Langsung ke konten utama

MAKALAH PATRISTIK YUNANI DAN LATIN

MAKALAH PATRISTIK YUNANI DAN LATIN

 

1.    PENGANTAR

Nama Patristik, mungkin sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita. Kata ini sering kita dengarkan bila kita berbicara mengenai awal mula munculnya masa Bapa-bapa Gereja yang mempertahankan iman agama Kristen. Nama Patristik sendiri berasal dari kata Latin patres yang menunjuk kepada Bapa-bapa Gereja, yang berarti pujangga-pujangga kristen dalam abad pertama Masehi yang meletakkan dasar intelektuil untuk agama Kristen.[1]

2.    ISI

Filsafat Kristen dimulai dengan orang-orang yang disebut para apologit, para pembela agama Kristen yang mencoba membela iman Kristen terhadap filsafat Yunani.[2] Para apologit itu adalah Asitider dari Athena dan Yustinus Martir.Serangan tuduhan-tuduhan waktu itu adalah membalikkan fakta yang baik menjadi buruk terhadap agama Kristen. Dari situlah muncul para apologit untuk membela dan membongkar fakta-fakta yang adaa bahwa agama Kristen percaya kepada Allah yang Esa dan bukan percaya kepada dewa.

A.  Patristik Yunani

a.    Irenaeus (202)

Irenaeus menunjukkan bahwa Allah adalah Esa, oleh karena itu tidak mungkin dari semula ada sesuatu yang di atas Allah atau dibawahnya.[3] Menentang ajaran gnostic, bahwa Kristus turun sebagai Roh ke atas pribadi manusia Yesus, Irenius menandaskan bahwa Yesus Kristus sepenuhnya ialhi dan sekaligus sungguh-sungguh manusiawi. Sebagai putra Allah, sejak awal mula Ia adalah sepenuhnya Allah; sebagai Putra manusia, ia adalah sungguh-sungguh manusia yag lahir dari perawan Maria. Peran Maria sekian penting bagi Irenius karena itu berarti keselamatan itu dibuka baik bagi laki-laki maupun perempuan. Irenius percaya Bahwa keselamatan hakiki merupakan proses pengilahian dan oleh sebab itu Yesus datang dan menjadi manusia agar kamanusiaan itu dapat menjadi Ilahi.

b.   Klemens  dari Aleksandria (150-215)

Tujuan yang ingin Klemens capai, yaitu memberi batasan-batasan kepada ajaran Kristen dalam mempertahankan diri terhadap filsafat Yunani dari aliran gnostik dan menerangi ajaran Kristen dengan pertololongan pemikir Yunani.[4] Bagi klemens filsafat dapat memimpin kepada pengetahuan bahwa Allah adalah  sebab segala sesuatu.[5] “Karena itu filsafat menurut Klemens adalah suatu persiapan yang meretas jalan bagi seseorang yang disempurnakan dalam Kristus”.[6]

Bagi Klemens, di atas segalanya Yesus adalah sabda yang merupakan penyuluh dijalan kehidupan Ilahi.sanda itu adalah imam yang menanggalkan jubahnya yang lama dan menggunakan jubbah baru tatkala mengemban tugas suci: “Tuhan menanggalkan dan mengenakan dengan turun ke wilayah indra” demikian tulisnya tentang inkarnasi. Dalam hal tertentu juga ajaran klemens Nampak sangat dekat dengan Kristologis doketis yang mengatakan bahwa Yesus seluruhnya impassible (apathes): tak dapat menderita. Yesus makan hanya untuk berelasi dengan orang  sekitar dan sebenarnya tidak membutuhkan makan materill.[7]

c.    Origenes (185-254)

Origenes adalah pengganti Klemens menjadi kepala sekolah kateketik.Origenes adalah orang yang pertama memberi uraian sistematis tentang teologia dalam pergumulan mengenai iman dan pengetahuan. Menurut Origenes, iman kurang berguna bagi orang yang “berpengetahuan”, sebab iman hanya perlu bagi orang yang sederhana dan tidak mengerti Kitab Suci secara rohani. Allah adalah Transenden, yang tidak dapat dimengerti, tidak berubah, esa, tetap.Allah adalah pencipta segala sesuatu, dari sebelum dunia diciptakan Allah telah bekerja.

Menurutnya  roh itu diciptakan oleh Allah, tetapi roh itu tidak setia sehingga dibelenggu oleh tubuh. Segala yang bersifat badani adalah akibat dari dosa. Jiwa manusia dapat naik tingkat menjadi malaikat dan akhirnya semua roh kembali kepada Allah. Jadi Origenes mengajarkan bahwa akhirnya semua makhluk yang jahat dan baik akan diselamtkan.[8] Hal ini bila dibandingkan kurang lebih sama dengan pemikiran Plato dengan ajaran dualismenya mengenai jiwa dan tubuh dalam perpindahan jiwa ke dalam hidup yang lain.Origenes menerima ajaran tentang inkarnasi Yesus, yang adalah logos yang menjadi daging, namun pemahamannya tentang relasi logos dan Allah memberi peluang bagi pemahaman bahwa logos memiliki kodrat Ilahi yang lebih rendah, paling tidak dimata sejumlah penafsir kemudian. Bidang spekulasi lainnya yang menyebabkannya dicap sebagai bidah beberapa ratus tahun setelah kematiannya berkaitan dengan teorinya tentang praeksistensi dan perpindahan jiwa.Origenes sendiri tidak terlalu setia dengan kedua teori itu sebagaimana dikritik oleh pengkritiknya kemudian.Namun sayangnya, tuduhan itu menyebabkan karyanya dimusnahkan dimana-mana.

d.   Yustinus martir

Yustinus mengambil alih konsep kaum stoa tentang logos sebagai api ilahi yang menurut mereka merupakan jiwa kosmos. Logos yang sama itu, tandasnya, diakui plato sebagai pola atau prinsip dunia diciptakan. Logos universal itu telah berinkarnasi dalam diri Yesus Kristus dan dimaklumkan kepada para pengikut-Nya baik melalui ajaran maupun sakramen yang ada di dalam gereja.[9] Logos itu berciri ilahi dan ditemukan dalam ciptaan yakni Yesus. Dengan demikian, mendengarkan pewartaan tentang yesus kristus yang merupakan logos berarti memenuhi apa yang telah diberikan kepada manusia dalam penciptaannya yang asli.

Tokoh Bapa Gereja dari sekolah Mazhab Aleksandria:

a.    Gregorius dari Nyssa

Gregorius menunjukkan bahwa iman tidak dapat dijelaskan dengan akal, karena iman lebih tinggi dari pada pengetahuan dengan akal. Iman diterima melalui kebenaran-kebenaran yang diwahyukan Allah.[10] Sedangkan pengetahuan dengan akal berkaitan dengan kebenaran-kebenaran yang dapat dimengerti, karena pengetahuan adalah ilmiah.

Jiwa dan tubuh diciptakan bersamaan, jiwa memberi hidup, tubuh menjadi alat.Jiwa itu tidak dapat mati, karena bagian dari sifat kekal Allah.Setelah mati jiwa tetap terkait pada tubuh.Jadi, setelah kebangkitan tibuh dan jiwa mendapat kebahagiaan kekal. Gregorius tidak mengajarkan perpindahan jiwa ke tubuh yang lain. Kejahatan bersumber dari kehendak bebas manusia.Manusialah yang mengolah hal yang baik sesuai dengan bakat yang diberi dengan dapat dipersatukan dengan Allah.Pengetahuan tidak dapat menyelamatkan, untuk itu perlu iman.Puncak tentang Allah adalah “memandang Allah sendiri”.

B.  Patristik Barat

a.    Tertulianus

 “Iman tanpa hiasan oleh akal atau filsafat, bahkan oleh jenis filsafat yang selaras dengan ajaran-ajaran Kristen, adalah jenis iman yang terbaik. Pertama, filsafat“ berpura-pura mengetahui kebenaran, sementara itu hanya merusak itu, dan apakah itu sendiri dibagi menjadi banyak bid'ah sendiri, oleh berbagai sekte yang saling menjijikkan. "Kedua, doktrin-doktrin kelirunya bertanggung jawab atas ajaran sesat dalam kekristenan. Tidak memiliki iman harus mencari iman, dan pencarian harus berakhir dengan penemuan iman, karena “objekmu, oleh karena itu, dalam pencarian adalah menemukan; dan objek Anda untuk menemukan adalah untuk percaya.” Menurut pemikiran Tertulianus, bagi orang Kristen wahyu sudah cukup , filsafat tidak perlu, karena filsafat adalah sumber bidah. Tetapi Tertulianus tidak menolak adanya pemikiran rasional tentang adanya Allah. Menurutnya jiwa tidak setiap kali diciptakan oleh Allah tersendiri, akan tetapi pembentukkannya diteruskan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka melalui hubungan seksual, sehingga muncullah jiwa baru dan ini nanti akan disebut sebagai ranting dari jiwa Adam.[11]

a.    Agustinus

Agustinus setelah ditahbiskan berusaha untuk mencari keselarasan mengenai iman dan filsafat.Ia pertama-tama menentang adanya aliran skeptisisme, karena ini adalah sikap pertentangan batiniah. Menurutnya, orang dapat meragukan sesuatu, tetapi hal yang tidak dapat diragukan olehnya yaitu bahwa ia ragu-ragu. Jadi, alirang skpetisitme yang meragukan adanya suatu kebenaran adalah salah. Melalui pikiran kita dapat mencapai kebenaran dan kepastian.Aku ragu-ragu maka aki berada, akal dapat berhubungan dengan kenyataan dan mencapai kebenaran.Melalui.

Agustinus lebih banyak menyinggung masalah Trinitas dengan hubungan keberadaan Allah.Segala sesuatu diciptakan Allah dari “tidak ada” menjadi “berada”. Penciptaan adalah suatu creatio ex nihilo”, penciptaan keluar dari “yang tidak ada” (nihil).*** Dasar penciptaan dunia adalah akal dan hikmat Allah.Di dalam akal terdapat gagasan-gagasan dan idea-idea Allah, yang kemudia dunia adalaha pelukisan idea-idea Allah.Manusia mendapat bagian dari idea-idea itu yang adalah dunia roh dan dunia benda, yang berarti jiwa dan tubuh. Jiwa diciptakan bersamaan dengan tubuh, akan tetapi jiwa tidak binasa bersama tubuh , sebab jiwa tidak dapat mati. Hal ini mengenai pangkal pemikiran Agustinus adalah bersifat teologis dan filsafati.Karena baginya segala sumber kebenaran adalah kitab suci. Oleh karena itu akal manusia harus ditaklukkan pada Kitab Suci.******

 

 

 

 

 

 

 



[1] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 18.

[2] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 20.

[3] Dale T. Irvin, Scott W. Sunquist, gerakan Universal, sebuah ulasan sejarah, jilid I: dari Agama Kristen Bahari sampai 1453, penerj. Yosef M. florisan dan alex armanjaya, (ledalero: maumere, 2004) hlm. 187.

[4] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 73.

[5] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 74.

[6] Bdk. Fathers of the second century by Alexander Roberts and James Donaldson, hlm. 305.

[7] Dale T. Irvin, Scott W. Sunquist, gerakan Universal, SebuahUlasanSejarah, jilid I: dari Agama Kristen Baharisampai 1453, diterjemahkan oleh Yosef M. Florisan dan AlexArmanjaya, (Maumere: Ledalero, 2004), hlm. 189.

[8] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 74.

[9] Dale T. Irvin, Scott W. Sunquist, gerakan Universal, SebuahUlasanSejarah, jilid I: dari Agama Kristen Baharisampai 1453, diterjemahkan oleh Yosef M. Florisan dan AlexArmanjaya, (Maumere: Ledalero, 2004), hlm. 185.

[10] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 76

[11] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 72 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

  MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR   Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan) [1] Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung. Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangs...

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...