Langsung ke konten utama

IDEOGENESIS DAN PROSES ABSTRAKSI

 

DEFINISI, DAN IDEOGENESIS DAN PROSES ABSTRAKSI

 

 

1.                  Pengertian definisi

Definisi ini berasal dari Bahasa Latin yakni dari kata definitio yang memiliki arti “penentuan arti” atau “pembatasan”. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pengertian definisi merupakan keterangan yang menguraikan atau menjelaskan tentang arti suatu kata atau juga ungkapan yang membatasi makna suatu kata atau juga ungkapan tersebut[1]. Menurut arti kata, definisi berarti pembatasan, artinya menetukan batas-batas pengertian tertentu sehingga jelas apa yang dimaksudkan, tidak kabur dan tidak dicampur-adukan dengan pengertian- pengertian lain.[2]

2.                  Teknik-Teknik Mendefinisikan[3]

Teknik-teknik menyusun definisi bisa dikualifikasikan berdasarkan dua macam arti, yakni arti intensional dan arti ekstensional.

a.      Definisi Ekstensional atau Denotatif

Dengan menunjukkan kelas ditunjukkan oleh definiendium, definisi ekstensional dapat mendefinisikan arti dari sebuah kata. Setidaknya ada tiga cara untuk menunjukkan anggota kelas, untuk merujuk kepada mereka, penamaan mereka secara individu, penamaan mereka sesuai dengan kelompok. Misalnya kalimat ini dan ini adalah kursi dan this- Anda menunjuk ke arah sejumlah kursi satu per satu.

b.      Definisi Intensional

Definisi A untuk menentukan arti dari sebuah kata dengan menunjukkan kualitas atau karakteristik yang terkandung dalam kata. Sebagai es contoh kalimat adalah air beku.

 

 

Ada 8 teknik yang dikemukakan oleh Nicholas Rescher, yaitu[4] :

1. Enumerative Definition, yaitu suatu teknik pendefinisian dengan cara memberikan daftar lengkap dari setia bagian kata yang didefinisikan, contoh : Propinsi di Indonesia adalah DI Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, (dan seterusnya sampai propinsi terakhir) Kelemahan dari teknik ini adalah :

1.      Kata yang tidak dapat kita temukan generanya

2.      Kata yang tidak dapat kita temukan differentianya

3.      Kata yang tidak dapat ditangkap maksudnya kecuali bila dihubungkan dengan kata lain, seperti : dan, atau , yang dan sebagainya

4.      Karena memiliki sifat kesendirian yang tidak terbatas sehingga tidak ditemukan sifat pembedanya

2. Ostensive Definition, definisi dibuat dengan mengungkapkan perwakilan dari bagian kata yang didefinisikan, contoh : Pahlawan bangsa adalah orang yang gugur dalam membela dan mempertahankan kedaulatan bangsa sepeti Gajah Mada, Diponegoro, Ahmad Yani

3. Dengan metode Genus danDifference, Yaitu definisi dengan memperhatikan genus dan difference, contoh : manusia adalah mahluk simbol (mahluk adalah genus sedangkan simbol adalah difference)

4. Genetic Definition, definisi dibuat dengan memaparkan organisasi atau unsur-unsur pembangun kata yang didefinisikan, contoh Ayam bekisar adalah hasil perkawinan silang antara ayam hutan dengan ayam kampung.

5. Constructive Definition,definisi yang dibuat dengan mengungkapkan instruksi atau perintah , seperti mendefinisikan pesawat terbang kertas, penjelasannya dapat diberikan dengan mengacu bagaimana pesawat terbang kertas itu dibuat.

6. Operational Definition,Definisi yang dibuat berdasarkan serangkaian percobaan yang dapat menentukan cocok atau tidaknya kata itu dalam kasus yang khusus sifatnya.

7. Synonymous Definition,defini yang dibuat dengan menacu pada definiendum yang sama, contoh : laki-laki adalah pria

8. Abbreviative Definition, Definisi yang dibuat dengan menjelaskan kepanjangan, simbol dari definiendum, contoh : INA adalah Indonesia, yth adalah yang terhormat.

 

 

3.        Pentingnya Definisi

Kenapa definisi begitu penting? Hal yang di ungkapkan oleh Socrates adalah tanpadefinisi yang jelas maka yang ada hanya kebingungan mutlak. Berikut adalah alas an mengapa definisi itu sangatlah penting[5]:

a)        Sebagai arah pemikiran yang konsisten

         Kejelasan definisi memberi arah dan batasan sejauh mana seseorang mengembangkan gagasannya dengan terarah dan tidak membingungkan pembaca atau pendengar. Misalnya jika seseorang mau berbicara tentang "meja", maka orang tersebut harus mendefinisikan dengan jelas meja seperti apa yang ingin di bahasnya. Apakah meja makan, meja, tamu, meja rias, dan lain - lain. 

         Tanpa kejelasan definisi "meja" maka seseorang akan kesulitan mengembangakan gagasannya dengan sistematis dan bisa jadi pembaca pun akan kebingungan memahami maksud penulis atau turut tenggelam dalam kekacauan tulisan tersebut tanpa disadari.

b)         Setiap orang bisa mempunyai pemahaman yang berbeda- beda.

Sebagian penulis begitu mudahnya menggampangkan suatu istilah yang mungkin lazim di gunakan oleh kebanyakan orang sehingga merasa tidak perlu mendefinisikan istilah tersebut. Pada hal sangat mungkin orang lain mempunyai pemahaman yang berbeda pada istilah tertentu walau untuk istilah yang lazim sekali pun. Setiap istilah bisa di pakai untuk kepentingan tertentu untuk itu perlu di jelaskan dengan baik.

Contoh sederhana misalnya untuk kata "tulang" yang biasa di terjemahkan sebagai salah satu anggota tubuh manusia maupun hewan, ketika di padankan dengan "banting tulang" maka istilah ini sudah bermakna lain yang sangat berbeda jauh dengan makna "tulang" dalam pengertian lazimnya.

 

c)          Definisi yang jelas dan konsisten memperkokoh gagasan.

Pentingnya definisi yang jelas serta konsisten dalam suatu gagasan tertentu akan memperkokoh suatu tulisan (argumentatif). Tulisan yang di kembangkan dari definisi yang jelas dan konsisten akan sangat terarah dan tersistematis dengan baik danlebih dari itu akan sulit untuk dibantah. Pembaca pun akan mendapat pemahaman yang baik dan benar. 

4.  Aturan-aturan Definisi

Definisi yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut[6] :

1. Definisi tidak boleh membentuk lingkaran, atau dengan kata lain apa yang didefinisikan tidak boleh masuk ke dalam definisi. Contoh : Logika adalah ilmu yang menerangkan hukum logika

2.   Definis tidak boleh terlalu luas dan terlalu sempit, contoh : Merpati adalah burung yang dapat terbang (terlalu luas) dan Kursi adalah tempat duduk yang terbuat dari kayu (terlalu sempit)

3.   Definisi harus mengacu pada atribut esensial yang dimiliki atau terdapat dalam definiendum, contoh : sepatu tidak dapat didefinisikan hanya dengan menyebutkan bentuk dan bahan pembuatnya tetapi juga harus diungkapkan kegunaannya.

4.   Definisi harus jelas, harus menghindari kerancuan dan kesamar-samaran, contoh : kehidupan adalah sepotong keju atau aluminium adalah satu tipe besi yang ringan.

5.   Definisi harus literal, definisi yang diberikan biasanya tidak sesuai dengan definiendumnya kurang lengkap informasinyasehingga definiens tidak mencerminkan definiendum, contoh : Anjing adalah sahabat manusia

6.   Definisi tidak boleh dalam bentuk kaimat negatif, contoh : Keindahan adalah suatu keadaan yang tidak jelek.

7.   Definisi harus dievaluasi senetral mungkin, ini ada kaitannya dengan “Loaded” Definition.

8.   Definisi yang dibuat harus teris konsisten dengan definisi yang sudah berlaku, contoh: Ramada adalah rumah yang tidak berdinding, sedangkan definisi rumah adalah bangunan kecil, dan bangunan adalah suatu struktur yang ditutup dengan dinding dan atap, jadi ramada adalah rumah yang tidak berdinding tidak konsisten.

9.   Definisi harus dapat dibolak-balikkan dengan hal yang didefinisikan, contoh : Perempuan adalah wanita, dan wanita adalah perempuan


BAB V

IDEOGENESIS DAN PROSES ABSTRAKSI

 

5.1 PENGANTAR

Pengetahuan bisa didefinisikan atau diberibatasan sebagaimana berikut ini : sesuatu yang ada atau dianggap ada, sesuatu hasil persesuaian subjek dengan objek,  hasil kodrat manusia ingin tahu dan hasil persesuaian antara induksi dengan deduksi. Selain definisiini, dalam kitab klasik ilmu logika, Pengetahuan itu didefinisikan sebagai suatu gambaran objek-objek eksternal yang hadir dalam pikiran manusia[7].

Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran. Dalam komunikasi keseharian, kita sering menggunakan kalimat seperti, “Saya terampil mengoperasikan mesin ini”, “Saya sudah terbiasa menyelesaikan masalah itu”, “Saya menginformasikan kejadian itu”,  “Saya meyakini bahwa masyarakat pasti mempercayai Tuhan”, “Saya tidak emosi menghadapi orang itu”, dan “Saya mempunyai pikiran-pikiran baru dalam solusi persoalan itu”.

Ketika mengamati atau menilai suatu perkara, kita biasanya menggunakan kalimat-kalimat seperti, saya mengetahuinya, saya memahaminya, saya mengenal, meyakini dan mempercayainya. Berdasarkan realitas ini, bisa dikatakan bahwa pengetahuan itu memiliki derajat dan tingkatan. Disamping itu, bisa jadi hal tersebut bagi seseorang adalah pengetahuan, sementara bagi yang lainnya merupakan bukan pengetahuan. Terkadang seseorang mengakui bahwa sesuatu itu diketahuinya dan mengenal keadaannya dengan baik, namun, pada hakikatnya, ia salah memahaminya dan ketika ia berhadapan dengan seseorang yang sungguh-sungguh mengetahui realitas tersebut, barulah ia menyadari bahwa ia benar-benar tidak memahami permasalahan tersebut sebagaimana adanya [8].

Selain versi diatas masih ada jawaban dari pertanyaan Apa yang dimaksud dengan pengetahuan ? Pengetahuan adalah suatu keadaan yang hadir dikarenakan persentuhan kita dengan suatu perkara. Keluasan dan kedalaman kehadiran kondisi-kondisi ini dalam pikiran dan jiwa kita sangat bergantung pada sejauh mana reaksi, pertemuan, persentuhan, dan hubungan kita dengan objek-objek eksternal. Walhasil, makrifat dan pengetahuan ialah suatu keyakinan yang kita miliki yang hadir dalam syarat-syarat tertentu dan terwujud karena terbentuknya hubungan-hubungan khusus antara subjek (yang mengetahui) dan objek (yang diketahui) dimana hubungan ini sama sekali kita tidak ragukan. John Dewey menyamakan antara hakikat itu sendiri dan pengetahuan dan beranggapan bahwa pengetahuan itu merupakan hasil dan capaian dari suatu penelitian dan observasi. Menurutnya, pengetahuan seseorang terbentuk dari hubungan dan jalinan ia dengan realitas-realitas yang tetap dan yang senantiasa berubah.

 

5.2 IDEOGENESIS

Dua Macam Kemampuan Kognitif Manusia

Ideogenesis dan proses abstraksi pada hakikatnya adalah proses pembahasan realitas. Pikiran berfungsi melalui bahasa dan didalam bahasa. Bahkan dalam banyak kejadian, dapat dihayati kebenaran ungkapan : ada (sein) yang dapat dipahami adalah bahasa (Gadamer). Bahasa adalah keterbukaan manusia terhadap realitas. Bahasa dan pikiran adalah tempat terjadinya peristiwa (Geschehen) realitas[9].

Manusia memiliki dua macam kemampuan kognitif  ( kemampuan mengerti) yang kurang lebih teramati/ tidak gaib dan dapat dirumuskan, yakni indera dan intelek. Indera dapat dibagi menjadi indera ekstern (kelima indera) dan indera intern (ingatan, imajinasi, dan sebagainya). Intelek adalah kemampuan inorganis, yakni kemampuan yang tidak bergantung pada suatu organ badani. Indera terdiri atas bermacam jenisnya, sedangkan intelek hanya satu, tetapi kemampuan intelek mempunyai berbagai fungsi, seperti menangkap, mengabstraksikan, menyimpulkan, dan sebagainya[10].

1.      Indera

Pengetahuan indrawi (perceptual) adalah sesuatu yang dicapai dan diraih melalui indra-indra lahiriah. Sebagai contoh, kita menyaksikan satu pohon, batu, atau kursi, dan objek-objek ini yang masuk ke alam pikiran melalui indra penglihatan akan membentuk pengetahuan kita. Tanpa diragukan bahwa hubungan kita dengan alam eksternal melalui media indra-indra lahiriah ini, akan tetapi pikiran kita tidak seperti klise foto dimana gambar-gambar dari apa yang diketahui lewat indra-indra tersimpan didalamnya.

Pada pengetahuan indrawi terdapat beberapa faktor yang berpengaruh, seperti adanya cahaya yang menerangi objek-objek eksternal, sehatnya anggota-angota indra badan (seperti mata, telinga, dan lain-lain), dan pikiran yang mengubah benda-benda partikular menjadi konsepsi universal, serta faktor-faktor sosial (seperti adad istiadat). Dengan faktor-faktor tersebut tidak bisa dikatakan bahwa pengetahuan indrawi hanya akan dihasilkan melalui indra-indra lahiriah.

Kegiatan indra hanyalah menangkap (mengalami) tanpa membuat keputusan. Walau demikian, indra juga merupakan kesadaran aktif/ bukanlah tabula rasa, ia bekerja sesuai dengan lingkaran interpretasi yang kita kenal. Ia mengumpulkan bahan mentah untuk intelek yamg kemudian dikerjakan oleh intelek menjadi sebuah keputusan[11].

2.      Intelek

Kecerdasan intelektual (bahasa Inggrisintelligence quotient, disingkat IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalarmerencanakanmemecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasadaya tangkap, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.

Dari intelek inilah diproses sebuah kerangka berpikir yang lebih terarah dan terkonsep yang dikenal dengan nama ide. Yang membuat kita tahun dan mampu memahami sesuatu itu disebut konsep mental sedangkan yang berkaitan dengan apa yang kita tangkap tentang obyek yang kita amati itu disebut konsep obyektif karena berdasarkan pada kegiatan observasi.

Perbedaan Pengetahuan Inderawi dan Pengetahuan Intelektual

 Antara pengetahuan inderani dan intelektual terdapat perbedaan hakikat. Pengetahuan inderani menangkap kenyataan secara materialiter, berdasarkan aspek konkret dan materialnya, sedangkan intelek menjangkau kenyataan secara formal. Dalam bentuk pengetahuan inderani yang kita miliki adalah gambaran-gambaran inderani, sifatnya jasmani. Sedangkan dalam bentuk intelektual, kita menggunakan konsep/ide yang umum dan abstrak.

Bagi manusia, satu-satunya pintu gerbang menuju realitas bendawi adalah inderanya. Tidak ada satu hal pun yang bersifat bendawi dapat masuk ke dalam intelek selain terlebih dahulu melewati panca indera.

 

5.3 PROSES ABSTRAKSI DAN PROSES IMATERIALISASI

Inggris: abitraction. Kata ini berasal dari bahasa Latin abstractio (dari abstrabere =  Menarik dari"). Kata abstractio dapat disejajarkan dengan kata Yunani aphairesis. Secara harfiah abstraksi berarti memisahkan suatu bagian dari suatu keseluruhan[12].

Pengertian Umum

Abstraksi merupakan sebuah proses yang ditempuh pikiran untuk sampai pada konsep yang bersifat universal. Proses ini berangkat dari pengetahuan mengenai obyek individual yang bersifat spasiotemporal (ruang dan waktu). Pikiran melepaskan sifat individual dari obyek dan membentuk konsep universal.

Beberapa Pengertian Khusus

Sesuatu yang dilihat tidak mengacu kepada obyek atau peristiwa khusus. Abstraksi menyajikan secara simbolis atau secara konseptual serta secara imajinatif sesuatu yang tidak dialami secara langsung atau konkret.

Beberapa pengertian khusus dari abstraksi adalah sebagai berikut:

1.   Sesuatu yang dilihat tidak mengacu kepada obyek atau peristiwa khusus. Abstaksi menyajikan secara simbolis atau secara konseptual secara imajinatif sesuatu yang tidak dialami secara langsung atau konkret.

2.   Hasil akhir dari proses abstraksi. Dengan proses itu kualitas atau relasi atau cirri dari suatu keseluruhan dipisahkan sebagai ide dari keseluruhan dipisahkan sebagai ide keseluruhan itu.

3.   Dalam logika tradisional , proses menghasilkan konsep universal daro obyek particular. Misalnya konsep “manusia” diangkat dari pria dan wanita yang merupakan obyek particular.

4.  Aspek atau bentuk kongnisi yang secara mental menyendirikan cirri-ciri obyek itu dari yang lain. Baik proses maupun hasil dari penyendirian tersebut disebut abstraksi.

Berbeda dengan makhluk lain, manusia mempunyai cirri istimewa, yaitu kemampuan berpikir yang ada dalam satu struktur dengan perasaan dan khendaknya (sering disebut makhluk yang berkesadaran). Aristoteles memberikan identitas kepada manusia sebagai “animal rationale”.[13]

Kemampuan mengabstraksi itu dapat menggarap, menerangi ‘kesan’ tadi, dan melepaskannya dari semua seginya yang material, tetapi tetap mempertahankan hal-hal yang hakiki, dan niscaya yang kini ‘diangkat’ dari unsur ruang dan waktu. Jadi disini berlangsung proses abstraksi atau proses immaterialisasi. Pengetahuan abstrak ini, menurut asal dan isinya, tetap bergantung pada indera, dan berhubungan dengan realitas.

Sekarang kesan tersebut, sesudah diangkat dari materi, menjadi cakap dan secara aktual sanggup diketahui, memasuki level of intelligibility. Berkat aktivitas ini, yang dalam istilah teknis disebut aprehensi sederhana psikologis muncullah species intelligibilis impressa. Species intelligibilis impressa tersebut, berkat aktivitas intellectus agens, kini bertindak sebagai pembantu kemampuan tahu intelektual manusia, yakni intellectus possibilis. Sedangkan proses menyadari species intelligibilis impressa ini disebut aprehensi sederhana logis. Maka muncullah konsep atau ide. Yang membuat kita tahu atau menangkap sesuatu disebut konsep mental, sedangkan apa yang kita tangkap tentang objek yang disodorkan, konsep mental  kepada akal budi, disebut konsep objektif.

Secara umum, proses pengetahuan mengenal dua momen, yaitu momen asensif (momen meningkat) dari tafar indera ini ke taraf intelektual, dan momen desensif (momen menurun), yakni kembali menyusun, menghubungkan diri dengan realitas konkret, kenyataan. Dalam kaitan ini hendaknya diperhatikan bahwa ide/konsep kita tidak hanya berasal dari abstraksi langsung dari data pengalaman. Pembentukan ide/konsep juga dapat merupakan hasil dari refleksi, perbandingan, analisis, sintesis, atau keputusan dan pemikiran. Kecuali itu, dalam pengetahuan intelektual tidaklah betul jika dikatakan bahwa hanya soal konsep sebab dalam pengetahuan intelektual, orang bicara tentang ada (realitas), tetapi yang ditangkapnya melalui ide/konsep.

Taraf Abstraksi Fisik

Abstraksi  fisik.  Pada  tingkat  ini  akal  mengadakan  abstraksi  denganbmemisahkan  objek  pembahasan  ilmiah  dari  materi  yang  dapat  dicerap  (diindera). Abstraksi  tingkat  ini  bersangkutan  dengan  bidang  pembahasan  tentang  alam. Abstraksi  ini  juga  disebut  abstraksi  keseluruhan  (abstractio  totius),  karena  sesuatu itu  dibebaskan  dari  unsur-unsur  individualnya.  Abstraksi  ini  juga  disebut  abstraksi pertama,  karena  objek  tidak  dapat  dipikirkan  tanpa  mengacu  pada  materi  yang dapat  diindera  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Dalam  pikiran  kita  belum  dapat dihapuskan  unsur-unsur  individual,  artinya  kita masih  dapat membayangkan  pohon tertentu, macam makanan  tertentu,  binatang tertentu  atau air yang mendidih dalam tempat tertentu[14].

Taraf Abstraksi Matematis

Abstraksi  matematis.  Pada  tingkat  ini  akal  mengadakan  abstraksi dengan  memisahkan  objek  pembahasan  dari  bahan  inderawi  yang  secara  ilmiah cocok  bagi  matematika.  Tingkat  abstraksi  ini  juga  disebut  abstraksi  bentuk (abstractio  formae)  karena  yang  dipentingkan  di  sini  adalah  bentuk,  ukuran, kuantitas  dan  jumlah.  Abstraksi  tingkat  kedua  ini  tidak  dapat  dipisahkan  sama sekali  dari  materi,  akan  tetapi  sebaliknya  tetap  mengacu  pada  materi  yang  fisik. Abstraksi  ini  mengacu  secara  tidak  langsung  pada  materi.  Ditinjau  dari pengetahuan,  matematika  lebih  sempurna  daripada  ilmu  pengetahuan  alam, karena yang terdahulu bergerak lebih jauh daripada yang kemudian[15].

Taraf Abstraksi Metafisis

Abstraksi  metafisik.  Abstraksi  tingkat  ketiga  ini  terjadi  karena  dalam pembahasan  yang  dipentingkan  adalah  pemisahan  dari  semua  materi  dan  tidak tergantung  pada  materi  tertentu.  Metafisika  merupakan  pengetahuan  pada  tingkat ketiga.  Objek  pengetahuan  pada  tingkat  ketiga  ini  dapat  ada  tanpa  materi  dan dapat  dipikirkan  atau  dibayangkan  tanpa  mengacu  pada  materi  atau  benda  fisik. Dengan  demikian  pengetahuan  tingkat  ketiga  disebut  pengetahuan  sesudah  dan mengatasi fisika[16]. Dapat dikatakan pengetahuan pada tahap ini selalu berkaitan dengan hal yang tidak terlihat dan luas seperti Tuhan dan sebagainya.

 

5.4 ABSTRAKSI TOTAL DAN ABSTRAKSI PARSIAL

Abstraksi Total atau Universal

Abstraksi total. Ini merupakan abstraksi yang universal dari yang partikular. Misalnya, abstraksi konsep universal "manusia" dari manusia khusus. Disebut total karena hasilnya selalu merupakan suatu keseluruhan, yakni suatu gabungan atau campuran yang terjadi karena suatu subyek dan suatu "bentuk". Misalnya, manusia adalah suatu subyek yang mempunyai kodrat manusiawi[17].

 

Abstraksi Parsial atau Formal

Abstraksi formal. Ini merupakan abstraksi "bentuk" dari subyek. Misalnya, abstraksi "Kemanusiaan" dari manusia- manusia konkret atau gerak dari benda-benda yang bergerak[18]. Dalam kegiatan abstraksi ini, kita hanya mengabstraksikan suatu bagian (pars), suatu cirri tertentu (forma) dari benda-benda individual atau benda-benda universal abstrak. Berkat abstraksi ini, kita dapat mengenali benda-benda dalam bagian-bagiannya menurut aspek yang berbeda. Dalam logika kedua bentuk abstraksi tersebut senantiasa dipakai. Bahkan praktek pemikiran tidak mungkin terjadi tanpa proses abstraksi ini karena menjadi asal dan dasar dari sebuah pemikiran.

 

5.5       ABSTRAKSI DAN SUBSTANSI REALITAS

Substansi  adalah  sesuatu  yang  ada  yang  mampu  berdiri berdiri  sendiri.  Keberadaan  substansi  tidak  bergantung  pada  yang  ada  lainnya. Kedudukan  substansi  yang  mampu  berdiri  sendiri  ini  menunjukkan  bahwa substansi  menjadi  tempat  beradanya  hal-hal  yang  lain,  misalnya  kualitas- kualitas.  Kualitas  dikatakan  ada  kalau  “melelcat”  pada  suatu  substansi.  Dalam penggunaan  secara  khusus,  istilah  substansi  searti  dengan  essensi.  Istilah essensi  dikaitkan  dengan  aksidensi,  yaitu  sifat-si fat  yang  tidak  harus  ada melekat  pada  sesuatu  hal.  Contoh-contoh  substansi  di  antaranya  manusia, kuda,  pohon,  meja.  Benda-benda  yang  dibuat  contoh  itu  dapat  ada  tanpa bergantung  pada  yang  lain.  Di  lain  pihak,  warna  putih,  sifat  pandai,  gemuk, cantik  bukanlah  substansi  melainkan  aksidensi.  Disebut  demikian  karena  hal-hal  tersebut  dikatakan  ada  kalau  melekat  pada  sesuatu.  Misalnya  yang “berwarna  putih”  adalah  tembok,  langit,  kapas,  susu.  Sedangkan  yang  gemuk adalah manusia, hewan, atau tanaman[19].

 

5.6 STRUKTUR HISTORIKAL PENGALAMAN

Historikalitas. 

Hakikat manusia yang menunjuk kenyataan bahwa manusia tidak dapat direduksi menjadi atau disamakan dengan benda alami. Pengalaman ini tidaklah statis melainkan sebuah perjumpaan, sebuah dialog yang tidak habis-habisnya dengan suatu dunia yang Nampak pada kita sebagai suatu cakrawala yang membuka perspektif yang tidak terbatasjumlahnya, dan ini  memungkinkan terjadinyaintersubjektivitas dari berbagai kesadaran yang berbeda.

Hal ini secara fundamental menunjukan kenyataan bahwa kebenaran secara ontologism, bagaimanapun juga, adalah suatu peristiwa, maka kebenaran hakikatnya terbatas tidak lengkap, dan sementara. Sebab kebenaran yang lebih benar selalu terungkap terus.

Proposisi historikalitas adalah penyadaran bagi subjek (interpretator teks) dalam melakukan analisis (penafsiran teks) diharuskan untuk tidak terlepas dari kajian pengalaman- pengalaman (historis) yang berkatian dengan teks. Pemahaman Gadamer tentang sejarah tidak seperti pemahan orang pada umunya, yang menganggap sejarah adalah bagian dari teks ”mati” (teks mati adalah pemahan positivistik yang beranggapan sejarah itu mati dan tidak berkontribusi bagi masa kini atau masa depan). Bagi Gadamer, sejarah adalah objek dinamis yang perlu dikaji oleh subjek dalam menentukan objektivitas teks (objek). 

Prasangka Historikalitas

Proposisi ini berangkat dari pemikiran Heidegger yang beranggapan dalam penafsiran sejarah, diusahakan subjek melakukan visualisasi dan imajinasi pemikiran.Gadamer mendefinisikan penjelasan tersebut adalah kerja prasangka subjek. Subjek dalam mengalisis pengalaman diberi kesempatan untuk melakukan prasangka atas sejarah teks. Menurut Heidegger, dalam penafsiran sejarah, subjek tidak berangkat dengan otak kosong, subjek harus berangkat dari prasangka, ide dan gagasan. Tanpa hal tersebut subjek tidak bisa menggiring sejarah pada posisi dinamisasi. Karena pada intinya, kerja hermeneutika adalah kerja dialogisasi. Oleh karean itu sejarah harus dibentuk sebagai objek dinamisasi melalui prasangka subjek. Prasangka subjek adalah pertanyaan awal atas objek. Ingat, pertanyaan atau prasabgka hanyalah proses bukan akhir. 

 

 

 

 

 

BAB VI

BAHASA DAN PIKIRAN

6.1 PENGANTAR

Secara garis besar terdapat dua paham tentang bahasa, yakni instrumentalisme dan determinisme. Instrumentalisme menendang bahasa sebagai suatu alat untuk mengungkapkan persepsi, pikiran, dan rasa perasaan (emosi), sedangkan paham determinisme berpendapat bahwa manusia hanya dapat mempersepsi, berpikir, dan merasakan karena adanya bahasa. Bahasa merupakan sebuah struktur yang unik yang hanya dimiliki manusia dan membedakannya dari binatang. Pemilikan bahasa oleh manusia membuatnya menjadi mahkluk yang dapat berpikir, tanpa bahasa manusia itu sama saja dengan binatang: tidak dapat berpikir.

Bahasa dan pikiran tidak bisa dipisahkan, yang satu tidak mungkin ada tanpa yang satu lagi. Pada umumnya para ilmuan berpendapat , bahwa bahasa itu adalah pikiran dan pikiran itu adalah bahasa. Pikiran dan bahasa adalah satu dan bersifat nurani: sudah ada di dalam otak begitu manusia dilahirkan. Oleh Karena itu dapat dikatakan bahwa bahasa adalah produk alami manusia.

 

6.2.      INSTRUMENTALITAS DAN DETERMINISME

     Secara garis besar terdapat dua paham tentang bahasa, yakni instru-mentalisme dan determinisme.Instrumentalisme menendang bahasa sebagai suatu alat untuk mengungkapkan persepsi, pikiran, dan rasa perasaan (emosi), sedangkan paham determinisme berpendapat bahwa manusia hanya dapat mempersepsi, berpikir, dan merasakan karena adanya bahasa. Dengan perkataan lain, menurut paham instrumentalisme bahasa adalah suatu alat, sedangkan bagi paham determinisme bahasa adalah syarat untuk mempersepsi, berpikir, dan merasakan. Perbedaan yang diajukan Ferdinand de Saussure (1857-1913) tentang parole (kegiatan bicara manusia individual) dan language (bahasa sebagai system) hampir sama sekali tidak dikenal. Kata-kata dialami sebagai alat ekspresi. Persepsi, pikiran, dan emosi, menurut paham instrumentalisme, adalah lebih dulu (a priori) dari bahasa, dengan dituturkan maka persepsi, pikiran, dan emosi dikomunikasikan kepada orang lain.

Determinisme sebaliknya berdalil bahwa berfungsi sebagai syarat bagi persepsi, kognisi, dan emosi. Dari sinilah apabila kemudian dikatakan bahwa pengalaman perseorangan terhadap kenyataan merupakan suatu fungsi dari bahasa masyarakat yang bersangkutan (hipotesis Whorfsapir). Bahasa dipandang sebagai faktum sosial. Konsep bersifat kolektif dan hanya sedikit berubah.Konsep-konsep, dalam paham determinisme, laksana bertumpuk di dalam bahasa sebagai faktum sosial kolektif. Pandangan tentang bahasa di atas (paham instrumentalisme dan determinisme) yang de facto berperanan dalam banyak kekacauan tentang konsepsi berpikir dan akhirnya juga tentang masalah kaitan realitas pikiran bahasa[20].

 

6.3.      PIKIRAN, BAHASA, REALITAS DAN SISTEM

     Pikiran dan bahasa, sesungguhnya merupakan tempat terjadinya peristiwa realitas. Dengan berpikir, manusia menyelesaikan peristiwa tersebut. Berpikir berarti membiarkan realitas terjadi sebagai peristiwa bahasa. Realitaslah yang lebih dulu pada awal mulanya merupakan sumber dan asal mula pikiran. Oleh sebab itu, berfikir adalah menerima, sedangkan berterima kasih dan berbicara adalah mendengarkan. Tugas pemikir adalah menjaga terjadinya peristiwa realitas dengan penuh kesayangan. Dalam berfikir manusia bukan penguasa, tetapi pengawal realitas. Tiada kata final bagi realitas. Realitas tetap senantiasa merupakan suatu proses kedatangan serta suatu proses pemberian, sedangkan berpikir senantiasa merupakan suatu proses berterima kasih. Proses perjalanan menuju bahasa juga merupakan proses perjalanan menuju berpikir.

Jadi, pada dasarnya berpikir adalah suatu tanggapan. Kegiatan berfikir sebagai jawaban terhadap kata suara realitas mencari ungkapannya yang tepat sehingga realitas dapat menjadi bahasa, dan selanjutnya dapat dikomunikasikan. Bahasa adalah jawaban manusia terhadap panggilan realitas kepadanya. Sistem bukan hal yang membuat sesuatu menjadi benar. Sesuatu itu dikatakan benar ( baik) bukan karena ditetapkan, tetapi karena benar (baik) maka ditetapkan. Maka sesuatu itu benar (baik) bukan karena diberi sistem. Bahkan suatu system yang sesuai ditumpangkan hanya sesudah dilakukan pandangan yang mendasar terhadap realitas. Hal ini pun senantiasa harus ditinjau kembali, sebab pandangan (mendasar) tentang realitas tidak pernah final[21]. Maka sistem yang ada juga harus dibongkar. Begitu seterusnya, demi terungkapnya realitas secara semakin lebih tuntas, yang hakikatnya juga berarti semakin terungkapnya kadar realitas eksistensi manusia sendiri.

 

6.4.      APAKAH HAKIKAT BERPIKIR

Berpikir yang benar-benar berpikir tidak identik dengan berfikir dengan berhitung yang hakikatnya pemikiran hanya berhenti pada aspek kuantitatif dari realitass. Dalam terminologi sehari-hari dipakai istilah ratio yang berasal dari kata latin reor yang berarti ‘menghitung’. Kadar kebenaran yang sesungguhnya dari realitas tidak mungkin terjangkau melalui berfikir dengan menghitung. Berfikir yang benar-benar berfikir bukanlah berfikir dengan menvisualisasikan (membayangkan). Pada hakikatnya adalah pernyataan bahwa manusia adalah pasif, ‘objektif’ adalah pengingkaran kesertaan mutlak manusia subjek dalam kegiatan tahu[22].

Berpikir merupakan suatu aktivitas pribadi yang mengakibatkan penemuaan yang terarah kepada suatu tujuan.Manusia berfikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian pembentukan pendapat, dan simpulari atau keputusan dari sesuatu yang dikehendaki.Menurut Suria sumantri, manusia tergolong dalam homo spesies, yaitu makhluk yang berfikir. Hamper tidak ada masalah yang menyangkut dengan aspek kehidupannya yang terlepas dari jangkauan pikiran[23].

Berpikir merupakan cirri utama bagi manusia untuk membedakan dengan makhluk lain. Maka dengan dasar berpikir, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir merupakan proses bekerja akal, manusia dapat berfikir karena manusia berakal. Ciri utama dari berfikir adalah adanya abstraksi. Dalam arti yang luas, berfikir adalah bergaul dengan abstraksi- abstraksi. Sedangkan dalam arti yang sempit berfikir adalah mencari hubungan atau pertalian antara abstraksi-abstraksi[24].

Suhartono menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan menalar, artinya berpikir secara logis dan analistis. Kelebihan manusia dalam kemampuannya menalar dan karena mempunyai bahasa untuk mengomunikasikan hasil pemikirannya yang abstrak. Maka manusia bukan saja mempunyai pengetahuan, melainkan juga mampu mengembangkannya[25].

 

6.5       BERPIKIR TIDAK KONSEPTUAL

     Pemikir bukanlah penguasa relitas, ia adalah gembala yang menjaga terjadinya peristiwa realitas. Maka berfikir secara konseptual adalah bertolak belakang dengan berfikir yang benar-benar berfikir. Maka konsep atau ekspresi konseptual adalah (yang) ada tersebut sendiri. Ide adalah realitas, realitas adalah ide.

Menurut communis opinio,  jikalau seseorang ingin menghampiri kenyataan  secara tidak memihak, maka proses kerjanya adalah melalui induksi menyuling keseragaman-keseragaman dari kenyataan, kemudian mengungkapkan ke dalam konsepsi-konsepsi dan proposisi-proposisi teoretis. Konsepsi-konsepsi dan teori-teori yang tersusun dari konsepsi-konsepsi tadi adalah gambar-gambar kenyataan yang menggambarkan regularitas dan keseragaman-keseragaman kenyataan. Konsepsi-konsepsi disusun sebegitu rupa untuk memungkikan penguasaan, dan peramalan.

Pengetahuan adalah pasti manakala anda dalam praktek dapat memakainya. Benar adalah bila operasional pengetahuan adalah suatu alat, dibutuhkan untuk berbuat tanpa mempunyai pretense lebih lanjut.Berfikir tidak konseptual berarti tidak memikirkan bahasa sebagai terdiri dari atau sebagai senantiasa mencari konsep yang dibatasi dengan jelas dan secara rasional ditetapkan. Dengan mengartikan bahasa sebagai konsep yang dibatasi artinya secara jelas dan ditetapkan secara rasional, maka serba statis dan terkotak-kotak, dengan sendirinya kejelasan dapat dijamin.Tetapi berfikir seperti itu adalah berfikir secara pemaksaan pada realitas.Inisiatif realitas ditiadakan.

Konsep adalah peristiwa penjernihan atau penyelubungan suatu hal. Realitas bukanlah konsep yang pasti, melainkan suatu peristiwa yang terjadi pada kita, sesuatu yang menjadi terang pada diri kita. Ekspresi konseptual seharusnya tidak dipandang dan diperlakukan sebagai ekspresi sempurna dari terminus perjumpaan (karenya menjadi konseptualisasi yang siap untuk dianalisis), tetapi niscaya dipandang dan diperlukan sebagai suatu perseptif (abschattung), sebagai artikulasi realitas dalam prosesnya untuk membahas[26]. Kegiatan berfikir adalah jawaban terhadap kata suara realitas, mencari konsep ungkapannya yang tepat sehingga realitas dapat menjadi bahasa. Arti senantiasa lebih luas dari yang mungkin diungkapkan dalam ekspresi konseptual atau diungkapkan secara verbal.

 

PENUTUP

Kelancaran dan kejelasan dalam berkomunikasi dan berelasi adalah hal yang sangat dinginkan oleh semua orang. Kebenaran menjadi titik dasar dari semuannya menuntut kita untuk berpikir kritis dengan menggunakan kapasitas yang kita miliki serta proses berpikir yang benar dan lurus. Dalam penjelasan diatas, penulis mengajak kita untuk berusaha menciptakan sebuah situasi yang aman dan benar dalam berkomunikasi. Hal ini dapat kita lakukan secara tepat apabila kita mengunakan bahasa yang benar, proses berpikir yang benar dan tentunya juga mematuhi sistem komunikasi itu sendiri secara baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

 

Diktat kuliah Bahasa dan Logika, Semester II, Fakultas Filsafat St.Yohanes Pematang Siantar.

Poespoprodjo, W.  dan Gilarso. Logika Ilmu Menalar: Dasar- DasarBerpikir Logis, Kritis, Analitis, Dialektis, MandiridanTertib. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

Puswanti, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992.

Suhartono,  Suparlan.  Dasar-Dasar Filsafat. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2004.

______. Sejarah Pemikiran Filsafat Modern. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2004.

Suriasumartini, Jujun S., Ilmu dalam Persepektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997.

Http://referensiassyariabdullah.blogspot.com/2008/04/definisi-dan-jenis-jenis pengetahuan.html

Http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html

Http://alfonsiusjojo-siringoringo.blogspot.com/2011/10/ideogenesis.html

Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html

Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan. html

Http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html.

https://pendidikan.co.id/pengertian-definisi-macam-jenis-beserta-contohnya.html.

https://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/04/08/definisi/

https://www.kompasiana.Com/vanbars//pentingnyadefinisi?page=all#.html.



[1] Https://pendidikan.co.id/pengertian-definisi-macam-jenis-beserta-contohnya, diunduh tanggal 23 februari 2020 pkl. 18:30 WIB.

[2] W. Poespoprodjo dan Gilarso, Logika Ilmu Menalar: Dasar- Dasar Berpikir Logis, Kritis, Analitis, Dialektis, Mandiri dan Tertib ( Yogyakarta: Kanisius, 1989) hlm. 65.

[3] Https://www.gurupendidikan.co.id/8-pengertian-ciri-klasifikasi-dan-teknik-menyusun-definisi-dan-contohnya/ diunduh tanggal 23 februari 2020 pkl. 18:00 WIB.

 

[4] https://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/04/08/definisi/ diuduh pada tanggal 20 februari 18: 23 WIB.

[5] Vanbars, PentingnyaDefinisi,diperbarui: 19 November 2018, https: //www. kompasiana. Com /vanbars//pentingnyadefinisi?page=all#sectionalldiunduhtanggal 23 februari 2020 pkl. 18:23 WIB.

 

[6] https://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/04/08/definisi/ diuduh pada tanggal 20 februari 18: 23 WIB.

[7] Http : //referensi assyari Abdullah. blogspot. com/2008/04/ definisi-dan-jenis-jenis-pengetahuan .html diunduh pada 01/03/2020 pkl. 21: 45 WIB.

[8] Http : //referensi assyari abdullah. blogspot. com/2008/04/ definisi-dan-jenis-jenis-pengetahuan .html diunduh pada 01/03/2020 pkl. 21: 45 WIB.

[9] Http: //princes manda chibiy. blogspot. com /2016/10/ bahasa-dan-pikiran.html  diunduh pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 45 WIB.

[10] Http://alfonsiusjojo-siringoringo .blogspot .com /2011/10/ ideogenesis. Html  diunduh pada tanggal 30/03/2020 pkl. 23: 05 WIB.

[11] Diktat Bahasa dan Logika,Semester II, hlm. 13.

 

[12] Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html diunduh pada tanggal 06/03/2020 pkl.22:15WIB.

[13] Suparlan Suhartono,  Dasar-Dasar Filsafat ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2004) hlm. 36.

[14] Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.

[15] Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.

[16] Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.

[17] Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html. diunduh pada tanggal 06/03/2020 pkl.22:15WIB.

[18] Http://kamus-filsafat.blogspot.com/2009/03/abstraksi-inggris-abitraction.html diunduh pada tanggal 06/03/2020 pkl. 22:15 WIB.

[19] Https://mayatarigann.blogspot.com/2014/01/azas-azas-filsafat-pengetahuan-dan.html diunduh pada 01/04/2020 pkl. 09:26 WIB.

[20] http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 45 WIB.

[21] http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 45 WIB.

[22] http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21:45 WIB.

[23] Jujun S. Suriasumartini, Ilmu dalam Persepektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997) hlm. 1.

[24] M. Ngalim Puswanti, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992) hlm. 44.

[25] Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2004) hlm. 1.

 

[26] Http://princesmandachibiy.blogspot.com/2016/10/bahasa-dan-pikiran.html diunduh pada tanggal 30/03/2020 pkl. 21: 15 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

  MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR   Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan) [1] Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung. Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangs...

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...