Langsung ke konten utama

budaya wayang

 

Abstrak

Secara terminology pesan spiritual pada simbol pewayangan dimaknai sebagai nilai luhur yang utuh dan harus disampaikan secara terus menerus. dalam pertunjukkan seni budaya pewayangan baik wayang kulit ataupun wayang golek pada khususnya, didalamnya terdapat makna dan pesan spiritual yang dijelaskan melalui simbol - simbol pewayangan baik yang ada dibentuk wayang tersebut secara khusus maupun yang ada diunsur panggung pementasan pada umumnya. karena bentuk dan unsur panggung yang ada pada umumnya bermakna gambaran secara keseluruhan tentang keadaan alam dunia dan alam kherat (alam goib) dan yang ada didalamnya. Symbol sendiri digunakan karena didalamnya terkandung nilai luhur spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan kata – kata.

Adapun maksud dan tujuan penjelasan, dan penanaman nilai luhur tersebut berorientasi mutlak pada perbaikan kehidupan masyarakat manusia secara keseluruhan dan terus menerus dari generasi kegenerasi, agar manusia tersebut secara keseluruhan lebih berbudaya, tertata, dan sesuai dengan nilai – nilai luhur ketuhanan dan kemanusiaan yang utuh. Karena seni dan budaya merupakan jati diri kita yang berkaitan erat dengan peradaban manusia. Inilah hakikat pawarisan budaya, bukan hanya menjaga bentuk utuh seni dan budaya serta symbol saja, tetapi yang mutlak harus kita jaga adalah nilai luhur spiritual ketuhanan dan kemanusian yang tetap utuh dari generasi kegenerasi dalam proses transformasi seni dan budaya. tidak hanya dijadikan tontonan tetapi jadikan tuntunan. unsur didalamnya haruslah komplit walaupun beda bentuk tetapi maknanya sama.

                Kata-kata kunci: wayang, simbol, makna wayamg, fenomena wayang, budaya.

 

 

1.      Pengantar

Indonesia adalah sebuah negara yang besar yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan memiliki berbagai ragam kesenian dan tradisi. Berbagai bentuk dan ragam kesenian tradisi ini merupakan produk budaya dari para leluhur setempat tumbuh dan berkembang membentuk suatu keindahan estetis.namun harus kita akui bahwa dibalik keanekaragaman budaya kita ini, ada banyak kesenian dan tradisi kita yang mengalami mati suri dan bahkan lenyap dan tidak dikenal lagi oleh masyarakatnya sendiri, hal ini dikarenakan semakin menguatnya pengaruh budaya modern dan perkembangan zaman yang sulit dibendung.

Wayang merupakan salah satu kesenian tradisi Nusantara yang sampai sekarang masih menghiruphembuskan napas kehidupannya, terutama di wilayah Bali, Sunda, dan Jawa. Khususnya di Jawa, seni wayang memiliki berbagai genre, antara lain: wayang golek (wayang tengul), wayang beber, wayang wong, wayang klitik, dan wayang kulit. Berdasarkan ceritanya, wayang kulit masih dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain: wayang kancil, wayang wahyu, wayang purwa, dll.

Wayang sendiri secara entimologis  berasal dari kata "Ma Hyang" yang artinya menuju kepada roh spiritualdewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna "bayangan", hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat[i].

2.                  Wayang Sebagai Sebuah Fenomena

Wayang sebagaimana yang dikenal orang dewasa ini merupakan sebuah warisan budaya nenek moyang telah amat tua, yang diperkirakan telah bereksistansi lebih dari 3.500 tahun yang lalu (Mulyono,1989a:1). Wayang adalah sebuah wicarita yang pada umumnya mengisahkan kepahlawanan para tokoh yan berwatak baik menghadapi dan menumpas tokoh yang berwatak jahat. Wayang yang tekah melewati berbagai peristiwa sejarah, dari generasi ke generasi, menunjukan betapa budaya pewayangan telah melekat dan menjadi bagian hidup bangsa Indonesia, khususnya jawa. Usia yang panjang dan kenyataan bahwa masih banyak orang yang menggemarinya hingga dewasa ini menunjukan betapa tinggi nilai dan berartinya wayang bagi kehidupan masyarakat[ii].

2.1              Wayang Sebagai Fenomena Komunikasi

Cerita wayang yang disampaikan atau dikomunikasikan kepada masyarakat lewat sarana pertunjukan, kaset rekaman atau pertunjukan wayang kulit, terutama jika dimainkan oleh dalang yang terkenal, selalu dipenuhi oleh penonton menunjukan bahwa pertunjukan itu bersifat komunikatif. Cerita  wayang sendiri adalah sarat pesan tetapi tidak berhubung semuanya disampaikan secara simbolistis penonton tidak merasa digurui. Pesan disampaikan secara tidak langsung. Penonton diharapkan untuk mencari sendiri pesan dan manfaat dari pertunjukan wayang yang dilihatnya, yaitu yang dilambangkan dengan tarian wayang pada akhir pertunjukan[iii].

Daya tarik komunikatif yang lain adalah wayang mampu menyerap berbagai peristiwa faktual ke dalamnya sehingga pertunjukan wayang tidak pernah ketinggalan zaman. Semuanya itu didukung oleh pemakaian bahasa yang bervariasi dan bersifat akomodatif terhadap semua tingkatan umur dan status sosial penonton. Cerita pewayangan atau secara khusus pertunjukan wayang, merupakan suatu bentuk penyampain pesan yang dikemas dalam bentuk artistik dan memperlihatkan kebutuhan penikmat.

2.2       Wayang Sebagai Fenomena Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan wayang diperkirakan bahsa yang dominan pada zaman yang bersangktan. Pada zaman pra-Hindu, oleh karena tidak ada lagi bukti peninggalan sejarah, tidak ketahui pasti bahasa apa yang dipergunakan. Akan tetapi, mengingat perubahan bahasa secara evolsioner, diperkirakan bahasa yang digunakan itu tidak jauh berbeda dengan bahasa jawa kuna sebagaimana yang terlihat pada masa Hindu. Bahasa jawa kuna dengan ramuan bahasa sansekerta dipergunakan sejak pemerintahan raja Balitung pada akhir abad ke-9 dan awal abad ke-10 sampai masa kerajaan Kediri, bahasa jawa tengahan sejak zaman Majapahit sampai tahun 1715, dan bahasa jawa baru sejak tahun 1715 hingga sekarang[iv].

Jadi, fenomena wayang dilihat dari segi kebahasaan bersifat ketat sekaligus longgar, fungsional, akomodatif,inovatif, variatif, improvisasif, proporsional dan artistik karena memungkinkan kita untuk berkreasi lebih dalam penggunaan bahasanya tanpa menghilangkan unsur seni dan keaslian dari makna pewayangan itu sendiri.

2.3       Wayang Sebagai Fenomena Sastra

Kekayan wayang juga menunjukan betapa tingginya nilai literer karya ini sebagai sebuah fenomena sastra. Sebagai sebuah karya sastra, cerita wayang sendiiri memiliki ciri kesastraan yang dominan yaitu ciri estetik. Cerita wayang pada umumnya memuat prinsip estetika dunia timur seperti prinsip keseimbangan, kesatuaan, keteraturan, fokus, variasi, pola kenokohan atau karakterisasi, tidak membedakan pola struktur komedi, menekankan keindahan rasa dan sekaligus menjadi panutan hidup dalam menggambarkan dan memperagakan ciri hidup yang baik[v].

Adapun nilai spiritual yang dapat kita petik dari poin diatas ialah; prinsip keseimbangan menekankan prinsip keteraturan antara yang di atas dengan yang di bawah. prinsip kesatuan memperlihatkan wayang sebagai suatu kesatuan yang padu dan kompleks, prinsip keteraturan, menekankan adanya keteraturan antara manusia dan alam terutama keteraturan dalam keseimbangan. Prinsip pemfokusan terlihat dari simbol-simbol yang diwakilkan. Namun cerita wayang sendiri dapat mempunyai makna dan nilai baru ketika sang dalang dapat memainkan suatu hal dan bentuk yang baru.

2.4       Wayang Sebagai Fenomena Budaya

            Ini dilihat dari perkembangan budaya wayang itu sendiri serta campuran dari budaya-budaya yang berkembang saat itu mulai dari zaman prasejara hingga dewasa ini. Pada zaman prasejarah nenek moyang masih berkeyakinan animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa adanya kekutan roh yang disebut hyang, maka roh itu dipuja untuk dimintai restu atau pertolongan dalam upacara magis-religius. Pemujaan itu dilakuan dalam bentuk “ pentas bayangan”yang dilakukan pada malam hari oleh seorang syaman (sakti) karena merka percaya saat itu roh-roh sedang mengembara.

            Cerita wayang mengambil kisah petualangan nenek moyang dan diperkirakan sudah terjadi pada zaman neolithikum, atau kurang lebih 1500 tahun sebelum masehi. Oleh karena kitab pewayangan belum ditulis, cerita itu berkembang secara turun temurun secara lisan. Cerita ini berkembang sampai sekitar abad ke V ketika masulknya kebdayaan hindu[vi].

            Hingga saat ini cerita wayang banyak mengisahkan kembali tentang berbagai kejadian – kejadian leluhur sebagai suatu kebudayaan baik itu berbuansa islam, hindu ataupun tentang kepercayaan nenek moyang mereka. Hal ini dimaklumi sebagai sebuah sarana untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan yang kiranya sangat berguna bagi penonton.

3.                  Wayang Sebagai Simbol

            Wayang sendiri sebagai seni pertunjukan adalah sesuatu yang kaya akan makna simboliknya. Berbagai makna spiritual dan sosial dapat kita ambil dan kita maknai dari pergelaran seni wayang ini. namun untuk lebih memahami arti dari wayang sebagai simbol sendiri, kita tentunya harus terlebih dahulu mengerti tentang arti dari simbol itu sendiri.

            Dalam buku The Power of Symbols, para ahli mencoba untuk mendefinisikan makna dari simbol itu sendiri. Bagi Whitehead simbol mengacu kepada makna; bago Goethe simbol menggambarkan yang universal; bagi Coleridge simbol berpartisipasi dalam realitas; bagi Toynbee simbol menyinari realitas; bagi Goodenough simbol mendatangkan transformasi atas apa yang harafiah dan lumrah; bagi Brown simbol menyelubungi ke-Allah-an. Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, sebuah simbol dapat dipandang sebagai[vii]:

1)    Sebuah kata atau barang atau objek atau tindakan atau peristiwa atau polaatau pribadi aau hal yan konkret.

2)    Yang mewakili atau menggambarkan atau mengisyaratkan atau menandakan atau menandakan atau menyelubungi atau menyampaikan atau menggugah atau mengungkapkan atau mengingtkan atau merujuk kepada atau berdiri menggantikan atau mencorakan atau menunjukan atau berhubungan dengan atau bersesuaian dengan atau menerangi atau mengacu kepada atau mengambil bagian dalam atau menggelar kembali atau berkaitan dengan;

3)    Sesuatu yang lebih besat atau transenden atau terakhir: sebuah makna, realitas, cita-cita, nilai, prestasi, kepercayaan dll.

Berdasarkan pandangan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa simbol ialah suatu bentuk reprentasi dari sesuatu yang lebih besar dan kaya akan makna baik itu fisik dan nilai.

3.1      Makna Simbolik dari Setiap Unsur Pertunjukan Wayang

Secara terminologi pesan spiritual pada simbol pewayangan dimaknai sebagai nilai luhur yang utuh dan harus disampaikan secara terus menerus. Dalam pertunjukkan seni budaya pewayangan baik wayang kulit ataupun wayang golek pada khususnya, didalamnya terdapat makna dan pesan spiritual yang dijelaskan melalui simbol - simbol pewayangan baik yang ada dibentuk wayang tersebut secara khusus maupun yang ada diunsur panggung pementasan pada umumnya. Karena bentuk dan unsur panggung yang ada pada umumnya bermakna gambaran secara keseluruhan tentang keadaan alam dunia dan alam dan yang ada didalamnya. Simbol sendiri digunakan karena didalamnya terkandung nilai luhur spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan kata – kata.

Adapun maksud dan tujuan penjelasan, dan penanaman nilai luhur tersebut berorientasi mutlak pada perbaikan kehidupan masyarakat manusia secara keseluruhan dan terus menerus dari generasi kegenerasi, agar manusia tersebut secara keseluruhan lebih berbudaya, tertata, dan sesuai dengan nilai – nilai luhur ketuhanan dan kemanusiaan yang utuh. Karena seni dan budaya merupakan jati diri kita yang berkaitan erat dengan peradaban manusia. Inilah hakikat pawarisan budaya, bukan hanya menjaga bentuk utuh seni dan budaya serta simbol saja, tetapi yang mutlak harus kita jaga adalah nilai luhur spiritual ketuhanan dan kemanusian yang tetap utuh dari generasi kegenerasi dalam proses transformasi seni dan budaya. tidak hanya dijadikan tontonan tetapi jadikan tuntunan. unsur didalamnya haruslah komplit walaupun beda bentuk tetapi maknanya sama.

Misalnya di dalam pertunjukan seni wayang purwa, setiap penonton akan menyaksikan blencong, kelir, dalang, wiraswara, sinden, wiyaga, dan gamelan, dan wayang. Dari setiap unsur dalam pertunjukan wayang purwa itu memiliki makna simbolik. Berikut adalah makna simbolik dari setiap unsur dalam pertunjukan wayang[viii]:

1)        Blencong

Blencong (lampu untuk pertunjukan wayang di malam hari) yang digantung di atas kepala dalang untuk memberikan pencahayaan pada kelir bermakna simbolik sebagai cahaya kehidupan atau matahari bagi dunia. Dengan demikian, blencong yang menyala itu memberikan petunjuk bahwa kehidupan tengah berlangsung. Bila blencong padam, maka berakhirlah kehidupan.

2)        Kelir

Kelir adalah layar putih yang membentang di antara dua deretan wayang. Pada kelir tersebut, seorang dalang akan memainkan wayang-wayang. Secara simbolik, kelir bermakna sebagai alam dunia, dimana seluruh wayang (seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan, antara lain: manusia, binatang, atau tumbuhan) tengah melakukan aktivitasnya atau melangsungkan kehidupannya.

3)        Dalang

Dalang adalah seorang yang memainkan wayang-wayang pada sebentang kelir. Secara simbolik, dalang dimaknai sebagai penggerak kehidupan wayang-wayang. Dengan demikian, dalang dapat dimaknai sebagai roh (rah/darah) atau nyawa (hawa) yang menggerakkan raga (wayang). Namun terdapat persepsi lain yang mengatakan, bahwa dalang disimbolkan sebagai Tuhan terhadap wayang-wayang yang merupakan simbol makhluk ciptaannya.

4)        Wiraswara, Sinden, Wiyga, dan Gamelan

Wiraswara, Sinden, Wiyaga, dan Gamelan dalam pertunjukkan wayang purwa tidak memiliki makna khusus secara simbolik. Sekalipun keberadaan Wiraswara, Sinden, Wiyaga, dan Gamelan hanya sebagai pelengkap sekunder dalam pertunjukan wayang purwa; namun dapat menjadi faktor pemikat pada setiap penonton. Dengan demikian; Wiraswara, Sinden, Wiyaga, dan Gamelan dapat dimaknai sebagai garam di dalam kehidupan wayang.

5)        Wayang

Wayang adalah boneka-boneka yang dibuat dari kulit kerbau. Melalui seorang dalang, wayang-wayang tersebut dimainkan dengan latar belakang kelir di panggung kehidupannya.Wayang dimaknai sebagai bayangan yang dapat ditangkap oleh penonton dari belakang kelir. Namun dalam perkembangannya, pertunjukan wayang ketika dimainkan kini disaksikan oleh penonton dari depan kelir. Sehingga wayang tidak lagi dimaknai sebagai bayangan, melainkan figur makhluk Tuhan itu sendiri.

3.2              Wayang sebagai Simbol Teladan

Melalui wiracarita Ramayana dan Mahabarata dapat diketahui bahwa wayang merupakan simbol dari makhluk Tuhan (salah satunya manusia) yang berkarakter baik (protagonis) dan berkarakter jahat (antagonis). Di dalam naskah Ramayana, wayang-wayang yang berkarakter baik adalah pengikut Rama Wijaya (Raja Ayodia). Sebaliknya, para pengikut Rahwana (Raja Alengka) diklaim memiliki karakter jahat

Sementara dalam naskah Mahabarata, wayang yang berkarakter baik diklaim sebagai pengikut Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) dari Amarta.Sebaliknya, wayang berkarakter jahat adalah pengikut Korawa (Duryudana dan 99 adiknya) dari Hastinapura. Sekalipun terdapat tiga tokoh yang berpihak pada Hastinapura seperti Resi Bisma, Baladewa, dan Karna berkarakter baik.

Berangkat dari setiap tokoh wayang memiliki karakter, maka pertunjukan wayang memiliki tujuan tidak hanya sebagai tontonan (hiburan), namun pula sebagai tuntunan (pembelajaran) yang sarat dengan tatanan (pakem) bagi setiap penonton[ix]. Dengan demikian sesudah menyaksikan pertunjukan wayang, seorang penonton arif akan meneladani laku hidup dari setiap tokoh wayang yang berkarakter baik.

Terdapat banyak tokoh wayang berkarakter baik. Namun saat ini, saya mencoba untuk menampilkan delapan tokoh wayang baik dari wiracarita Ramayana maupun Mahabarata sebagai figur yang layak untuk diteladani. Kedelapan tokoh wayang tersebut adalah sebagai berikut:

a)      Yudistira 

Sebagai putra Sang Hyang Bathara Darma, Yudistira yang dikenal dengan nama lain Puntadewa, Samiaji, Wijakangka, atau Darma Kusuma tersebut memiliki sifat dermawan atau di dalam istilah Jawa sering disebut dengan lila donya lan pati. Selalu mengikhlaskan harta, benda, dan bahkan kematiannya sendiri, jikalau ada orang lain yang menghendaki.

b)     Kresna

Sebagai titisan Sang Hyang Bathara Wisnu, Kresna memiliki sifat memelihat alam semesta (hamemayu hayuning bawana). Selain itu, Kresna dikenal sebagai seorang politikus cerdas dan bijak; memiliki kesaktian tak tertandingi karena memiliki pusaka Cakra Baskara, dapat menghidupkan orang mati sebelum waktunya karena memiliki pusaka Kembang Wijayakusuma, dan mampu mengetahui segala sesuatu bakal terjadi karena memiliki pusaka Kaca Paesan.

c)      Baladewa

Baladewa merupakan putra dari Prabu Basudewa dari Kerajaan Mandura. Baladewa yang memiliki nama kecil Kakrasana itu memiliki adik bernama Narayana (Kresna) dan Lara Ireng (Subadra). Sekalipun dikenal memiliki sifat emosional, namun Baladewa yang dikenal dengan nama Balarama (pengikut ajaran Rama Wijaya sesudah mendapatkan pusaka Mahkotarama) memiliki sifat tegas dan jujur.

d)     Karna

Karna merupakan putra Kunti Nalibrata yang lahir dari benih Sang Hyang Bathara Surya. Sekalipun Karna merupakan kakak sekandung dari Puntadewa, Bima, dan Arjuna; namun tidak memiliki jalinan fisik yang dekat dengan saudara-saudaranya.Hal ini dikarenakan sewaktu bayi merah, Karna yang bernama kecil Suryatmaja (putra Surya) itu dijauhkan dari Kunti oleh Basudewa dengan dibuang di Sungai Aswa (Mahabarata) atau Sungai Swuligangga (Pewayangan Jawa). Di samping itu, kepahlawanan Karna dalam Baratayuda tidak bertujuan untuk membela Korawa yang dianggap salah, namun membela janji dan bumi Hastinapura yang telah memberi kehidupan baginya.

e)      Bisma

Sebagai seorang pertama, Bisma memiliki sifat arif dan bijaksana. Karenanya sewaktu terjadi perang Baratayuda, Bisma yang menjadi panglima perang dari Kerajaan Hastinapura itu tidak membela Korawa, melainkan membela tumpah darahnya. Prinsip keksatriaan Bisma itu sejalan dengan prinsip keksatriaan Adipati Karna (Mahabarata) atau Kumbakarna (Ramayana).

f)       Bima 

Bima yang bertubuh tinggi besar dengan suara besar menggelegar itu memiliki sifat pemberani, jujur, dan kokoh dalam pendirian.Sekalipun tidak memiliki IQ yang tinggi, namu Bima memiliki EQ yang hebat. Sehingga Bima memiliki sifat yang baik untuk selalu menghargai pada sesama dan melindungi rakyat kecil.

g)      Arjuna

Arjuna yang memiliki nama lain Janaka, Wijanarka, Permadi, atau Margana terseburt merupakan putra Kunti yang lahir berkat benih Sang Hyang Bathara Indra (dewa air). Dengan demikian, Arjuna masih merupakan saudara sekandung dengan Karna, Puntadewa, dan Bima. Selain sakti mandraguna, Arjuna dikenal sebagai ksatria yang memiliki sifat lembut, arif, dan dermawan. Karena sifat-sifat baiknya itu; maka empat punakawan yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong lebih dekat dengan Arjuna ketimbang dengan keluarga Pandawa lainnya.

h)     Sadewa

Sebagai titisan dari Bambang Sukaca, Sadewa memiliki sifat cerdas dan mengetahui sesuatu yang bakal terjadi (ngerti sadurunge winarah). Dengan kelebihannya itu, Sadewa sering dimintai pendapatnya oleh Prabu Yudistira di dalam menjatuhkan suatu keputusan. Oleh para putra Pandawa, Sadewa sering dijadikan panutan karena nasihat-nasihat dan perilakunya yang baik.

Penutup

Wayang adalah sebuah produk kesenian yang sangatlah kompleks. Di dalamya terdapat sebuah unsur-unsur kesenian; musik, drama, suara, gerak dll. Hal ini sebenarnya mau menunjukan bahwa wayang bukanlah sebuah pertunjukan semata melainkan sebuah produk kebudayaan yang sarat akan makna. Didalam pewayangan, kita dapat menimbah nilai, dan makna simbolis yang tersaji. Melalui pementasan, alur dan tokoh pewayangan kita diajak untuk kembali melihat realitas disekitar kita. sadar akan tingkah laku kita kepada sesama, alam maupun Tuhan. Sebagai manusia yang berbudaya, kita diajak untuk selalui mencintai setiap kesenian yang ada di lingkungan kita serta mampuh menggali nilai terdalam dari setiap produk kesenian itu sebagai sebuah jalan untuk hidup yang lebih baik.

 

Catatan-catatan



1 https://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit 06/03/2020.

2 Burhan Nurgiyantoro, Tramsformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm. 24.

3 Burhan Nurgiyantoro, Tramsformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm. 39.

4 Burhan Nurgiyantoro, Tramsformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm.25.

5 Burhan Nurgiyantoro, Tramsformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm.29.

6 Burhan Nurgiyantoro, Tramsformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm.33.

7 F. W. Dilistone, Daya Kekuatan Simbol; The Power of Symbols (Yogyakarta: kanisius, 2002), hlm. 20.

8 Sri Wintala Achmad, mengenal symbol keteladanan wayang dalam jagad pewayangan, https//www.Kompasiana.com/achmad eswa/ 5aa76dffcf01b40cd558f063 / mengenal-simbol-dan-keteladanan-dalam-jagad-pewayangan? page=all. Diunduh 04 Maret 2020.

9  https://jagad.id/tokoh-wayang-kulit-sifat-dan-gambarnya// diunduh pada tanggal 06 Maret 2020.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR

  MENGENAL LEBIH DEKAT SUKU ATONI DI TIMOR   Hakikat Atoni meto (orang Timor/Dawan) [1] Suku Atoni merupakan etnis asli Timor yang mendiami bagian Barat dan tengah Pulau Timor. Tempat tinggal atau permukiman mereka adalah tanah kering dan berbukit-bukit gundul, seperti di kefetoran Amarasi, Fatu Leu, Amfoan, Mollo, Amanuban, Amanatun, Miomafo, Insana dan Beboki. Jumlah populasinya sekitar ±500.000 jiwa. Orang Atoni mempunyai bermacam-macam sebutan. Orang Tetun menyebut mereka orang Dawan, Orang Bunak menyebut mereka Rawan, penduduk di kota Kupang menyebut mereka Orang Gunung. Istilah Atoni diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “orang”, sedangkan istilah meto tidak diterjemahkan.Cara demikian sudah dilakukan, antara lain bagi suku bangsa tetun. Hanya istilah ema dari kata majemuk ematetun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terbentuk istilah suku bangsa tetun. Penggunaan istilah meto itu sekaligus dapat mengakhiri kesimpangsiuran penanaman suku bangs...

FILSAFAT PANCASILA

  FILSAFAT PANCASILA PENGANTAR             Berbicara mengenai Bangsa Indonesia berarti kita tidak bisa lepas akan dua unsur besar dan penting di dalamnya. Yakni Nusantara dan Pancasila. Nusantara adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebelumnya wilayah nusantara memiliki luas yang begitu besar hampir semua di bentangan Asia Tenggara. Namun kini, jika disebut nusantara berarti arahnya adalah Indonesia. Secara umum, studi Filsafat Nusantara   adalah salah satu penyadaran akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. [1]             Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai    sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, p...

definisi budaya menurut para ahli

  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN A.     PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalankan hidupnya. Lingkup tempat manusia ini bersosialisasi   kemudian kita namakan sebagai lingkungan sosial. Dalam lingkup sosial, manusia membentuk apa yang kita sebutkan sebagai budaya. Hal ini terjadi akibat adanya peradaban. Sebelum kita melangkah lebih jauh melih at defenisi dari para ahli tentang budaya, baiklah kita mengetahui bagaimana budaya dirumuskan dari asal katanya. Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata budhayah (merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki pengertian budi, akal, atau hal yang berkaitan dengan akal. Adapun kata “ budaya “, merupakan bentuk jamak dari kata budi-daya , yaitu daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Maka, hasil dari cipta, rasa, dan karsa tersebut diistilahkan dengan kebudayaan . Kebudayaan ...