CONTOH
MAKALAH TENTANG EMPIRISISME
Istilah ini berasal dari kata bahasa Yunani “Empeiria” yang berarti “pengalaman
indrawi”. Empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan dan yang
dimaksudkan dengannya ialah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia
maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja. Takmengherankan
bahwa rasionalisme dan empirissme mempunyai pendirian yang sangat berlainan
tentang sifat pengetahuan. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati
berasal dari ratio, sehingga
pengenalan inderawi hanyalah pengenalan yang kabur saja. Sebaliknya, empirisme
berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman, sehingga pengenalan
inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.[1]Empirisme juga
berarti sebuah paham yang menganggap bahwa pengalaman manusia didapat dari
pengalaman-pengalaman yang nyata saja
yang kita peroleh dari realitas. Pengalaman yang nyata tersebut didapatkan dari
tangkapan indra manusia. Sehingga pengetahuan yang kita dapat melalui
pengalaman indera ini merupakan
sebuah kumpulan fakta-fakta
yang riil dan asli.
THOMAS HOBBES
(1588-1679)
Hobbes
dilahirkan pada tahun 1588 di Malmesbury, kota kecil yang letaknya hanya
sekitar 25 km dari London. Pada tahun 1603-1608 ia belajar filsafat di
universitas oxford dan berkenalan dengan filsafat. Pada tahun 1608-1628 ia
bekerja sebagai dosen pada beberapa keluarga bangsawan, berkeliling eropa
sebagai pendamping kaum bangsawan dan diplomat, serta sempat menjadi sekretaris
pribadi francis bacon yang juga seorang politikus. Ia
menulis de cive (Tentang Warga Negara, 1642) dan
Leviathan (1651), buku yang antara lain memuat kritik atas gereja Anglikan
sehingga membangkkitkan amarah pengungsi inggris di Perancis.[2]Hobbes meninggal pada tanggal
4 Desember 1679.Ia mengidap sakit serius sejak bulan Oktober dan se minggu sebelum meninggal ia terkena stroke. Hobbes dimakamkan di HaultHukcnall, dekatHardwick Hall.[3]
Tentang
Pengetahuan
Thomas Hobbes menganggap pengalaman inderawi sebagai
permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain daripada semacam
kalkulus atau perhitungan, yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama
dengan cara yang berlain-lainan[4].Misalnya
ketika
melakukan proses penjumlahan dan pengurangan misalnya, pengalaman dan akal yang
mewujudkannya. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah keseluruhan atau
totalitas pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu
pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa
lalu.
Semua pengetahuan
manusia terbatas pada sensasi. Konsep adalah representasi dari
kualitas-kualitas umum yang disimpan. Alasan beroperasi pada konsep-konsep ini,
membagi dan menyusunnya secara matematis. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan
tentang operasi matematika ini[5]. Pengalaman
adalah awal dari segala pengetahuan,
juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang
diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman.
Segala pengetahuan diturunkan dari pengalaman.
Dengan demikian, hanya pengalamanlah
yang memberi jaminan kepastian.
JOHN LOCKE
(1632-1704)
Biografi
John Locke, filsuf inggris
berperawakan kurus lahir di wrington dekat Bristol.n sejak tahun 1691 locke
yang menderita penyakit asma akut ini, hidup di pedesaan hingga wafatnya pada
tahun 1702. Pada batu nisannya terdapatkata-kata yang ditulis locke sendiri
saat masih hidup : ”wahai para pejalan kaki, berhentilah sejenak! Disini terbaring John Locke.[6]
Karya- karya Locke
Buku pertama Locke yang
masyhur adalah An Essay Concerning
Human Understanding (Esai tentang saling pengertian manusia), terbit tahun
1690. Di situ dipersoalkan asal-usul, hakikat, dan keterbatasan pengetahuan
manusia.[7]Buku kedua Locke adalah A Letter Concerning Toleration (Masalah yang berkaitan dengan
toleransi) yang terbit tahun 1689, Locke menekankan bahwa Negara jangan ikut
campur terlampau banyak dalam hal kebebasan menjalankan ibadah menurut
kepercayaan agama masing-masing.buke berikut Locke adalah Two
Treatises of Government ( Dua persepakatan dengan pemerintah ) terbit tahun
1689 yang isinya merupakan penyuguhan ide dasar yang menekankan arti penting
konstitusi demokrasi liberal.[8]
Tentang pengetahuan
Dari
manakah sumber pengetahuan yang bisa dipercaya? Darimana pengetahuan itu
berasal? Locke menjawabnya, “ pengalaman. Semua pengetahuan kita berdasarkan
pengalaman; dan dari pengalaman inilah pengetahuan itu berasal”[9]. Asal
Pengetahuan menurut Locke sendiri bertentangan dengan Descartes, Locke
membantah bahwa ada ide bawaan. Ia berpendapat bahwa Kecerdasan manusia seperti
selembar kertas bersih yang belum ada tulisannya (tabula rasa). Segala sesuatu yang tertulis di dalamnya berasal dari
pengalaman[10]. Pandangan
ini dimulai dengan catatan Locke tentang idea-idea, yang didefinisikan sebagai
berikut: “ segala sesuatu adalah objek dari pemahaman ketika seseorang mulai
berpikir, dan ide-ide itu muncul dari pengalaman akan sesuatu itu.[11]
Dalam
hal ini ada dua macam pengalaman yang bisa dibedakan, yaitu “pengalaman
lahiriah” (sense atau external sensation) atau pengalaman inderawi, yang
berhubungan dengan realitas material yang ditangkap dengan panca indera kita,
dan “pengalaman batiniah” (internal sense atau reflection) yang terjadi apabila
kesadaran melihat aktifitasnya sendiri dengan cara “ mengingat”,”menghendaki”,
“meyakini”, dan sebagainya.[12]
Selanjutnya,
dari dua macam pengalaman ini diperoleh “ide-ide sederhana” (simple ideas),
yakni isi kesadaran yang berfungsi sebagai data-data empiris. Ide sederhana ini
masih bisa dibedakan menjadi empat jenis yaitu yang pertama: diterima oleh satu
indera kita misalnya, warna diterima oleh indera mata, bunyi oleh indera
telinga. Kedua, diterima melalui beberapa indera misalnya ruang dan gerak.
Ketiga, dihasilkan berkat refleksi kesadaran misalnya kenangan akan memori.
Keempat, yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan dan refleksi,
misalnya rasa tertarik, minat, dan waktu. Dalam menerima ide ini pemikiran atau
ratio sama sekali pasif. Baru kemudian, setelah pandangan sederhana ini
tersedia, rasio bekerja membentuk “ide kompleks” (complex ideas) dengan cara
membandingkan, mengabstrasi, dan menghubungkan pandangan-pandangan sederhana
tersebut. Dalam hal ini ada tiga jenis pandangan kompleks yang bisa dibedakan,
yaitu yang pertama, substansi atau
sesuatu yang berdiri sendiri, misalnya manusia atau tumbuhan; kedua, modi atau ide kompleks yang keberadaanya
bergantung pada substansi misalnya siang adalah modus dari hari; ketiga, hubungan sebab-akibat, misalnya ide
kausalitas dalam pernyataan: “air mendidi karena dipanaskan dengan api hingga
100⁰ C”. Kalau “ide sederhana” (simple ideas) berasal secara langsung dari
pengalaman inderawi, maka “ide kompleks” tidak bisa diamati secara langsung
tetapi diketahui melalui kombinasi-kombinasi dari berbagai ide tunggal. Dengan
demikian, locke merasa yakin telah dapat menjelaskan terjadinya pengetahuan
manusia[13].
Relevansi
Dari penjelasan
empirisme diatas dapat disimpulkan bahwa empirisme menurut Thomas
Hobbes sebagai penganut empirisme, suatu pengenalan atau suatu pengetahuan
diperoleh melalui pengalaman indera. Pengalaman indera adalah awal dari segala
pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan
diteguhkan oleh pengalaman itu sendiri. Segala pengetahuan diturunkan dari
pengalaman tersebut. Dengan demikian, hanya pengalaman inderalah yang memberi
jaminan kepastian.
Berbeda dengan
kaum rasionalis, Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal hanyalah
mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Ketika melakukan proses penjumlahan dan
pengurangan misalnya, pengalaman dan akal yang mewujudkannya.Sedangkan menurut
John Locke dengan teorinya tabula rasa menyatakan, manusia dilahirkan seperti
kertas putih dan pengalaman inderalah yang mengisi pengetahuan kita.
Seperti yang
sudah kita ketahui bersama bahwa setiap manusia akan memperoleh suatu
pengetahuan agar si manusia mendapatkan
sebuah konsep dan sebagainya. Maka, petama-tama kita atau si manusia harus
lebih dahulu berinteraksi secara langsung dengan benda atau sesuatu itu sendiri.
Dapat ditarik
sebuah kesimpulan bahwa pengalaman indera adalah suatu hal penting yang harus
kita perhatikan bersama dengan kritis agar, apa yang didapat dari pengalaman
itu tidak membawa kita pada suatu kesesatan.
Bertens,
K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Garvey, J. 20 Karya Filsafat Terbesar . Yogyakarta: Kanisius, 2018.
Magnis-Suseno, F. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta:
Kanisius,1992.
Mascia, C. A History Of Philosophy. New Jersey: St. Anthoni Guild
Press, 1964.
Tjahjadi, S. P. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2018.
[1]K.
bertens ,RingkasanSejarahFilsafat,(Yogyakarta:
Kanisius, 2010), hlm. 54.
[2]Simon
Pertus 1. Tjahjadi, PetualanganIntelektual,(Yogyakarta:
Kanisius, 2018), hlm 228.
[3]http://sangperaihimpian.blogspot.com/2012/02/empirisme-thomas-hobbes.html.
diunduh pada tanggal 28, 01 2020
pkl. 15: 45.
[4]K.
Bertens ,RingkasanSejarah..., hlm. 54.
[5]CarminMascia, a history of philosophy (New Jersey: St.
Anthoni Guild Press, 1964), hlm. 353-354.
[6]Simon
Pertus l. Tjahjadi, Petualangan..., hlm. 237.
[7]Simon
Pertus l. Tjahjadi, Petualangan..., hlm. 237.
[8]https://www.biografiku.com/biografi-john-locke-1632-1704/
diunduh pada tanggal 28 agustus 2019, pkl. 15: 45 WIB.
[9]Franz Magnis-Suseno, FilsafatSebagaiIlmuKritis, (Yogyakarta: Kanisius, 1992,. hlm. 73.
[10]Simon
Pertus l. Tjahjadi, Petualangan..., hlm. 237
[11] James Garvey, 20 KaryaFilsafatTerbesar( Yogyakartaa: Kanisius,
2018),
hlm. 95.
[12]K
Bertens ,RingkasanSejarah..., hlm.55.
[13]
Simon Pertus l. Tjahjadi, Petualangan..., hlm. 237-238.
Komentar