Langsung ke konten utama

filsafat bahasa George Edward Moore dan Wittgenstein

 

MAKALAH FILSAFAT BAHASA

MATA PELAJARAN: BAHASA DAN LOGIKA

 

Daftar isi…………………………………………………………………………………1

1.      BAB I Pendahuluan

1.1  latar belakang………………………………………………………………...2

1.2  Pengertian Filsafat dan Bahasa……………………………………….……...3

1.3  Hubungan Filsafat dan Bahasa……………………………………….……...3

2.      BAB II Tokoh-tokoh Filsafat Bahasa

2.1  Ludwig Wittgenstein

2.1.1        Biografi Ludwig Wittgenstein………………………………..……...5

2.1.2        Pemikiran-pemikiran Ludwig Wittgenstein………………...…….6

2.2  George Edward Moore

2.2.1        biografi George Edward Moore…………………………………..10

2.2.2        pemikiran-pemikiran Moore…………………………………....…...11

3.      BAB III Kaitan Antara Pemikiran Wittgenstein dan Moore……………..……..12

4.      BAB IV Penutup……………………………………………………………...…13

5.      DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..……..14


 

 

 

BAB I

Pendahuluan

1.1              Latar Belakang

            Bahasa dan filsafat merupakan dua hal penting dan pokok yang tidak dapat dipisahkan. Ketergantungan antara satu dan yang lain kiranya menunjukan bahwa mereka selalu bersifat paradoks (satu tapi punya sisi yang berbeda). Singkatnya, dari dulu hingga sekarang, bahasa merupakan salah satu tema kajian filsafat yang sangat menarik.

            Hadirnya istilah filsafat bahasa dalam ruang dunia filsafat dapat dikatakan sebagai suatu hal yang baru. Istilah ini muncul sekitar abad 20-an, sehingga wajar apabila ditemukan kesulitan untuk mendapatkan pengertian pasti mengenai apa sebetulnya yang dimaksud filsafat bahasa[1]. Para filsuf juga tertarik untuk memperbaiki bahasa. Bahasa seharusnya diperbaiki karena kegiatan keilmuan para filsuf boleh dikatakan tergantung kepada pemakaian bahasa. Di lain pihak, telah banyak keluhan dari sarjana di berbagai bidang bahwa bahasa yang mereka pakai mengandung banyak kelemahan. Keluhan para filsuf terhadap kelemahan bahasa terwujud dalam beberapa bentuk. Sebagai misal, Plotinus dan Bergson menganggap bahwa bahasa itu tidak cocok untuk dipakai sebagai dasar formulasi kebenaran yang fundamental. Menurut pendapat mereka, orang akan dapat memahami kebenaran hanya kalau mereka itu menyatu dengan kenyataan dan tanpa bahasa. Paling-paling bahasa hanya mampu menggambarkan kebenaran itu dengan gambaran yang bengkok[2].

            Masalah yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu tentang apa hubungan antara pemikiran Wittgenstein dan Moore dalam merumuskan filsafat bahasa serta pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa saat ini. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai pandangan-pangan Wittgenstein dan Moore tentang filsafat bahasa.

 

1.2              Pengertian Filsafat dan Bahasa

            Filsafat Bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat bahasa sehari-hari. Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf, sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha para filsuf memahami keilmuan yang bersifat konseptual melalui pemahaman terhadap bahasa.

Dalam upaya mencari pemahaman ini, para filsuf telah juga mencoba mendalami hal-hal lain, misalnya fisika, matematika, seni, sejarah, dan lain-lain. Cara bagaimana pengetahuan itu diekspresikan dan dikomunikasikan di dalam bahasa, di dalam fisika, matematika dan lain- lain itu diyakini oleh para filsuf berhubungan erat dengan hakikat pengetahuan atau dengan pengetahuan konseptual itu sendiri. Jadi, dengan meneliti berbagai cabang ilmu itu, termasuk bahasa, para filsuf berharap dapat membuat filsafat tentang pengetahuan manusia pada umumnya.

Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik adalah bahwa linguistik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa. Jadi, para sarjana bahasa menganggap bahwa kejelasan tentang hakikat bahasa itulah tujuan akhir kegiatannya. Sedangkan filsafat bahasa mencari hakikat ilmu pengetahuan atau hakikat pengetahuan konseptual. Dalam usaha pencarian tersebut, para filsuf mempelajari bahasa bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai objek pengantar yang pada akhirnya didapatlah kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual itu.[3]

1.3  Hubungan Filsafat dan Bahasa

            Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urutan bunyi-bunyi empiris, melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. Dengan demikian bahasa adalah merupakan sistem symbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia,  penuangan emosi manusia, serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya.  Filsafat sebagai suatu aktivitas manusia yang berpangkal pada akal pikiran  untuk menetukan kearifan dalam hidupnya,  terutama dalam mencari dan menemukan hakikat realitas, memiliki hubungan yang erat dengan bahasa terutama dalam bidang semantik. Hal ini dapat dipahami karena dunia fakta dan realitas yang merupakan objek aktivitas filsafat adalah dunia simbolik yang terwakili oleh bahasa.

            Bahasa tidak saja sebagai alat komunikasi untuk mengantarkan proses hubungan antar manusia, tetapi, bahasa pun mampu mengubah seluruh kehidupan manusia. Artinya, bahwa bahasa merupakan aspek terpenting dari kehidupan manusia. Kearifan Melayu mengatakan : “Bahasa adalah cermin budaya bangsa, hilang budaya maka hilang bangsa”. Jadi bahasa adalah sine qua non, suatu yang mesti ada bagi kebudayaan dan masyarakat manusia. Bagaimanapun alat paling utama dari filsafat adalah bahasa. Tanpa bahasa, seorang filsuf tidak mungkin bisa mengungkapkan perenungan kefilsafatannya kepada orang lain. Tanpa bantuan bahasa, seseorang tidak akan mengerti tentang buah pikiran kefilsafatan.

            Louis O. Katsooff  berpendapat bahwa suatu system filsafat sebenarnya dalam arti tertentu dapat dipandang sebagai suatu bahasa, dan perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai suatu upaya penyusunan bahasa tersebut.  Berdasarkan hal tersebut filsafat dan bahasa senantiasa akan beriringan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal ini karena bahasa pada hakikatnya merupakan sistem simbol-simbol. Sedangkan tugas filsafat yang utama adalah mencari jawab dan makna dari seluruh symbol yang menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga adalah alat untuk membongkar seluruh rahasia symbol-simbol tersebut.

            Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa bahasa dan filsafat memiliki hubungan atau relasi yang sangat erat, dan sekaligus merupakan hukum kausalitas (sebab musabbab dan akibat) yang tidak dapat ditolak kehadirannya. Sebab itulah seorang filsuf, baik secara langsung maupun tidak, akan senantiasa menjadikan bahasa sebagai sahabat akrabnya yang tidak akan terpisahkan oleh siapa pun dan dalam kondisi bagaimanapun. Bahasa memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan objek penelitian filsafat, ia juga memiliki kelemahan-kelemahan tertentu sehubungan dengan fungsi dan perannya yang begitu luas dan kompleks. Salah satu kelemahannya yaitu tidak mengetahui dirinya secara tuntas dan sempurna, sebagaimana mata tidak dapat melihat dirinya sendiri.

            Dapat kita pastikan bahwa kenyataan semacam inilah, barangkali yang mendorong para filsuf dari tradisi realisme di Inggris mengalihkan orientasi kajian kefilsafatannya pada analisis bahasa seperti yang telah dilakukan oleh George Moore (1873-1958), Ludwig Wittgenstein (1889-1951) dalam berfilsafat.

  

BAB II

Tokoh-tokoh Filsafat Bahasa

2.1 Ludwig Wittgenstein

2.1.1    Biografi Ludwig Wittgenstein

     Salah satu filsuf yang membahas tentang bahasa adalah Ludwig Wittgenstein. Ia lahir di Wina, Austria pada tanggal 26 April 1889. Ia dibesarkan oleh orang tua mereka sebagai seorang Kristiani, ayah dan ibunya merupakan keturunan Yahudi namun ayahnya beragama Kristen Protestan, sedangkan ibunya beragama Katolik. Sejak kecil Wittgenstein sangat menyukai musik, maka dari itu ia sangat mahir bermain klarinet dan bersiul. Siulan Wittgenstein sangat berbeda dengan siulan lainnya, karena siulan Wittgenstein itu bisa memainkan lagu-lagu klasik yang ada. Contoh-contoh yang ia berikan di dalam tulisnnya pun tidak terlepas dari kesukaannya dia terhadap musik.

Pada tahun 1906, ia belajar di Sekolah Tinggi Teknik di Berlin, lalu ia melanjutkan kembali studinya di Manchester. Pada awalnya ia sangat tertarik dengan matematika dan filsafat matematika. Pada tahun 1911, ia bertemu dengan Frege, lalu saat itu Frege menyarankan Wittgenstein untuk belajar pada Bertrand Russel. Pada tahun 1912 ia masuk Universitas Cambridgedan mempelajari filsafat di bawah bimbingan Russel.

Sewaktu Perang Dunia I, ia menjadi sukarelawan untuk tentara Austria, di dalam tugasnya sebagai sukarelawan itu, ia menulis buku tentang filsafat yang diselesaikannya pada tahun 1918. Dan ketika ia ditahan oleh tentara Italia, ia mengirim tulisannya itu kepada Frege dan Russell. Hal inilah yang membuat Wittgenstein dibebaskan oleh Russell. Ia menulis sebuah karya yang merupakan hasil dari perbincangannya dengan Russell, yaitu Logischphilosophiche Abhandlungen. Lalu tulisan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Tractatus Logico Philosophus yang pada kata pengantarnya ditulis oleh Russell. Buku inilah yang sangat mempengaruhi kelompok Lingkaran Wina.

Buku selanjutnya yang ia tulis adalah Philosophical Investigation, buku ini ia selesaikan pada tahun 1947. Buku ini berisi kritik terhadap pemahaman dirinya sendiri terhadap isi dari Tractatus, maka dari itu saat ini, untuk mempermudah mengerti pemikiran Wittgenstein digunakan istilah Wittgenstein I (Tractatus Logico Philosophus), dan Wittgenstein II (Philosophical Investigation).

Pada sebelum akhir kehidupannya ia sering sekali mengalami depresi, dikarenakan oleh penyakit jiwa yang ia alami, dan juga ketakutannya terhadap penyakit jiwa itu. Menurut Wittgenstein, hanya dengan berfilsafat ia bisa mangatasi depresinya itu. Kata-kata terakhir yang ia katakan adalah “Tell them I’ve had a Wonderful life”[4].

 

2.1.2        pemikiran-pemikiran Ludwig Wittgenstein

1)      Tractatus Logico Philosophus

“Perhaps this book will be understood only by someone who has himself already had the thoughts that are expressed in it--or at least similar thoughts”[5]

Isi buku Tractatus sebenarnya tidak menjelaskan teori apapun, tapi isinya lebih ke pengungkapan dan penggunaan bahasa sehingga bahasa itu bisa memiliki makna. Teori Wittgenstein I sangat mirip dengan atomisme logis Bertrand Russel. Di dalam pengantarnya dijelaskan bahwa apa yang bisa dikatakan berarti harus bisa dijelaskan secara faktual, dan apa yang tidak bisa dijelaskan berarti tidak memiliki makna, jadi lebih baik diam ketika terdapat bahasa yang tidak bisa dijelaskan.

Inti pemikiran dari Wittgenstein I adalah picture theory yang bisa dianggap sebagai teori pemaknaan bahasa. Wittgenstein menjelaskan bahwa bahasa itu harus menggambarkan realitas yang ada, dan makna dari bahasa itu akan timbul dari realitas tersebut. Contohnya adalah apabila polisi melakukan olah TKP bukan di tempat kejadian, polisi akan menggunakan sesuatu benda yang bisa mengungkapkan kejadian yang sebenarnya terjadi. Hal ini menyebutkan bahwa bahasa merupakan analogi dari realitas.

Di dalam penjelasannya Wittgenstein menjelaskan bahwa proposisi itu terdiri dari nama-nama, dan nama-nama itu menunjuk kepada suatu obyek di dalam realitas. Namun menurut Wittgenstein nama itu sendiri tidak memiliki makna, nama itu tidak bisa dikatakan benar atau salah di dalam penggunaannya. Namun ketika nama itu sudah masuk ke dalam proposisi maka nama itu secara langsung memiliki makna. Di dalam bukunya yaitu Tractatus Wittgenstein sendiri tidak menjelaskan apa yang disebut nama itu sendiri. Tapi menurut saya yang dimaksudkan Wittgenstein tentang nama itu contohnya seperti kursi, kita tahu kursi itu ada di dalam realitas kita, namun apabila kursi itu berdiri sendiri tanpa ada penjelasan maka kita tidak tahu kursi apakah itu. Namun ketika kita katakan kursi yang berwarna merah itu biasa digunakan untuk duduk tamu. Maka kita mengerti makna kursi itu sendiri dan tahu kursi mana yang dimaksud.Hal ini ingin menjelaskan bahwa buku ini sebenarnya bisa dimengerti ketika kita mempunyai pengalaman. Hal ini bisa menjelaskan bahwa pemikiran Wittgenstein I berlandaskan pada pengalaman manusia.

Konsekuensi picture theory milik Wittgenstein adalah bahwa proposisi metafisis itu tidak bermakna, karena secara realitas tidak bisa ditunjuk. Maka dari itu Wittgenstein bisa dianggap sebagai anti-metafisika. Pada akhir dari Tractatus  ia menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang dianggap “mistis”, yaitu:

  1. Subyek, The subject does not belong to the world: rather, it is a limit of the world[6]. Hal ini ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kita yang menggunakan bahasa ini tidak termasuk dari dunia dikarenakan kita menggambarkan dunia dan seharusnya kita berada di luar dunia
  2. Kematian,  Death is not an event in life: we do not live to experience death[7]. Kematian bukanlah bagian dari kejadian-kejadian, jadi mana mungkin kematian itu bisa dijelaskan dengan bahasa. Kematian adalah batas dunia dari yang tiada.
  3. Allah, God does not reveal himself in the world[8]. Allah tidak dapat dipandang bahwa Ia berada di dalam dunia. Dan apabila Allah itu berada di dalam dunia, seharusnya Allah itu mempunyai makna, tapi kita masih tidak mengetahui makna Allah itu sendiri.
  4. Bahasa itu tidak mungkin bisa menggambarkan dirinya sendiri. Bahasa itu seperti cermin, jadi tidak mungkin cermin bisa memantulkan bayangannya sendiri. Dari penjelasan ini sebenarnya jelas bahwa Tractatus itu bukan berusaha menjelaskan bahasa, namun ingin menjelaskan bahwa buku tersebut itu tidak bermakna. Ia hanya ingin menunjukkan dunia lewat bahasa[9].

2)      Philosophical Investigations

Philosophical Investigations adalah buku kedua dari Wittgenstein, buku ini berbeda dengan Tractatus yang berupa poin-poin yang berusaha menjelaskan poin utamanya dengan bahasa-bahasa yang singkat. Buku ini berisi dari 693 poin atau bisa dikatakan paragraph dengan bahasa yang cukup rumit.

Di dalam bukunya yang ini, Wittgenstein berusaha mengkritisi apa yang pernah ia tulis di Tractatus. Menurut Wittgenstein bahasa itu bukan sekedar mencari hakikatnya, namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan bahasa tesebut. Di dalam Tractatus Wittgenstein berusaha menemukan hakikat bahasa sebagai sebuah tanda atau gambaran darai sebuah realitas, namun hal ini sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa selain perbedaan dari tanda atau gambaran tersebut.

Di dalam kritik terhadap teorinya sendiri, ia berpendapat sebenarnya kita itu bukan mencari hakikat bahasa, namun lebih ke permasalahan bagaimana penggunaan bahasa itu bisa terjadi di dalam kehidupan. Maka dari itu Wittgenstein mengeluarkan teori “language games” atau permainan bahasa.Apabila kita lihat pernyataan diatas, kita akan melihat bahwa permainan bahasa itu ingin mengungkapkan bahwa bahasa adalah salah satu bentuk aktivitas manusia atau bentuk kehidupan.

 

3)      Languages games

Language games (permainan bahasa) merupakan pemikiran paling populer dari Wittgensteindalam karya keduanya Philosophical Investigations, yang biasa ditafsirkan dan dipahami sebagai sebuah penjelasan tentang keunikan bahasa. Ide awal pemikiran dari language games bersumber dari hasil pengamatannya terhadap permainan catur, dimana dari permainan ini ia menemukan keunikan peran dan fungsi masing-masing bidak catur. Selanjutnya, dari hasil pengamatannya itu ia berkesimpulan bahwa setiap bidak catur diperankan dan difungsikan sesuai dengan kebutuhan atau kepentingan si pemain dalam mengekspresikan maksud-maksud tertentu[10]. Istilah permainan bahasa itu sendiri ingin menjelaskan bahwa sebenarnya di dalam bahasa itu terdapat suatu aturan-aturan yang berbeda-beda sehingga kita bisa mengerti dan memahami. Contohnya adalah aturan bahasa di dalam penulisan cerita dengan bahasa untuk pembacaan cerita tersebut, di dalam penulisan cerita terdapat aturan untuk menggunakan tanda baca, namun ketika kita membacakannya kita tidak mungkin untuk membacakan tanda baca tersebut, atau contoh lainnya adalah di dalam setiap cabang olahraga pasti mempunyai aturan-aturan yang berbeda-beda, kita tidak mungkin menggunakan peraturan sepakbola di dalam olahraga basket, begitu pula sebaliknya.

Di dalam bukunya Wittgenstein tidak berusaha untuk menunjukkan aturan-aturan baku yang ada di dalam bahasa itu, ia hanya ingin menunjukkan bahwa penggunaan bahasa satu dengan bahasa yang lain itu akan berbeda. Wittgenstein juga menjelaskan bahwa cara kita mengkaji bahasa itu adalah dengan cara grammatical investigation. Walaupun ia melihat bagaimana caranya kita mengkaji bahasa, tapi tetap saja dia tidak menunjukkan aturan gramatika apa yang harusnya diikuti agar kita bisa memahami bahasa, ia hanya menjelaskan caranya yaitu dengan cara mengikuti aturan-aturan yang ada. Sebagai contoh saat ini terdapat bahasa yang kita sebut sebagai bahasa alay, di dalam bahasa alay ini pengungkapan bahasa itu digabungkan antara huruf dengan angka ataupun dengan cara tidak menggunakan spasi, contohnya “I 7Ov3 Y0u 411”. Lalu cara kita untuk memahami bahasa tesebut adalah dengan cara memahami aturan yang ada di dalam bahasa alay tersebut, kita tidak bisa memaksakan aturan bahasa yang kita biasa pergunakan ke dalam bahasa tersebut apabila kita ingin memahami bahasa itu.

 

2.2         George Edward Moore

2.2.1   Biografi George Edward Moore[11]

            George Edward Moore adalah seorang filsuf Inggris dari aliran realisme baru (neorealisme) dan tokoh pelopor filsafat analitik yang mengembangkan teori realistik baru dalam epistemologi era 19 sampai 20-an. Ia merupakan saudara dari penulis dan pemahat Sturge Thomas Moore. Selain itu, Ia juga merupakan seorang tokoh pertama yang melancarkan kritikan pedas terhadap neohegelianisme, sekaligus menjabat sebagai guru besar filsafat dan ahli filologi dari Universitas Cambridge, Inggris dan editor majalah filsafat Cambridge yang menjadi pemancar filsafat analitis sampai hari ini, Mind selama 26 tahun, 1921- 1947. Meskipun Ia secara nisbi sedikit menulis, namun ia mempunyai pengaruh yang sangat besar di Inggris dan Amerika.

Moore lahir di London Selatan pada 4 November 1873. kakak tertuanya adalah Thomas Sturge Moore, seorang penyair, penulis dan pemahat. Pada tahun 1892, ia dididik di Sekolah tinggi Dulwich dan kemudian menghadiri Trinity College Cambridge untuk belajar ilmu moral klasik. Ia menjadi Fellow Trinity pada tahun 1898, dan melanjutkan untuk menjabat di University of Cambridge filsafat mental dan logika, 1925-1939. Ia juga merupakan seorang Profesor Filsafat di Universitas Cambridge. George Edward Moore juga merupakan saudara dari penulis dan pemahat Sturge Thomas Moore. Moore bersama dengan rekan-rekannya seperti Bertrand RussellLudwig Wittgenstein, dan Gottlob Frege, merupakan salah satu pendiri dari tradisi analitik dalam filsafat. Moore menjadi seorang yang terkenal karena pemikiran analisisnya mengenai konsep-konsep akal sehat, sumbangannya terhadap etika, epistemologi, metafisika, dan karakter moral. Selain itu, Moore juga terkenal karena pembelaannya terhadap naturalisme non-etis dan penekanannya pada akal sehat dalam metode filosofis. Moore juga dikenal karena sebuah bukunya yaitu Principia Ethica. Principia Ethica adalah salah satu inspirasi utama gerakan melawan naturalisme etika

 

2.2.2 Pandangan George Edward Moore

G.E. Moore (1873 – 1958) adalah seorang filsuf berkebangsaan Inggris yang sering disebut sebagai pelopor filsafat analitika bahasa dan sudah menuliskan karya pemikirannya dalam sebuah buku berjudul Principia Ethica. Pemikiran G. E Moore pada dasarnya merupakan reaksi balik terhadap atmosfer berfilsafat di Inggris yang saat itu didominasi oleh paham idealisme yang masuk ke Inggris sekitar abad ke 19. Aliran ini sering disebut sebagai neo-hegelianisme. Neo-hegelianisme ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan neoPlatonisme yang memberi ruang cukup luas pada gagasan-gagasan metafisika, dan terutama sangat dekat dengan pandangan-pandangan metafisis agama.

Salah satu pandangan pokok neohegelianisme adalah realitas itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, itulah roh absolut[12]. G.E Moore memang tidak menolak metafisika, namun dalam berbagai uraiannya dia tidak mempraktekan metafisika. Ia bahkan lebih banyak bersikap kritis terhadap pandangan metafisika, sehingga secara tidak langsung telah membangun tumbuhnya sikap kritis dan skeptis terhadap metafisika. Menurut Bertens, Moore telah memberikan sumbangan tumbuhnya aliran baru di Inggris yaitu atomisme logis yang mengkritik  dan bahkan menolak metafisika. Menurut Moore, banyak ungkapan-ungkapan dalam filsafat yang tidak dapat dipahami oleh akal sehat (common sense) karena menggunakan ungkapan-ungkapan yang metafisis, seperti waktu adalah tidak real, jiwa itu adalah abadi[13].

Berdasarkan  itulah para penganut atomisme logis berpendapat bahwa analisa bahasa harus berdasarkan pada logika, sehingga ungkapan-ungkapan bahasa yang melukiskan suatu realitas terwujud dalam bentuk proposisi-proposisi. Formulasi pemikiran filsafat yang mendasarkan pada suatu analisis melalui bahasa dan didasarkan atas logika inilah yang merupakan sumbangan terbesar Moore terhadap atomisme logis. Menurut Moore tugas filsafat yang utama adalah memberikan penjelasan terhadap suatu konsep yang siap untuk diketahui melalui kegiatan analisa bahasa berdasarkan akal sehat. Kegiatan analisis dapat diartikan sebagai kegiatan menjelaskan suatu pikiran , suatu konsep yang diungkapkan, mengeksplisitikan semua yang tersimpul di dalamnya, merumuskan dengan kata lain, memecahkan suatu persoalan ke dalam detail-detail kecil[14]. Dalam kaitannya dengan upaya menjelaskan tersebut terdapat istilah analysandum yang berarti pangkal yang harus diuraikan dan analysant atau bagian yang menguraikan. Kedua bagian tersebut , menurut Langford[15] tidak harus sama identik, melainkan harus sama dalam arti mempunyai kondisi-kondisi kebenaran yang sama. Atau dengan kata lain bagian analysant harus (bisa) berisi kalimat-kalimat lain yang mempunyai arti sama tetapi mempunyai bentuk yang lebih jelas.

 

 

BAB III

3.1       Kaitan Antara Pemikiran Wittgenstein dan Moore

Faktor pemicu yang mendorong perkembangan filsafat analitik adalah kekacauan bahasa filsafat. Konsep-konsep ataupun teori-teori dalam filsafat seringkali diungkapkan dengan bahasa yang membingungkan dan sulit dipahami. Atas dasar itulah, para filsuf mencoba melakukan jalan keluar dari kekacauan tersebut dengan bantuan analisa bahasa untuk menjelaskan konsep-konsep dalam filsafat.

Jika melihat perkembangan filsafat analitik bahasa mulai dari awal abad 20 hingga perkembangan mutakhir di tahun-tahun sesudah perang dunia ke 2, tampak bahwa landasan pemikiran para filsuf yang berada dalam payung filsafat analitika bahasa bergerak dari bahasa logika yang digunakan sebagai penentu kebermaknaan menuju pada analisa penggunaan bahasa biasa (ordinary language). “Gerak” jarum pendulum dari bahasa logika menuju bahasa biasa dapat dilihat dari pemikiran para tokoh-tokoh filsuf yang menaruh perhatian dalam bidang filsafat bahasa analitik, seperti prinsip dasar pada Language games yang diajukan oleh Wittgenstein[16], dan selanjutnya lebih diperinci oleh J.L Austin dari Oxford yang menaruh perhatian dan menekuni tentang pembedaan jenis-jenis ucapan dan pembedaan tentang tindakan-tindakan bahasa.

Adapun hubungan antara ke dua tokoh ini, Wittgenstein dan Moore adalah banwa keduanya sama-sama mencari suatu metode dan jalan keluar untuk suatu permasalahan bahasa yang cenderung bertentangan dengan ide filsafat sehingga menimbulkan semacam keambiguan makna didalamnya. Kekhususan ciri dan metode yang dipaparkan keduanya ini adlah bentuk dari usaha untuk menyempurnakan filsafat, sehingga bahasa yang tidak bisa terlepas dari filsafat ini baik sebagai objek ataupun sarana filsafat dapat dipahami secara jelas oleh semua orang.

 

BAB IV

Penutup

Bahasa sebagai alat bernalar dan tanda untuk mengungkapkan isi pikiran memiliki keterbatasan. Kesulitan itu sering kita alami ketika sedang berpikir. Kita sering tidak dapat memecahkan persoalan yang sedang kita pikirkan karena tidak dapat menemukan bahasa yang tepat untuk mengemukakannya. Demikian pula, ketika kita tidak dapat mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan tidak dapat dipahami orang lain, penyebabnya ialah karena kita tidak menemukan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya. Oleh karena itu, bahasa bagi logika harus tetap terbuka untuk disempurnakan.[17]

Bahasa merupakan hasil karya dan  produk terbesar manusia. Ia merupakan kekayaan pertama yang melahirkan sutu perubahan dalam masyarakat. Ia juga merupakan bentuk verbal pikiran manusia yang direalisasikan oleh indra. Selain itu bahasa adalah alat dan sarana untuk berkomunikasi. Mempunyai kemampuan berbahasa yang baik memungkinkan terjadinya komunikasi yang baik pula, begitu pun sebaliknya. Bahasa mampu menyatukan ribuan bahkan jutaan orang, tetapi juga mampu untuk menjatuhkan banyak orang. Bahasa merupakan wujud dari ekspresi manusia.

Maka dapat dikatakan bahwa bahasa adalah salah satu unsur terpenting dalam hidup manusia yang sangat vital dan sangat diperluhkan. Meskipun bahasa dasi segi tertentu memiliki kelemahan dan kekurangan karena bahasa tak pernah lengkap atau sempurna, tetapi selalu mengalami perkembangan seturut perkembangan zaman. Oleh karena itu, pengetahuan berbahasa harus dikembangkan agar tetap relevan dengan jaman yang selalu berkembang. Pembahasan tentang bahasa telah ada sejak jaman dahulu dan hingga sekarang masih terus berkembang.

 

 

 

 

Daftar pustaka

Bertens, K., Filsafat Barat Kontemporer: Inggris- Jerman, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Danto, Arthur C., Analytical Philosophy and History, London : Cambridge University Press, 1965.

Hidayat, Asep Ahmad. “Filsafat Analitis menurut Ludwig Wittgenstein: Relevansinya bagi Pengembangan Pragmatik” dalam Jurnal Humaniora, Volume 16, No. 2, Juni 2004: 133 – 146. Yogyakarta: Universitas Gadjahmada2004.

______. Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya. 2006.

https://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat bahasa//

https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2015/02/george-edward-moore-pelopor-filsafat-analitik.html

Kaelan, M.S., Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit Paradigma, 1998.

Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Logika. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Wittgenstein, Ludwig. Tractatus Logico Philosophus. New York: Harcourt, Brace & Company, Inc, 1922.

 



[1] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006) hlm. 12.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_bahasa diunduh pada 28/03/2020 pkl. 18:20 WIB.

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat bahasa diunduh pada 28/03/2020 pkl. 16:15 WIB.

[4] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Inggris- Jerman (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002) hlm. 44.

[5] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico Philosophus, ( New York: Harcourt, Brace & Company, Inc., 1922) hlm. 2.

[6] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico Philosophus, ( New York: Harcourt, Brace & Company, Inc, 1922) hlm. 632.

[7] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico Philosophus, ( New York: Harcourt, Brace & Company, Inc, 1922) hlm. 4311.

[8] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico Philosophus, ( New York: Harcourt, Brace & Company, Inc, 1922) hlm. 432.

[9] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico Philosophus, ( New York: Harcourt, Brace & Company, Inc, 1922) hlm. 54.

[10] Arthur C. Danto, Analytical Philosophy and History (London: Cambridge University Press, 1965) hlm. 76.

[11]https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2015/02/george-edward-moore-pelopor-filsafat-analitik. html. diunduh pada 16/03/2020 pkl. 17: 50 WIB.

[12] Asep Ahmad Hidayat, “Filsafat Analitis menurut Ludwig Wittgenstein: Relevansinya bagi Pengembangan Pragmatik” dalam Jurnal Humaniora, Volume 16, No. 2, Juni 2004: 133 – 146. (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2004) hlm. 42-44.

[13] M.S. Kaelan, Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya.(Yogyakarta: Penerbit Paradigma, 1998) hlm. 91.

[14] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006) hlm. 46.

[15] M.S. Kaelan, Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya, (Yogyakarta: Penerbit Paradigma, 1998) hlm. 93.

[16] M.S. Kaelan, Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya, (Yogyakarta: Penerbit Paradigma, 1998) hlm. 145.

[17] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Logika, (Yogyakarta: Kanisius, 1996 ) hlm. 16-17.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

  MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR   Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan) [1] Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung. Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangs...

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...