarti bekerja bersama, sehati sepikiran. Bekerja bersama bagi atoni pah meto  dapat dipandang sebagai bentuk transformasi mental kebersamaan yang berakar dalam atoni pah meto. Seiring dengan perubahan zaman, dewasa ini filosofi yang kemudian menjadi etos di dalam bekerja dan aspek kehidupan lain perlahan-lahan memudar. Penyebabnya adalah faham individualis pada atoni pah meto  yang entah disadari atau tidak disadari tetapi dipraktikkan oleh mereka.

 

6.    Dekulturasi

Hilangnya bagian penting sebuah kebudayaan:

Tradisi Sifon Suku Atoni Meto:

Suku atoni meto mempunyai cara rada aneh dalam melaksanakan tradisi sunatan. Tradisi itu dilakukan dengan menggunakan  alat-alat sederhana seperti potonagan bamboo tipis yang dilakukan pada masa-masa panen. Pria yang berumur di atas 18 tahun wajib melakukan ritual sunat itu karena dianggap sudah mampu berhubungan seks yang nanti menjadi syarat tuntasan ritual. Sebelum sunat ada proses pengakuan dosa yang bertujuan agar proses sunat berjalan lancer. Mereka percaya bahwa pemuda yang akan disunat berbohong, luka sunatnya akan sulit sembuh.

Sifon sendiri adalah wanita yang menjadi korban dari pemuda yang baru disunat itu. Wanita itu tidak akan pernah nikah atau kawin seumur hidup. Dan wanita ini yang pada akhirnya mendapat tantangan dari masyarakat NTT pada umumnya. Sehubungan dengan semakin tumbuhnya kesadaran kesehatan masyarakat dan persamaan gender, pemerintah dearah di sana telah melarang tradisi yang agak aneh itu.

 

 

7.    Orijinasi

Tumbuhnya unsur-unsur baru untuk memenuhi kebutuahan situasi yang berubah:

Perubahan pembagian kerja; Apabila seorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peran.Pembagian kerja dimaksud adalah pembagian peran untuk pekerjaan laki-laki dewasa, pekerjaan perempuan dewasa, pekerjaan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan, serta pekerjaan lanjut usia. Pembagian kerja ini sangat penting di dalam tahapan mengolah lahan yang dimiliki

 Tujuannya untuk mengatasi tantangan berupa kondisi alam, keterbatasan teknologi serta tenaga kerja.Perubahan yang terjadi adalah perempuan dan anak-anak tidak lagi berperan sebatas pelengkap, tetapi merupakan aktor utama. Perempuan terlibat sejak perencanaan, pelaksanaan hingga akhir tahapan kerja bertani lahan kering pada  atoni pah meto. Begitu pula anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Di sini kita melihat sisi positif. artinya kesadaran akan kesetaraan gender tumbuh perlahana-lahan dan berkembang pada  atoni pah meto. Sebelumnya semua bidang selalu dikuasai oleh kaum laki-laki. Melalui perubahan ini berlahan-lahan banyak bidang kehidupan mulai terarah pada persamaan kedudukan. Akan tetapi tetap dalam rana adat-istiadat setempat.

 

 

8.    Penolakan

Perubahan-perubahan begitu cepat, sehingga sejumlah besar orang tidak dapat menerimanya yang menyebabkan penolakan total, timbulnya pembrontakan atau gerakan kebangkitan:

Suku Atoni tetap mempertahankan beberapa ritual adatnya, meskipun telah memiliki Tuhan yang disembah namun mereka tetap menyakini ada kekuatan-kekutan leluhur yang juga mempengaruhi kehidupan mereka. Ritual merupakan salah satu cara dalam berkomunikasi. Semua bentuk ritual adalah komunikatif. Ritual selalu merupakan perilaku simbolik dalam situasi-situasi sosial. Karena itu ritual selalu merupakan suatu cara untuk menyampaikan sesuatu.

 

 



[1] Zulyani Hidayah, Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia, (Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia), hlm. 24-25.

[2] Yermia Djefri, Komunikasi Ritual pada Budaya Bertani Atoni Pah. PDF . hlm. 287-291

[3] Paradigma Jurnal Kajian Budaya Vol 6. No. 2 (2016)

 

[4] Yohanes Djarot (Disertasi), Tata Suku dan Tata Spesial pada Arsitektur Permukiman Suku Dawan di Desa Kaenbaun di Pulau Timor. PDF, hlm. 229.

[5] Damasus Sasi,  Perubahan Budaya Kerja Pertanian Lahan Kering Atoni Pah Meto di Kabupaten Timor Tengah Utara. PDF,  hlm. 147-150.

[6] Wawancara

[7] Bdk. Damasus Sasi,  Perubahan Budaya Kerja Pertanian Lahan Kering Atoni Pah Meto di Kabupaten Timor Tengah Utara. PDF, hlm. 148.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...