Langsung ke konten utama

PERAN BUDAYA DALAM MEMBENTUK IDENTITAS BANGSA

 

PERAN BUDAYA DALAM MEMBENTUK IDENTITAS BANGSA

Disusun oleh: SIRILUS TOWA

 

1.      TESIS

Peran budaya dalam membentuk identitas Bangsa Indonesia

Indonesia selain sebagai Negara yang demokrasi, juga dikenal sebagai Negara kepulauan yang kaya akau budaya. Kebudayaan di Indonesia sangatlah besar dan majemuk tentunya turut berperan dalam membingkai dan membentuk identitas diri dari bangsa ini. 'Identitas' merupakan unsur yang sangat diperlukan setiap manusia[1] sehingga jika orang tidak memiliki atau menginginkan identitas dapat dianggap paling aneh dan paling buruk mencurigakan, tidak bermoral atau seram. Pancasila sebagai dasar dan wadah nilai bangsa, turut menjadi bukti kesatuan dari keberagaman budaya di Indonesia.

 

2.      ARGUMENTASI/ PEMBAHASAN

Konsep Identitas

konsep identitas menurut Brubaker dan Cooper[2]: (a) identitas sebagai bentuk tindakan sosial non-instrumental; (b) identitas sebagai fenomena kolektif kesamaan kelompok; (c) identitas sebagai bentuk kedirian yang mendalam dan mendasar; (d) identitas sebagai interaktif, produk proses sosial yang kontingen dan kontingen; dan (e) identitas sebagai mode 'diri' yang berfluktuasi, tidak stabil, dan terfragmentasi.

Dalam perkembangannya , kebudayaan di Indonesia sudah ada sejah dahulu kala bahkan sebelum terbentuknya bangsa ini. Untuk itu, harus kita akui bahwa ada begitu banyak unsur kebudayaan yang telah diwariskan kepada generasi berikutnya yang dikemudian hari baik dsadar atau tidak turut membentuk dan memperkaya bangsa ini.

Adapun relasi yang dapat dikaitkan dengan konsep identitas diatas adalah: (a) keudayaan itu berkembang secara tidak teratur menurut penggunanya dan mampu untuk mendominasi budaya lain; (b) mampu menggambarkan sebuah kelompok secara keseluruhan denhgan kekhasannya sendiri-sendiri; (c) menjadi gambaran umum kelompok pemakainya dan cirri pembeda dengan kelompok lain; (d) muncul karena adanya rasa persaudaraan dan membentuk keseragaman dan ikatan antar pribadi dan selalu diwariskan; (e) walaupun dapat hilang dan mudah untuk berubah dan punah, namun mampu menjadi identitas dari sebuah kelompok.

Konsep Budaya

asal-usul konsep ‘Budaya’[3].

1.   Budaya sebagai sesuatu yang kita rayakan, atau tepatnya sebagai suatu kategori kognitif: disini budaya dimengerti sebagai pernyataan umum mengenai cara berpikir. Kategori kognitif ini membawa kita pada gagasan mengenai kesempurnaan, sebuah tujuan atau keinginan akan pencapaian manusia, baik secara individu maupun secara emansipasi.

2.   Budaya sebagai sesuatu yang melekat dan suatu kategori kolektif: disini budaya mendorong kondisi perkembangan intelektual, dan atau moral dalam masyarakat. Ide mengenai budaya ini bagaimanapun juga telah memunculkan gagasan mengenai budaya ke dalam wilayah kehidupan kolektif lebih daripada kesadaran individual.

3.   Budaya sebagai kategori konkrit dan deskriptif; yakni budaya dipandang sebagai kesatuan kolektif dalam kerja seni dan intelektual dalam suatu masyarakat. Pengertian ini lebih dekat dengan kosa-kata dalam kehidupan sehari-hari tentang istilah ‘budaya’. Suatu cara pandang yang menjadikan budaya sebagai suatu: keistimewaan, keeksklusifan, elitisme, pengetahuan yang khusus, dan pelatihan atau sosialisasi. Cara pandang ini meliputi suatu pengertian yang mapan tentang budaya, sebagai dunia yang diproduksi dan masyarakat.

4.   Budaya sebagai kategori sosial; disini budaya dianggap sebagai keseluruhan cara-pandang hidup manusia. Cara pandang ini bersifat pluralis dan merupakan pengertian yang secara potensial bersifat demokratis atas konsep yang menjadi wilayah perhatian sosiologi dan antropologi, dan akhir-akhir ini dalam pengertian yang lebih spesifik yaitu dalam kajian budaya.Budaya bukanlah perilaku, bukan pula pencarian perilaku dalam semua

Kebudayaan Indonesia

            Pengertian kebudayaan menurut Lorens bagus [4]. Pertama, kebudayaan merupakan seluruh nilai material dan spiritual yang telah diciptakan atau sedang diciptakanoleh masyarakat selama sejarah. Kedua, kebudayaan berarti pengolahan dan pengembangan kemampuan-kemampuan manusiawi yang melampaui keadaan alamiah; di sini, kebudayaan sebagai pendidikan rohani. Ketiga, kebudayaan saat ini dipakai untuk mengartikan apa yang manusia tambahkanpada alam, entah di dalam dirinya sendiri atau pun di dalam objek lain. Kebudayaan lahir atas tanggapan manusia pada alam. Manusia mau tidak mau berakar pada alam (natura) dan manusia menciptakan kebudayaan (cultura)[5]. Agar suatu kebudayaan nasional dapat didukung dari warga suatu Negara maka sebagai syarat sifatnya harus khas dan harus dapat dibanggakan oleh warga Negara yang mendukungnya. Hal itu perlu karena suatu kebudayaan nasional harus dapat memberi identitas kepada warga Negara itu[6]. Karena itu, syarat agar suatu unsur kebudayaan Indonesia itu bisa memberikan identitas kepada warga negaranya, ia harus menimbulkan rasa bangga kepada mereka dengan kualitas yang baik.

Sejarah historis bangsa Indonesia yang berkembang sejak dahulu kala tentunya tidak terlepas dari empat faktor utama, pertama, letak dan posisi Indonesia, kedua adalah luas wilayah Indonesia yang terbagi menjadi begitu banyak pulau. Ketiga, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar yang menduduki peringkat ke-empat dunia. Keempat, suku di Indonesia yang mencapai 300 suku. Hal ini membuktikan bahwa pada dasarnya adalah bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan beragam. Keberagaman ini tertunya bersifat paradoks karena mempunyai sisi baik dan buruk. Untuk menyatukan itu semua, dan atas dasar semangat persatuan dan perasaan senasib maka dibentuklah Pancasila sebagai wadah, dasar, simbol, ciri dan produk asli masyarakat Indonesia.

3.      Kritik dan Relevansi

Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, dan adat yang berbeda-beda. Walaupun di satu pihak kita bangga akan sifat keberagaman dan aneka warna bangsa kita namun banyak juga masalah yang timbul dari persoalan budaya. Dalam perkembangan dan perjalanan bangsa ini, Pancasila menjamin kesatuan seluruh bangsa ini. Karena itulah pncasila diakui sebagai nilai-nilai yang digali dari kebudayaan Indonesiadan dimaksudkan sebagai dasar Negara yang akan meresapi kebudayaan Indonesia. Adapun dalam culture, Kroeber dan Kluckholn mengatakan bahwa[7]:

“kelengkapannya yang kongkrit. Bagian dari budaya terdiri dalam norma-norma bagi standar perilaku. Meski begitu, bagian lain terdiri dari ideologi yang membenarkan atau merasionalisasikan pemilihan perilaku tertentu. Pada akhirnya,setiap budaya mencakup prinsip-prinsip umum yang luas atas proses memilih dan menata (faktor-faktor bersama yang tertinggi) pola-pola tentang, dan untuk berperilaku dalam wilayah keragaman isi budaya yang dapat tereduksi pada generalisasi yang tidak memadai”

 

Maksudnya adalah bahwa ada begitu banyak faktor yang membentuk bangsa ini. Dan semuannya itu telah dituangkan secara sangat terperinci dalam Pancasila. Apa yang terkandung dalam pancasila itu tentunya adalah hasil dari proses panjang bagaimana rakyat Indonesia menggali nilai terdalam dari bangsa ini mulai dari ide, gagasan, moral, hukum, rasa persaudaraan dan hingga pada keberagaman yang ada. Sebagai generasi penerus bangsa, kita diajak untuk terus mempertahankan keutuhan bangsa ini dan mewariskannya kegenerasi berikutnya agar kepadatan dan kompleksitas nilai Pancasila it uterus bertahan selamanya. Salah satu sikap mendasar yang harus kita tanamkan adalah cinta tanah air dan nasionalisme karena nasionalisme merupakan sesuatu yang sudah sangat tua dan diwariskan tentu saja oleh “kejayaan nenek moyang yang begitu agung“ (“absolutely splendid ancestors“). Bagaimanapun nasionalisme merupakan sesuatu yang tumbuh secara alamiah dalam darah dan daging tiap-tiap dari kita[8].

            Manusia dari kodratnya merupakan makhluk berpikir, ingin mengenal, menggagas, merefleksikan dirinya, sesamanya, Tuhannya, hidup kesehariannya, lingkungan dunia kehadirannya, asal dan tujuan keberadaannya, dan segala sesuatu yang berpartisipasi dalam kehadirannya[9]. Karena alasan inilah maka lahirlah kebudayaan. Kebudayaan melahirkan begitu banyak nilai dalam tatanan hidup bersama apalagi kalau kebudayaan ini mampu mengikat anggota kelompok yang besar. Kebudayaan Indonesia menjadi cikal bakal nilai Pancasila yang hingga saat ini kita jaga. Kekhassan dan keaslian dari kebudayaan inilah yang membentuk kebudayaan nasional dan dipandang sebagai “identitas bangsa”.

 

 

 

Daftar pustaka

Anderson, Benedict.  Nasionalisme Indonesia Kini dan di Masa Depan (Diterjemahkan dari “National Today and in the Future” dari New Left Review I/235 May-June 1999) oleh Bramantya Basuki pada November 2010.

 

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996.

 

Dewantara, Agustinus W., FILSAFAT MORAL: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 2017.

 

Gunawan, L.A.S., Filsafat Nusantara: Sebuah Pemikiran tentang Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 2020.

 

Jenks, Chris. Culture, Routledge: Key Idea, 1993.

 

Koentjoroningrat. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia, 1987.

 

Kroeber, A. L dan Kluckholn, C., Culture: A Critical Review of Concepts and Definition, New York: Vintage Book, 1952.

 

Maleševic, Siniša, Identity as Ideology Understanding Ethnicity and Nationalism, New York: Palgrave Macmillan, 2006.

 

 

 

 

 



[1] Siniša Maleševic, Identity as Ideology Understanding Ethnicity and Nationalism (New York: Palgrave Macmillan, 2006), hlm. 13.

[2] Ibid., hlm. 17.

[3] Chris Jenks, Culture (Routledge: Key Ideas, 1993), hlm. 6-7.

[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 424.

[5] L.A.S.Gunawan, Filsafat Nusantara: Sebuah Pemikiran tentang Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 2020), hlm. 11-12.

[6] Koentjoroningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: Gramedia, 1987), hlm. 109.

[7] A. L Kroeber dan C. Kluckholn, Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions (New

York: Vintage Book, 1952) hlm. 189.

[8] Benedict Anderson, Nasionalisme Indonesia Kini dan di masa Depan (diterjemahkan dari “ National Today and in the Future” dari New Left Review I/235 May-June 1999 oleh Bramantya Basuki pada November 2010), hlm. 3.

[9] Agustinus W. Dewantara, FILSAFAT MORAL: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia (Yogyakarta: Kanisius, 2017), hlm. 1.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

  MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR   Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan) [1] Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung. Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangs...

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...