Langsung ke konten utama

Tinjauan Kritis atas Ktitik Nietzsche Terhadap Paham Kristen

 

 “Tinjauan Kritis atas Ktitik Nietzsche Terhadap Paham Kristen”

Oleh Sirilus Towa

 

1.      TESIS

Nietzsche menganggap Tuhan hanya proyeksi dari keterbatasan manusia yang merindukan sebuah kekuatan yang tidak terbatas. Filsuf ini menggiring humanism modern yang rasionalistis ke tepiannya dengan memaklumkan der Wille zur Macht (kehendak untuk berkuasa)sebagai sumber kreativitas dan realisasi bakat-bakat besarmanusia. Bagi Nietzsche kekristenan membuat hidup kita tidak otentik karena menganjurkan penolakan terhadap dunia ini dan menundukkan diri di bawah roh. Jika manusia ingin otentik dengan hidupnya, ia harus mengatakan ya (Ja-Sagen) kepada hidup di dunia ini dengan segala naik turunnya. Itu berarti, manusia harus dibebaskan dari perhambaan roh dan menjadi tuan bagi dirinya sendiri dengan menerima energi kreatif yang memancar dari kehendak dan keduniawian hidupnya. Dengan memaklumkan bahwa Gott ist tot (Tuhan sudah mati), filsuf di ujung abad ke-19 ini menubuatkan lahirnya suatu peradaban kemanusiaan tanpa Tuhan, tanpa gantungan otoritas supra manusiawi, tanpa ketakutan akan dunia di balik kubur yang memungkinkan kemanusiaan tampil apa adanya dengan nilai-nilai kreasinya sendiri tanpa menghamba pada agama ataupun Tuhan.

2.      ARGUMENTASI

Paham Kristen Itu Merupakan Suatu Paham Platonisme Bagi Rakyat

Menurut Nietzsche paham kristen merupakan suatu terjemahan bagi rakyat dari tema-tema besar para penganut Plato[1]. Menurut Nietzsche, percaya pada alam superior yang tidak pernah ada - bahwa dunia atau masyarakat kita entah bagaimana kurang karena tidak sesuai ke dunia atau masyarakat 'ideal' - yang tak terhindarkan membawa kita untuk merendahkan dunia kita dan kondisi manusia. Pendeknya, budaya Kristen-Platonis menuntun kita untuk membenci diri sendiri, menggagalkan kehidupan, dan mengkonsumsi dunia nihilisme[2]. Bagi nihilis, Tuhan bukan saja sudah mati, tetapi segalanya yang lain mungkin juga mati.

Tuhan sebagai penghalang

Nietzsche mengatakan, bahwa agama Kristen tidak layak dipercaya, dan bahwa Tuhan sudah mati. Konsep Tuhan telah menjadi penghalang terbesar bagi kepenuhan hidup manusia: sekarang kita bebas mengekspresikan keinginan kita untuk hidup[3]. Tapi keinginan kita untuk hidup tidak harus, seperti Schopenhauer, yang memihak yang lemah; itu harus menjadi keinginan untuk berkuasa. Keinginan untuk berkuasa adalah rahasia semua kehidupan; setiap makhluk hidup berusaha melepaskannya kekuatan, untuk memberikan ruang lingkup penuh untuk kemampuannya. Pengetahuan hanyalah instrumen dari kekuasaan; tidak ada kebenaran absolut, tetapi hanya fiksi yang berfungsi lebih baik atau lebih buruk membentengi kehidupan. Kesenangan bukan tujuan tindakan, tetapi hanya kesadaran latihan kekuatan. Realisasi kekuatan manusia terbesar adalah penciptaan Superman. Kemanusiaan hanyalah sebuah tahapan dalam perjalanan menuju Superman, yang merupakan makna dari bumi.

 

Paham Kristen yang meremehkan badan

Paham kristen gnosis, manikeisme dan kaum kathar.-paham gnosis mengajarkan manusia telah jatuh dalam kejahatan; materi bersifat jahat; badan bersifat jahat; keselamatan diproleh dari suatu pelarian dari dunia. Nietzsche sebenarnya melihat paham ini dari “paham kristenlah yang pertama-tama, dengan perasaan tidak senangnya terhadap hidup, telah membuat seks sebagai suatu hal yang najis[4]” Nietzsche menganggap agama Kristen sebagai yang terendah merendahkan cita-cita manusia yang menemukan ekspresi tertinggi di murni nilai-nilai estetika[5]. Keyakinannya bahwa seni adalah bentuk tertinggi dari aktivitas manusia yang ditemukan dalam filsafatnya sendiri gaya, yang puitis dan aphoristik dari pada argumentatif atau deduktif. Seni mewakili tugas tertinggi dan metafisis sejati dalam kehidupan ini[6], karena dalam seni manusia bebas untuk berekspresi tanpa ada tekanan.

 

Paham Kristen memihak Pada apa yang gila

Dalam bukunya Der Antichrist, Nietzsche yang telah terpengaruh oleh Luther menulis:

“Paham Kristen juga bertentangan dengan segala sesuatu yang secara spiritual bersifat utama. Ia hanya dapat menggunakan akal yang sakit sebagai akal Kristen. Ia memihak pada suatu yang gila, memfitnah keutamaan roh yang sehat. Oleh karena penyakit itu termasuk paham Kristen, maka iman dan kepercayaan nya juga adalah penyakit karena semua jalan lurus dan ilmiah dihindari oleh gereja sebagai jalan terlarang”[7].

Nietzsche sebenarnya menolak dan meragukan kemampuan akal dalam memahami apa yang bersifat metafisi seperti Tuhan. Ie berpendapat bahwa akal kitalah yang selalu menciptakan sesuatu yang ebenarnbay tidak ada dengan baying-bayang dan imajinasi kita. Kita cenderung membayangkan sesuatu yang bersifat metafisis sesuai dengan kebutuhan kita sehingga sesuatu yang murni itu menjadi kabur. Contoh lain adalah manusia yang selalu hidup dalam baying baying rasa bersala. Singkatnya, rasa bersalah adalah senjata orang-orang lemah untuk melawan jiwayang bebas dan asli[8] hal seperti ini banyak terdapat pada paham Kristen yang menekankan mati raga, rendah hati, sabar, memaafkan dan sebagainya.

3.      KRITIK DAN RELEVANSI

Paham kristen itu merupakan suatu paham platonisme bagi rakyat itu merupakan suatu bentuk pemikiran yang salah dan keliru karena pada dasarnya paham Kristen sangatlah berlainan dan berbeda dengan paham platonisme, dimana keduanya ini mempunyai pertentangan menyangkut beberapa hal pokok seperti Allah dan dunia, kosmologi, manusia (jiwa, pengenalan, indera), kejahatan, moral dan etika, dll. Ajaran yang terkenal dari Socrates adalah Gnoti Seauton yaitu “kenalilah dirimu sendiri”. Bagi Socrates dengan mengenali diri sendiri, akan dapat lebih mengenal Tuhan. Untuk membangun pengetahuan manusia tentang tuhan Socrates memakai dua jalan. Yakni, berdasarkan pada bukti-bukti alam dan melalui sejarah.

Berkaitan dengan pandangannya yang kedua menurut saya pandangan ini juga keliru karena pada dasarnya agama Kristen juga menentang gnosis dan mengajarkan tentang keutamaan hidup dengan mencintai hidup, menjaga ciptaan, dan menentang semua bentung penyalahgunaan tubuh seperti aborsi, bunuh diri, LGBT, euthanasia, dll. Berkaitan dengan pandangan yang menyatakan bahwa paham Kristen menyalahkan seksualitas, juga adalah sebuah kekeliruan berpikir karena paham Kristen sebetulnya mengajarkan tentang keteraturan untuk tidak berbuat sesuka hati terhadap seksualitas dan kehendak bebasnya sebagai pribadi.

Berkaitan dengan paham Kristen yang memihak pada apa yang gila, saya berpendapat bahwa itu adalah hal keliru. Bagaimana maungkin kita menghakimi dan meendahkan akal kita untuk memahami sesuatu. Kita tidak bisa memahami sesuatu ataupun mengakinya tanpa akal “yang sakit” ini. St. paulus mengatakan bahwa eksistensi Tuhan dapat dikenal dengan pasti oleh intelegensi manusia mulai hanya dari pengalaman di dalam dunia ini saja. St. Thomas Aquinas juga mengakui keutamaan kekuatan-kekuatan serta naluri-naluri manusia jika dibina dengan betul dan gereja juga mendukung itu[9]. Bahkan banyak cabang ilmu mengakui hal itu seperti etika, psikologi, moral, filsafat, dll.

Nietzsche menurut saya adalah seorang filsuf dan seniman yang handal. Ia mampu memposisikan ide dan gagasan serta kritikannya dengan sangat baik sehingga cukup sulit untuk menemukan maksudnya. Namun dari semua ide yang ia paparkan, saya dapat mengerti bahwa ia sebetulnya berbicara tentang ketidakmampuannya untuk menjelaskan realitas yang bersifat metafisis. Ia sebetulnya ingin menyampaikan bahwa manusia tidak layak mengkonsepkan dan tidak mampu berbicara tentang tuhan walaupun percaya karena metafisis berada diluar kendali indra kita. Namun melalui pemikiran-pemikiran dari Nietzsche ini saya belajar untuk harus lebih terbuka terhadap realitas dan selalu berpikir kritis agar apa yang kita yakini adalah sunguh-sungguh benar.

 

 

Daftar Pustaka

Baggini, Julian and Fosl, Peter S., The philosopher’s toolkit : a compendium of philosophical concepts and methods – 2nd ed., United Kingdom: John Wiley & Sons Ltd, 2010.

Kenny, Anthony.  An Illustrated Brief History of Western Philosophy, 2nd ed., Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 2006.

Leahy, Louis. Aliran-Aliran Besar Ateisme, Yogyakarta: Kaninsius, 1985.

Lechte, John. 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Nietzsche, Friedrich. The Birth of Tragedy in The Birth of Tragedy and The Case of Wagne, diterjemahkan oleh Walter Kaufman, New York: Vibtage Book, 1967.

---------- . Der Antichrist, Gutenberg: Cheeta Proudly Presents, 1895.

 



[1] Louis Leahy, Aliran-Aliran Besar Ateisme (Yogyakarta: Kaninsius, 1985), hlm. 23.

[2] Julian Baggini and Peter S. Fosl. The philosopher’s toolkit : a compendium of philosophical concepts and methods – 2nd ed. (United Kingdom: John Wiley & Sons Ltd, 2010), hlm. 242.

[3] Anthony Kenny, An Illustrated Brief History of Western Philosophy, 2nd ed (Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 2006), hlm. 329-332.

[4] Louis Leahy, Aliran-Aliran Besar Ateisme (Yogyakarta: Kaninsius, 1985), hlm. 24.

[5] Anthony Kenny, An Illustrated Brief History of Western Philosophy, 2nd ed. (Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 2006), hlm.

[6] Friedrich Nietzsche, The Birth of Tragedy in The Birth of Tragedy and The Case of Wagne, diterjemahkan oleh Walter Kaufman (New York: Vibtage Book, 1967), hlm. 32.

[7] Friedrich Nietzsche, Der Antichrist (Gutenberg: Cheeta Proudly Presents, 1895), hlm. 1210, dikutip dari Louis Leahy, Aliran-Aliran Besar Ateisme (Yogyakarta: Kaninsius, 1985), hlm. 31.

[8] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme sampai Postmodernitas (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 332.

[9] Louis Leahy, Aliran-Aliran Besar Ateisme (Yogyakarta: Kaninsius, 1985), hlm. 31.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

  MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR   Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan) [1] Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung. Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangs...

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...