DEFINISI, DAN IDEOGENESIS DAN PROSES ABSTRAKSI
1.
Pengertian definisi
Definisi ini berasal dari
Bahasa Latin yakni dari kata definitio
yang memiliki arti “penentuan arti” atau “pembatasan”. Sehingga bisa
disimpulkan bahwa pengertian definisi merupakan keterangan yang menguraikan
atau menjelaskan tentang arti suatu kata atau juga ungkapan yang membatasi
makna suatu kata atau juga ungkapan tersebut[1]. Menurut arti kata, definisi berarti pembatasan, artinya menetukan
batas-batas pengertian tertentu sehingga jelas apa yang dimaksudkan, tidak
kabur dan tidak dicampur-adukan dengan pengertian- pengertian lain.[2]
2.
Teknik-Teknik
Mendefinisikan[3]
Teknik-teknik
menyusun definisi bisa dikualifikasikan berdasarkan dua macam arti, yakni arti
intensional dan arti ekstensional.
a.
Definisi
Ekstensional atau Denotatif
Dengan
menunjukkan kelas ditunjukkan oleh definiendium, definisi ekstensional dapat mendefinisikan
arti dari sebuah kata. Setidaknya ada tiga cara untuk menunjukkan anggota
kelas, untuk merujuk kepada mereka, penamaan mereka secara individu, penamaan
mereka sesuai dengan kelompok. Misalnya kalimat ini dan ini adalah kursi dan
this- Anda menunjuk ke arah sejumlah kursi satu per satu.
b.
Definisi
Intensional
Definisi A
untuk menentukan arti dari sebuah kata dengan menunjukkan kualitas atau
karakteristik yang terkandung dalam kata. Sebagai es contoh kalimat adalah air
beku.
Ada
8 teknik yang dikemukakan oleh Nicholas Rescher, yaitu[4]
:
1. Enumerative Definition, yaitu suatu teknik
pendefinisian dengan cara memberikan daftar lengkap dari setia bagian kata yang
didefinisikan, contoh : Propinsi di Indonesia adalah DI Aceh, Sumatra Utara,
Sumatra Barat, (dan seterusnya sampai propinsi terakhir) Kelemahan dari teknik
ini adalah :
1.
Kata yang tidak dapat kita temukan
generanya
2.
Kata yang tidak dapat kita temukan
differentianya
3.
Kata yang tidak dapat ditangkap
maksudnya kecuali bila dihubungkan dengan kata lain, seperti : dan, atau , yang
dan sebagainya
4.
Karena memiliki sifat kesendirian
yang tidak terbatas sehingga tidak ditemukan sifat pembedanya
2. Ostensive Definition, definisi
dibuat dengan mengungkapkan perwakilan dari bagian kata yang didefinisikan,
contoh : Pahlawan bangsa adalah orang yang gugur dalam membela dan
mempertahankan kedaulatan bangsa sepeti Gajah Mada, Diponegoro, Ahmad Yani
3.
Dengan metode Genus danDifference, Yaitu definisi
dengan memperhatikan genus dan difference, contoh : manusia
adalah mahluk simbol (mahluk adalah genus sedangkan simbol adalah difference)
4. Genetic Definition, definisi dibuat dengan
memaparkan organisasi atau unsur-unsur pembangun kata yang didefinisikan,
contoh Ayam bekisar adalah hasil perkawinan silang antara ayam hutan dengan
ayam kampung.
5. Constructive Definition,definisi
yang dibuat dengan mengungkapkan instruksi atau perintah , seperti
mendefinisikan pesawat terbang kertas, penjelasannya dapat diberikan dengan
mengacu bagaimana pesawat terbang kertas itu dibuat.
6. Operational Definition,Definisi yang
dibuat berdasarkan serangkaian percobaan yang dapat menentukan cocok atau
tidaknya kata itu dalam kasus yang khusus sifatnya.
7. Synonymous Definition,defini yang
dibuat dengan menacu pada definiendum yang sama, contoh : laki-laki adalah pria
8. Abbreviative Definition, Definisi
yang dibuat dengan menjelaskan kepanjangan, simbol dari definiendum, contoh :
INA adalah Indonesia, yth adalah yang terhormat.
3.
Pentingnya Definisi
Kenapa
definisi begitu penting? Hal yang di ungkapkan oleh Socrates adalah
tanpadefinisi yang jelas maka yang ada hanya kebingungan mutlak. Berikut adalah alas an mengapa definisi itu sangatlah
penting[5]:
a)
Sebagai arah pemikiran yang konsisten
Kejelasan definisi memberi arah dan batasan sejauh mana seseorang
mengembangkan gagasannya dengan terarah dan tidak membingungkan pembaca atau
pendengar. Misalnya jika seseorang mau berbicara tentang "meja", maka
orang tersebut harus mendefinisikan dengan jelas “meja”
seperti apa yang ingin di bahasnya. Apakah meja makan, meja, tamu, meja rias,
dan lain - lain.
Tanpa kejelasan definisi "meja" maka seseorang akan kesulitan
mengembangakan gagasannya dengan sistematis dan bisa jadi pembaca pun akan
kebingungan memahami maksud penulis atau turut tenggelam dalam kekacauan
tulisan tersebut tanpa disadari.
b)
Setiap orang bisa mempunyai pemahaman yang berbeda-
beda.
Sebagian
penulis begitu mudahnya menggampangkan suatu istilah yang mungkin lazim di
gunakan oleh kebanyakan orang sehingga merasa tidak perlu mendefinisikan
istilah tersebut. Pada hal sangat mungkin orang lain mempunyai pemahaman yang
berbeda pada istilah tertentu walau untuk istilah yang lazim sekali pun. Setiap
istilah bisa di pakai untuk kepentingan tertentu untuk itu perlu di jelaskan
dengan baik.
Contoh
sederhana misalnya untuk kata "tulang" yang biasa
di terjemahkan sebagai
salah satu anggota tubuh manusia maupun hewan, ketika di padankan dengan "banting tulang" maka istilah ini sudah bermakna lain yang sangat berbeda jauh dengan
makna "tulang" dalam pengertian lazimnya.
c)
Definisi yang jelas dan konsisten memperkokoh
gagasan.
Pentingnya
definisi yang jelas serta konsisten dalam suatu gagasan tertentu akan memperkokoh
suatu tulisan (argumentatif). Tulisan yang di kembangkan dari
definisi yang jelas dan konsisten akan sangat terarah dan tersistematis dengan
baik danlebih dari itu akan sulit untuk dibantah. Pembaca
pun akan mendapat pemahaman yang baik dan benar.
4. Aturan-aturan Definisi
Definisi
yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut[6]
:
1.
Definisi tidak boleh membentuk lingkaran, atau dengan kata lain apa yang
didefinisikan tidak boleh masuk ke dalam definisi. Contoh : Logika adalah ilmu
yang menerangkan hukum logika
2. Definis tidak boleh terlalu luas dan terlalu
sempit, contoh : Merpati adalah burung yang dapat terbang (terlalu luas) dan
Kursi adalah tempat duduk yang terbuat dari kayu (terlalu sempit)
3. Definisi harus mengacu pada atribut esensial
yang dimiliki atau terdapat dalam definiendum, contoh : sepatu tidak dapat
didefinisikan hanya dengan menyebutkan bentuk dan bahan pembuatnya tetapi juga
harus diungkapkan kegunaannya.
4. Definisi harus jelas, harus menghindari
kerancuan dan kesamar-samaran, contoh : kehidupan adalah sepotong keju atau
aluminium adalah satu tipe besi yang ringan.
5. Definisi harus literal, definisi yang
diberikan biasanya tidak sesuai dengan definiendumnya kurang lengkap
informasinyasehingga definiens tidak mencerminkan definiendum, contoh : Anjing
adalah sahabat manusia
6. Definisi tidak boleh dalam bentuk kaimat
negatif, contoh : Keindahan adalah suatu keadaan yang tidak jelek.
7. Definisi harus dievaluasi senetral mungkin,
ini ada kaitannya dengan “Loaded” Definition.
8. Definisi yang dibuat harus teris konsisten
dengan definisi yang sudah berlaku, contoh: Ramada adalah rumah yang tidak
berdinding, sedangkan definisi rumah adalah bangunan kecil, dan bangunan adalah
suatu struktur yang ditutup dengan dinding dan atap, jadi ramada adalah rumah
yang tidak berdinding tidak konsisten.
9. Definisi harus dapat dibolak-balikkan dengan
hal yang didefinisikan, contoh : Perempuan adalah wanita, dan wanita adalah
perempuan
BAB V
IDEOGENESIS DAN PROSES ABSTRAKSI
5.1 PENGANTAR
Pengetahuan bisa didefinisikan atau
diberibatasan sebagaimana berikut ini : sesuatu yang ada atau dianggap ada, sesuatu
hasil persesuaian subjek dengan objek, hasil kodrat manusia ingin tahu dan hasil persesuaian
antara induksi dengan deduksi. Selain definisiini, dalam kitab klasik ilmu
logika, Pengetahuan itu didefinisikan sebagai suatu gambaran objek-objek
eksternal yang hadir dalam pikiran manusia[7].
Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah
sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan
adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya.
Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan
pikiran-pikiran. Dalam komunikasi keseharian, kita sering menggunakan kalimat
seperti, “Saya terampil mengoperasikan mesin ini”, “Saya sudah terbiasa menyelesaikan
masalah itu”, “Saya menginformasikan kejadian itu”, “Saya meyakini bahwa masyarakat pasti
mempercayai Tuhan”, “Saya tidak emosi menghadapi orang itu”, dan “Saya
mempunyai pikiran-pikiran baru dalam solusi persoalan itu”.
Ketika mengamati atau menilai suatu perkara,
kita biasanya menggunakan kalimat-kalimat seperti, saya mengetahuinya, saya
memahaminya, saya mengenal, meyakini dan mempercayainya. Berdasarkan realitas
ini, bisa dikatakan bahwa pengetahuan itu memiliki derajat dan tingkatan.
Disamping itu, bisa jadi hal tersebut bagi seseorang adalah pengetahuan,
sementara bagi yang lainnya merupakan bukan pengetahuan. Terkadang seseorang
mengakui bahwa sesuatu itu diketahuinya dan mengenal keadaannya dengan baik,
namun, pada hakikatnya, ia salah memahaminya dan ketika ia berhadapan dengan
seseorang yang sungguh-sungguh mengetahui realitas tersebut, barulah ia
menyadari bahwa ia benar-benar tidak memahami permasalahan tersebut sebagaimana
adanya [8].
Selain versi diatas masih ada jawaban dari
pertanyaan Apa yang dimaksud dengan pengetahuan ? Pengetahuan adalah suatu
keadaan yang hadir dikarenakan persentuhan kita dengan suatu perkara. Keluasan
dan kedalaman kehadiran kondisi-kondisi ini dalam pikiran dan jiwa kita sangat
bergantung pada sejauh mana reaksi, pertemuan, persentuhan, dan hubungan kita
dengan objek-objek eksternal. Walhasil, makrifat dan pengetahuan ialah suatu keyakinan
yang kita miliki yang hadir dalam syarat-syarat tertentu dan terwujud karena
terbentuknya hubungan-hubungan khusus antara subjek (yang mengetahui) dan objek
(yang diketahui) dimana hubungan ini sama sekali kita tidak ragukan. John Dewey
menyamakan antara hakikat itu sendiri dan pengetahuan dan beranggapan bahwa
pengetahuan itu merupakan hasil dan capaian dari suatu penelitian dan
observasi. Menurutnya, pengetahuan seseorang terbentuk dari hubungan dan
jalinan ia dengan realitas-realitas yang tetap dan yang senantiasa berubah.
Dua Macam Kemampuan Kognitif Manusia
Ideogenesis dan proses abstraksi pada
hakikatnya adalah proses pembahasan realitas. Pikiran berfungsi melalui bahasa
dan didalam bahasa. Bahkan dalam banyak kejadian, dapat dihayati kebenaran
ungkapan : ada (sein) yang dapat dipahami adalah bahasa (Gadamer). Bahasa adalah keterbukaan manusia terhadap realitas. Bahasa dan pikiran adalah
tempat terjadinya peristiwa (Geschehen) realitas[9].
Manusia
memiliki dua macam kemampuan kognitif (
kemampuan mengerti) yang kurang lebih teramati/ tidak gaib dan dapat
dirumuskan, yakni indera dan intelek. Indera dapat dibagi menjadi
indera ekstern (kelima indera) dan indera intern (ingatan, imajinasi, dan sebagainya).
Intelek adalah kemampuan inorganis, yakni kemampuan yang tidak bergantung pada
suatu organ badani. Indera terdiri atas bermacam jenisnya, sedangkan intelek
hanya satu, tetapi kemampuan intelek mempunyai berbagai fungsi, seperti
menangkap, mengabstraksikan, menyimpulkan, dan sebagainya[10].
1.
Indera
Pengetahuan indrawi (perceptual) adalah
sesuatu yang dicapai dan diraih melalui indra-indra lahiriah. Sebagai contoh,
kita menyaksikan satu pohon, batu, atau kursi, dan objek-objek ini yang masuk
ke alam pikiran melalui indra penglihatan akan membentuk pengetahuan kita.
Tanpa diragukan bahwa hubungan kita dengan alam eksternal melalui media
indra-indra lahiriah ini, akan tetapi pikiran kita tidak seperti klise foto
dimana gambar-gambar dari apa yang diketahui lewat indra-indra tersimpan
didalamnya.
Pada pengetahuan indrawi terdapat beberapa
faktor yang berpengaruh, seperti adanya cahaya yang menerangi objek-objek
eksternal, sehatnya anggota-angota indra badan (seperti mata, telinga, dan
lain-lain), dan pikiran yang mengubah benda-benda partikular menjadi konsepsi
universal, serta faktor-faktor sosial (seperti adad istiadat). Dengan
faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan indrawi hanya
akan dihasilkan melalui indra-indra lahiriah.
Kegiatan indra hanyalah menangkap (mengalami)
tanpa membuat keputusan. Walau demikian, indra juga merupakan kesadaran aktif/
bukanlah tabula rasa, ia bekerja sesuai dengan lingkaran interpretasi yang kita
kenal. Ia mengumpulkan bahan mentah untuk intelek yamg kemudian dikerjakan oleh
intelek menjadi sebuah keputusan[11].
2.
Intelek
Kecerdasan
intelektual (bahasa Inggris: intelligence
quotient, disingkat IQ)
adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan
sifat pikiran yang mencakup sejumlah
kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan,
menggunakan bahasa, daya tangkap, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya
dengan kemampuan kognitif yang dimiliki
oleh individu. Kecerdasan dapat diukur
dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut
sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang
menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan
perbandingan usia kronologis.
Dari intelek inilah diproses
sebuah kerangka berpikir yang lebih terarah dan terkonsep yang dikenal dengan
nama ide. Yang membuat kita tahun dan mampu memahami sesuatu itu disebut konsep
mental sedangkan yang berkaitan dengan apa yang kita tangkap tentang obyek yang
kita amati itu disebut konsep obyektif karena berdasarkan pada kegiatan
observasi.
Perbedaan Pengetahuan Inderawi dan Pengetahuan Intelektual
Antara pengetahuan inderani dan intelektual
terdapat perbedaan hakikat. Pengetahuan inderani menangkap kenyataan secara
materialiter, berdasarkan aspek konkret dan materialnya, sedangkan intelek
menjangkau kenyataan secara formal. Dalam bentuk pengetahuan inderani yang kita
miliki adalah gambaran-gambaran inderani, sifatnya jasmani. Sedangkan dalam
bentuk intelektual, kita menggunakan konsep/ide yang umum dan abstrak.
Bagi
manusia, satu-satunya pintu gerbang menuju realitas bendawi adalah inderanya.
Tidak ada satu hal pun yang bersifat bendawi dapat masuk ke dalam intelek
selain terlebih dahulu melewati panca indera.
5.3 PROSES ABSTRAKSI DAN PROSES IMATERIALISASI
Inggris: abitraction. Kata
ini berasal dari bahasa Latin abstractio (dari abstrabere
= Menarik dari"). Kata abstractio dapat
disejajarkan dengan kata Yunani aphairesis. Secara harfiah abstraksi
berarti memisahkan suatu bagian dari suatu keseluruhan[12].
Pengertian
Umum
Abstraksi
merupakan sebuah proses yang ditempuh pikiran untuk sampai pada konsep yang
bersifat universal. Proses ini berangkat dari pengetahuan mengenai obyek
individual yang bersifat spasiotemporal (ruang dan waktu). Pikiran melepaskan
sifat individual dari obyek dan membentuk konsep universal.
Beberapa
Pengertian Khusus
Sesuatu
yang dilihat tidak mengacu kepada obyek atau peristiwa khusus. Abstraksi
menyajikan secara simbolis atau secara konseptual serta secara imajinatif
sesuatu yang tidak dialami secara langsung atau konkret.
Beberapa
pengertian khusus dari abstraksi adalah sebagai berikut:
1. Sesuatu yang dilihat tidak mengacu
kepada obyek atau peristiwa khusus. Abstaksi menyajikan secara simbolis atau
secara konseptual secara imajinatif sesuatu yang tidak dialami secara langsung
atau konkret.
2. Hasil akhir dari proses abstraksi.
Dengan proses itu kualitas atau relasi atau cirri dari suatu keseluruhan
dipisahkan sebagai ide dari keseluruhan dipisahkan sebagai ide keseluruhan itu.
3. Dalam logika tradisional , proses
menghasilkan konsep universal daro obyek particular. Misalnya konsep “manusia”
diangkat dari pria dan wanita yang merupakan obyek particular.
4. Aspek atau bentuk kongnisi yang secara
mental menyendirikan cirri-ciri obyek itu dari yang lain. Baik proses maupun
hasil dari penyendirian tersebut disebut abstraksi.
Berbeda dengan makhluk lain, manusia
mempunyai cirri istimewa, yaitu kemampuan berpikir yang ada dalam satu struktur
dengan perasaan dan khendaknya (sering disebut makhluk yang berkesadaran).
Aristoteles memberikan identitas kepada manusia sebagai “animal rationale”.[13]
Kemampuan
mengabstraksi itu dapat menggarap, menerangi ‘kesan’ tadi, dan melepaskannya
dari semua seginya yang material, tetapi tetap mempertahankan hal-hal yang hakiki,
dan niscaya yang kini ‘diangkat’ dari unsur ruang dan waktu. Jadi disini
berlangsung proses abstraksi atau proses immaterialisasi. Pengetahuan abstrak
ini, menurut asal dan isinya, tetap bergantung pada indera, dan berhubungan
dengan realitas.
Sekarang
kesan tersebut, sesudah diangkat dari materi, menjadi cakap dan secara aktual
sanggup diketahui, memasuki level of intelligibility. Berkat aktivitas ini,
yang dalam istilah teknis disebut aprehensi sederhana psikologis muncullah
species intelligibilis impressa. Species intelligibilis impressa tersebut,
berkat aktivitas intellectus agens, kini bertindak sebagai pembantu kemampuan
tahu intelektual manusia, yakni intellectus possibilis. Sedangkan proses
menyadari species intelligibilis impressa
ini disebut aprehensi sederhana logis. Maka muncullah konsep atau ide. Yang
membuat kita tahu atau menangkap sesuatu disebut konsep mental, sedangkan apa
yang kita tangkap tentang objek yang disodorkan, konsep
mental kepada akal budi, disebut konsep objektif.
Secara
umum, proses pengetahuan mengenal dua momen, yaitu momen asensif (momen meningkat) dari tafar indera ini ke taraf
intelektual, dan momen desensif (momen
menurun), yakni kembali menyusun, menghubungkan diri dengan realitas konkret,
kenyataan. Dalam kaitan ini hendaknya diperhatikan bahwa ide/konsep kita tidak
hanya berasal dari abstraksi langsung dari data pengalaman. Pembentukan
ide/konsep juga dapat merupakan hasil dari refleksi, perbandingan, analisis,
sintesis, atau keputusan dan pemikiran. Kecuali itu, dalam pengetahuan
intelektual tidaklah betul jika dikatakan bahwa hanya soal konsep sebab dalam
pengetahuan intelektual, orang bicara tentang ada (realitas), tetapi yang
ditangkapnya melalui ide/konsep.
Taraf Abstraksi Fisik
Abstraksi
fisik. Pada tingkat ini akal mengadakan
abstraksi denganbmemisahkan objek pembahasan
ilmiah dari materi yang dapat dicerap
(diindera). Abstraksi tingkat ini bersangkutan
dengan bidang pembahasan tentang alam. Abstraksi
ini juga disebut abstraksi keseluruhan
(abstractio totius), karena sesuatu itu
dibebaskan dari unsur-unsur individualnya.
Abstraksi ini juga disebut abstraksi pertama,
karena objek tidak dapat dipikirkan tanpa
mengacu pada materi yang dapat diindera
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pikiran
kita belum dapat dihapuskan unsur-unsur
individual, artinya kita masih dapat membayangkan pohon
tertentu, macam makanan tertentu, binatang tertentu atau air
yang mendidih dalam tempat tertentu[14].
Taraf Abstraksi Matematis
Abstraksi
matematis. Pada tingkat ini akal mengadakan
abstraksi dengan memisahkan objek pembahasan dari
bahan inderawi yang secara ilmiah cocok
bagi matematika. Tingkat abstraksi ini juga
disebut abstraksi bentuk (abstractio formae)
karena yang dipentingkan di sini adalah
bentuk, ukuran, kuantitas dan jumlah. Abstraksi
tingkat kedua ini tidak dapat dipisahkan
sama sekali dari materi, akan tetapi
sebaliknya tetap mengacu pada materi yang
fisik. Abstraksi ini mengacu secara tidak
langsung pada materi. Ditinjau dari pengetahuan,
matematika lebih sempurna daripada ilmu
pengetahuan alam, karena yang terdahulu bergerak lebih jauh daripada yang
kemudian[15].
Taraf Abstraksi Metafisis
Abstraksi
metafisik. Abstraksi tingkat ketiga ini
terjadi karena dalam pembahasan yang dipentingkan
adalah pemisahan dari semua materi dan
tidak tergantung pada materi tertentu. Metafisika
merupakan pengetahuan pada tingkat ketiga. Objek
pengetahuan pada tingkat ketiga ini dapat
ada tanpa materi dan dapat dipikirkan atau
dibayangkan tanpa mengacu pada materi atau
benda fisik. Dengan demikian pengetahuan tingkat
ketiga disebut pengetahuan sesudah dan mengatasi fisika[16].
Dapat dikatakan pengetahuan pada tahap ini selalu berkaitan dengan hal yang
tidak terlihat dan luas seperti Tuhan dan sebagainya.
5.4 ABSTRAKSI TOTAL DAN ABSTRAKSI PARSIAL
Abstraksi Total atau Universal
Abstraksi
total. Ini merupakan abstraksi yang universal dari yang partikular. Misalnya,
abstraksi konsep universal "manusia" dari manusia khusus. Disebut
total karena hasilnya selalu merupakan suatu keseluruhan, yakni suatu
gabungan atau campuran yang terjadi karena suatu subyek dan suatu
"bentuk". Misalnya, manusia adalah suatu subyek yang mempunyai kodrat
manusiawi[17].
Abstraksi Parsial atau Formal
Abstraksi
formal. Ini merupakan abstraksi "bentuk" dari subyek. Misalnya,
abstraksi "Kemanusiaan" dari manusia- manusia konkret atau gerak dari
benda-benda yang bergerak[18].
Dalam kegiatan abstraksi ini, kita hanya mengabstraksikan suatu bagian (pars),
suatu cirri tertentu (forma) dari benda-benda individual atau benda-benda
universal abstrak. Berkat abstraksi ini, kita dapat mengenali benda-benda dalam
bagian-bagiannya menurut aspek yang berbeda. Dalam logika kedua bentuk
abstraksi tersebut senantiasa dipakai. Bahkan praktek pemikiran tidak mungkin
terjadi tanpa proses abstraksi ini karena menjadi asal dan dasar dari sebuah
pemikiran.
5.5 ABSTRAKSI DAN SUBSTANSI
REALITAS
Substansi
adalah sesuatu yang ada yang mampu berdiri berdiri
sendiri. Keberadaan substansi tidak bergantung
pada yang ada lainnya. Kedudukan substansi
yang mampu berdiri sendiri ini menunjukkan
bahwa substansi menjadi tempat beradanya hal-hal
yang lain, misalnya kualitas- kualitas. Kualitas
dikatakan ada kalau “melelcat” pada suatu
substansi. Dalam penggunaan secara khusus,
istilah substansi searti dengan essensi. Istilah essensi
dikaitkan dengan aksidensi, yaitu sifat-si fat
yang tidak harus ada melekat pada sesuatu
hal. Contoh-contoh substansi di antaranya
manusia, kuda, pohon, meja. Benda-benda yang
dibuat contoh itu dapat ada tanpa bergantung
pada yang lain. Di lain pihak, warna
putih, sifat pandai, gemuk, cantik bukanlah
substansi melainkan aksidensi. Disebut demikian
karena hal-hal tersebut dikatakan ada kalau
melekat pada sesuatu. Misalnya yang “berwarna
putih” adalah tembok, langit, kapas, susu.
Sedangkan yang gemuk adalah manusia, hewan, atau tanaman[19].
5.6 STRUKTUR HISTORIKAL PENGALAMAN
Historikalitas.
Hakikat manusia yang
menunjuk kenyataan bahwa manusia tidak dapat direduksi menjadi atau disamakan
dengan benda alami. Pengalaman ini tidaklah statis melainkan sebuah perjumpaan,
sebuah dialog yang tidak habis-habisnya dengan suatu dunia yang Nampak pada
kita sebagai suatu cakrawala yang membuka perspektif yang tidak
terbatasjumlahnya, dan ini memungkinkan
terjadinyaintersubjektivitas dari berbagai kesadaran yang berbeda.
Hal ini secara fundamental
menunjukan kenyataan bahwa kebenaran secara ontologism, bagaimanapun juga,
adalah suatu peristiwa, maka kebenaran hakikatnya terbatas tidak lengkap, dan
sementara. Sebab kebenaran yang lebih benar selalu terungkap terus.
Proposisi
historikalitas adalah penyadaran bagi subjek (interpretator teks) dalam
melakukan analisis (penafsiran teks) diharuskan untuk tidak terlepas dari
kajian pengalaman- pengalaman (historis) yang berkatian dengan teks. Pemahaman
Gadamer tentang sejarah tidak seperti pemahan orang pada umunya, yang
menganggap sejarah adalah bagian dari teks ”mati” (teks mati adalah pemahan
positivistik yang beranggapan sejarah itu mati dan tidak berkontribusi bagi
masa kini atau masa depan). Bagi Gadamer, sejarah adalah objek dinamis yang
perlu dikaji oleh subjek dalam menentukan objektivitas teks (objek).
Prasangka
Historikalitas
Proposisi
ini berangkat dari pemikiran Heidegger yang beranggapan dalam penafsiran
sejarah, diusahakan subjek melakukan visualisasi dan imajinasi
pemikiran.Gadamer mendefinisikan penjelasan tersebut adalah kerja prasangka
subjek. Subjek dalam mengalisis pengalaman diberi kesempatan untuk melakukan
prasangka atas sejarah teks. Menurut Heidegger, dalam penafsiran sejarah,
subjek tidak berangkat dengan otak kosong, subjek harus berangkat dari
prasangka, ide dan gagasan. Tanpa hal tersebut subjek tidak bisa menggiring
sejarah pada posisi dinamisasi. Karena pada intinya, kerja hermeneutika adalah
kerja dialogisasi. Oleh karean itu sejarah harus dibentuk sebagai objek
dinamisasi melalui prasangka subjek. Prasangka subjek adalah pertanyaan awal
atas objek. Ingat, pertanyaan atau prasabgka hanyalah proses bukan akhir.
BAB VI
BAHASA DAN PIKIRAN
6.1 PENGANTAR
Secara garis besar terdapat dua paham tentang
bahasa, yakni instrumentalisme dan determinisme. Instrumentalisme menendang
bahasa sebagai suatu alat untuk mengungkapkan persepsi, pikiran, dan rasa
perasaan (emosi), sedangkan paham determinisme berpendapat bahwa manusia hanya
dapat mempersepsi, berpikir, dan merasakan karena adanya bahasa. Bahasa
merupakan sebuah struktur yang unik yang hanya dimiliki manusia dan
membedakannya dari binatang. Pemilikan bahasa oleh manusia membuatnya menjadi
mahkluk yang dapat berpikir, tanpa bahasa manusia itu sama saja dengan
binatang: tidak dapat berpikir.
Bahasa dan pikiran tidak bisa dipisahkan,
yang satu tidak mungkin ada tanpa yang satu lagi. Pada umumnya para ilmuan
berpendapat , bahwa bahasa itu adalah pikiran dan pikiran itu adalah bahasa.
Pikiran dan bahasa adalah satu dan bersifat nurani: sudah ada di dalam otak
begitu manusia dilahirkan. Oleh Karena itu dapat dikatakan bahwa bahasa adalah
produk alami manusia.
6.2. INSTRUMENTALITAS DAN
DETERMINISME
Secara garis besar terdapat dua paham tentang
bahasa, yakni instru-mentalisme dan determinisme.Instrumentalisme menendang
bahasa sebagai suatu alat untuk mengungkapkan persepsi, pikiran, dan rasa
perasaan (emosi), sedangkan paham determinisme berpendapat bahwa manusia hanya
dapat mempersepsi, berpikir, dan merasakan karena adanya bahasa. Dengan
perkataan lain, menurut paham instrumentalisme bahasa adalah suatu alat,
sedangkan bagi paham determinisme bahasa adalah syarat untuk mempersepsi,
berpikir, dan merasakan. Perbedaan yang diajukan Ferdinand de Saussure
(1857-1913) tentang parole (kegiatan bicara manusia individual) dan language
(bahasa sebagai system) hampir sama sekali tidak dikenal. Kata-kata dialami
sebagai alat ekspresi. Persepsi, pikiran, dan emosi, menurut paham
instrumentalisme, adalah lebih dulu (a priori) dari bahasa, dengan dituturkan
maka persepsi, pikiran, dan emosi dikomunikasikan kepada orang lain.
Determinisme sebaliknya berdalil bahwa
berfungsi sebagai syarat bagi persepsi, kognisi, dan emosi. Dari sinilah
apabila kemudian dikatakan bahwa pengalaman perseorangan terhadap kenyataan
merupakan suatu fungsi dari bahasa masyarakat yang bersangkutan (hipotesis
Whorfsapir). Bahasa dipandang sebagai faktum sosial. Konsep bersifat kolektif
dan hanya sedikit berubah.Konsep-konsep, dalam paham determinisme, laksana
bertumpuk di dalam bahasa sebagai faktum sosial kolektif. Pandangan tentang
bahasa di atas (paham instrumentalisme dan determinisme) yang de facto berperanan dalam banyak
kekacauan tentang konsepsi berpikir dan akhirnya juga tentang masalah kaitan
realitas pikiran bahasa[20].
6.3. PIKIRAN, BAHASA, REALITAS
DAN SISTEM
Pikiran dan bahasa, sesungguhnya merupakan
tempat terjadinya peristiwa realitas. Dengan berpikir, manusia menyelesaikan peristiwa
tersebut. Berpikir berarti membiarkan realitas terjadi sebagai peristiwa
bahasa. Realitaslah yang lebih dulu pada awal mulanya merupakan sumber dan asal
mula pikiran. Oleh sebab itu, berfikir adalah menerima, sedangkan berterima
kasih dan berbicara adalah mendengarkan. Tugas pemikir adalah menjaga
terjadinya peristiwa realitas dengan penuh kesayangan. Dalam berfikir manusia
bukan penguasa, tetapi pengawal realitas. Tiada kata final bagi realitas.
Realitas tetap senantiasa merupakan suatu proses kedatangan serta suatu proses
pemberian, sedangkan berpikir senantiasa merupakan suatu proses berterima
kasih. Proses perjalanan menuju bahasa juga merupakan proses perjalanan menuju
berpikir.
Jadi, pada dasarnya berpikir adalah suatu
tanggapan. Kegiatan berfikir sebagai jawaban terhadap kata suara realitas
mencari ungkapannya yang tepat sehingga realitas dapat menjadi bahasa, dan
selanjutnya dapat dikomunikasikan. Bahasa adalah jawaban manusia terhadap panggilan
realitas kepadanya. Sistem bukan hal yang membuat sesuatu menjadi benar.
Sesuatu itu dikatakan benar ( baik) bukan karena ditetapkan, tetapi karena
benar (baik) maka ditetapkan. Maka sesuatu itu benar (baik) bukan karena diberi
sistem. Bahkan suatu system yang sesuai ditumpangkan hanya sesudah dilakukan
pandangan yang mendasar terhadap realitas. Hal ini pun senantiasa harus
ditinjau kembali, sebab pandangan (mendasar) tentang realitas tidak pernah
final[21].
Maka sistem yang ada juga harus dibongkar. Begitu seterusnya, demi terungkapnya
realitas secara semakin lebih tuntas, yang hakikatnya juga berarti semakin
terungkapnya kadar realitas eksistensi manusia sendiri.
6.4. APAKAH HAKIKAT BERPIKIR
Berpikir yang benar-benar berpikir tidak
identik dengan berfikir dengan berhitung yang hakikatnya pemikiran hanya
berhenti pada aspek kuantitatif dari realitass. Dalam terminologi sehari-hari
dipakai istilah ratio yang berasal dari kata latin reor yang berarti ‘menghitung’. Kadar kebenaran yang sesungguhnya
dari realitas tidak mungkin terjangkau melalui berfikir dengan menghitung.
Berfikir yang benar-benar berfikir bukanlah berfikir dengan menvisualisasikan
(membayangkan). Pada hakikatnya adalah pernyataan bahwa manusia adalah pasif,
‘objektif’ adalah pengingkaran kesertaan mutlak manusia subjek dalam kegiatan
tahu[22].
Berpikir merupakan suatu aktivitas pribadi yang
mengakibatkan penemuaan yang terarah kepada suatu tujuan.Manusia berfikir untuk
menemukan pemahaman atau pengertian pembentukan pendapat, dan simpulari atau
keputusan dari sesuatu yang dikehendaki.Menurut Suria sumantri, manusia
tergolong dalam homo spesies, yaitu makhluk yang berfikir. Hamper tidak ada
masalah yang menyangkut dengan aspek kehidupannya yang terlepas dari jangkauan
pikiran[23].
Berpikir merupakan cirri utama bagi manusia untuk
membedakan dengan makhluk lain. Maka dengan dasar berpikir, manusia dapat
mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir merupakan
proses bekerja akal, manusia dapat berfikir karena manusia berakal. Ciri utama
dari berfikir adalah adanya abstraksi. Dalam arti yang luas, berfikir adalah
bergaul dengan abstraksi- abstraksi. Sedangkan dalam arti yang sempit berfikir
adalah mencari hubungan atau pertalian antara abstraksi-abstraksi[24].
Suhartono menyatakan bahwa manusia mempunyai
kemampuan menalar, artinya berpikir secara logis dan analistis. Kelebihan
manusia dalam kemampuannya menalar dan karena mempunyai bahasa untuk
mengomunikasikan hasil pemikirannya yang abstrak. Maka manusia bukan saja
mempunyai pengetahuan, melainkan juga mampu mengembangkannya[25].
6.5 BERPIKIR TIDAK KONSEPTUAL
Pemikir bukanlah penguasa relitas, ia adalah gembala yang menjaga
terjadinya peristiwa realitas. Maka berfikir secara konseptual adalah bertolak
belakang dengan berfikir yang benar-benar berfikir. Maka konsep atau ekspresi
konseptual adalah (yang) ada tersebut sendiri. Ide adalah realitas, realitas
adalah ide.
Menurut communis opinio, jikalau seseorang ingin menghampiri
kenyataan secara tidak memihak, maka proses kerjanya adalah melalui
induksi menyuling keseragaman-keseragaman dari kenyataan, kemudian
mengungkapkan ke dalam konsepsi-konsepsi dan proposisi-proposisi teoretis. Konsepsi-konsepsi
dan teori-teori yang tersusun dari konsepsi-konsepsi tadi adalah gambar-gambar
kenyataan yang menggambarkan regularitas dan keseragaman-keseragaman kenyataan.
Konsepsi-konsepsi disusun sebegitu rupa untuk memungkikan penguasaan, dan
peramalan.
Pengetahuan adalah pasti manakala anda dalam
praktek dapat memakainya. Benar adalah bila operasional pengetahuan adalah
suatu alat, dibutuhkan untuk berbuat tanpa mempunyai pretense lebih
lanjut.Berfikir tidak konseptual berarti tidak memikirkan bahasa sebagai terdiri
dari atau sebagai senantiasa mencari konsep yang dibatasi dengan jelas dan
secara rasional ditetapkan. Dengan mengartikan bahasa sebagai konsep yang
dibatasi artinya secara jelas dan ditetapkan secara rasional, maka serba statis
dan terkotak-kotak, dengan sendirinya kejelasan dapat dijamin.Tetapi berfikir
seperti itu adalah berfikir secara pemaksaan pada realitas.Inisiatif realitas
ditiadakan.
Konsep adalah peristiwa penjernihan atau
penyelubungan suatu hal. Realitas bukanlah konsep yang pasti, melainkan suatu
peristiwa yang terjadi pada kita, sesuatu yang menjadi terang pada diri kita. Ekspresi
konseptual seharusnya tidak dipandang dan diperlakukan sebagai ekspresi
sempurna dari terminus perjumpaan (karenya menjadi konseptualisasi yang siap
untuk dianalisis), tetapi niscaya dipandang dan diperlukan sebagai suatu
perseptif (abschattung), sebagai artikulasi realitas dalam prosesnya untuk
membahas[26]. Kegiatan
berfikir adalah jawaban terhadap kata suara realitas, mencari konsep
ungkapannya yang tepat sehingga realitas dapat menjadi bahasa. Arti senantiasa
lebih luas dari yang mungkin diungkapkan dalam ekspresi konseptual atau
diungkapkan secara verbal.
PENUTUP
Kelancaran dan
kejelasan dalam berkomunikasi dan berelasi adalah hal yang sangat dinginkan
oleh semua orang. Kebenaran menjadi titik dasar dari semuannya menuntut kita
untuk berpikir kritis dengan menggunakan kapasitas yang kita miliki serta
proses berpikir yang benar dan lurus. Dalam penjelasan diatas, penulis mengajak
kita untuk berusaha menciptakan sebuah situasi yang aman dan benar dalam
berkomunikasi. Hal ini dapat kita lakukan secara tepat apabila kita mengunakan
bahasa yang benar, proses berpikir yang benar dan tentunya juga mematuhi sistem
komunikasi itu sendiri secara baik.
Daftar pustaka
Diktat
kuliah Bahasa dan Logika, Semester II, Fakultas Filsafat St.Yohanes Pematang Siantar.
Poespoprodjo, W.
dan Gilarso. Logika Ilmu Menalar:
Dasar- DasarBerpikir Logis, Kritis, Analitis, Dialektis, MandiridanTertib. Yogyakarta:
Kanisius, 1989.
Puswanti,
M. Ngalim. Psikologi Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992.
Suhartono, Suparlan.
Dasar-Dasar Filsafat.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2004.
______. Sejarah
Pemikiran Filsafat Modern. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2004.
Suriasumartini,
Jujun S., Ilmu dalam Persepektif, Sebuah
Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
1997.
Http://referensiassyariabdullah.blogspot.com/2008/04/definisi-dan-jenis-jenis
pengetahuan.html
Http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html
Http://alfonsiusjojo-siringoringo.blogspot.com/2011/10/ideogenesis.html
Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html
Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.
html
Http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html.
https://pendidikan.co.id/pengertian-definisi-macam-jenis-beserta-contohnya.html.
https://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/04/08/definisi/
https://www.kompasiana.Com/vanbars//pentingnyadefinisi?page=all#.html.
[1]
Https://pendidikan.co.id/pengertian-definisi-macam-jenis-beserta-contohnya,
diunduh tanggal 23 februari 2020 pkl. 18:30 WIB.
[2]
W. Poespoprodjo dan Gilarso, Logika Ilmu
Menalar: Dasar- Dasar Berpikir Logis, Kritis, Analitis, Dialektis, Mandiri dan
Tertib ( Yogyakarta: Kanisius, 1989) hlm. 65.
[3]
Https://www.gurupendidikan.co.id/8-pengertian-ciri-klasifikasi-dan-teknik-menyusun-definisi-dan-contohnya/
diunduh tanggal 23 februari 2020 pkl. 18:00 WIB.
[4] https://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/04/08/definisi/ diuduh
pada tanggal 20 februari 18: 23 WIB.
[5] Vanbars, PentingnyaDefinisi,diperbarui: 19 November 2018, https: //www.
kompasiana. Com /vanbars//pentingnyadefinisi?page=all#sectionalldiunduhtanggal
23 februari 2020 pkl. 18:23 WIB.
[6] https://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/04/08/definisi/
diuduh pada tanggal 20 februari 18: 23 WIB.
[7]
Http : //referensi assyari Abdullah. blogspot. com/2008/04/
definisi-dan-jenis-jenis-pengetahuan .html diunduh pada 01/03/2020 pkl. 21: 45
WIB.
[8]
Http : //referensi assyari abdullah. blogspot. com/2008/04/
definisi-dan-jenis-jenis-pengetahuan .html diunduh pada 01/03/2020 pkl. 21: 45
WIB.
[9]
Http: //princes manda chibiy. blogspot. com /2016/10/ bahasa-dan-pikiran.html diunduh pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 45
WIB.
[10] Http://alfonsiusjojo-siringoringo .blogspot .com
/2011/10/ ideogenesis. Html diunduh
pada tanggal 30/03/2020 pkl. 23: 05 WIB.
[11] Diktat Bahasa dan Logika,Semester II,
hlm. 13.
[12]
Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html
diunduh pada tanggal 06/03/2020 pkl.22:15WIB.
[13]
Suparlan Suhartono, Dasar-Dasar
Filsafat ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2004) hlm. 36.
[14]
Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html
diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.
[15]
Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html
diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.
[16]
Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html
diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.
[17]
Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html.
diunduh pada tanggal 06/03/2020 pkl.22:15WIB.
[18]
Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html diunduh
pada tanggal 06/03/2020 pkl. 22:15 WIB.
[19]
Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html
diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.
[20]
http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh
pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 45 WIB.
[21]
http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh
pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 45 WIB.
[22]
http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh
pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21:45 WIB.
[23] Jujun
S. Suriasumartini, Ilmu dalam
Persepektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1997) hlm. 1.
[24]
M. Ngalim Puswanti, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 1992) hlm. 44.
[25] Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2004) hlm. 1.
[26]
Http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh
pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 15 WIB.
Komentar